Social Icons

Senin, 09 September 2013

Biennale Jogja XII : Perjumpaan Indonesia Dengan Negara – Negara Arab


Interaksi antara Indonesia dengan Negara – negara Arab sudah berlangsung sejak abad ke-7 ketika jalur pelayaran internasional yang ramai melalui Selat Malaka terbentuk. Jalur tersebut menghubungkan kebudayaan – kebudayaan yang berbeda ( antara lain Cina, Sriwijaya dan Bani Ummayah ). Penyebaran Kebudayaan Arab dan Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah persentuhan masyarakat lokal dengan Islam, melalui Kebudayaan Arab pada masa itu, melatari terbentuknya Indonesia – negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia saat ini.
Sekarang, isu – isu hubungan Indonesia dan Negara – negara Arab menjadi semakin penting didiskusikan. Dalam konteks kebudayaan global, perkembangan seni rupa kontemporer di Arab dan Asia Tenggara justru menjadi faktor yang paling menonjol untuk dijadikan sebagai  motif pembangunan hubungan yang lebih erat dan mendalam diantara kedua kawasan tersebut. Kedua kawasan tersebut bukanlah bagian dari wilayah arus utama seni rupa modern yang berpusat di Eropa dan Amerika. Menyusul perubahan – perubahan ekonomi dan politik global, muncul kesadaran baru diantara para pelaku seni wilayah – wilayah non pusat, termasuk Asia Pasifik dan Arab untuk melakukan inisiatif – inisiatif dalam bentuk kegiatan pameran internasional, art fair, dan program – program residensi seniman yang pada akhirnya membentuk topografi baru seni rupa internasional.
Seni rupa kontemporer di Indonesia dan Negara – negara Arab memiliki potensi sebagai suatu kategori baru yang menyela stereotip – misalnya ' Seni Rupa Negara – negara Islam ' – yang selama ini dihasilkan oleh sistem representasi dominan yang berlaku dalam medan seni rupa global.
by Facebook Comment

Fenomena Mudik dan Silaturrohmi Lebaran

 
Dalam perjalanannya untuk mencapai Piramida Mesir, Santiago bocah pengembara itu berjumpa dengan pedagang kristal di Pasar Tangier.
            “ Bapak tidak pernah bermimpi berkelana ? ” tanyanya lugu pada pedagang yang sepanjang harinya hanya menjalani hari – harinya di toko kristalnya. Sebagai Muslim, pedagang itu mengaku punya keinginan sekaligus kewajiban besar untuk pergi ke Mekah, tempat yang digambarkannya pada bocah itu. Jauh lebih bermakna dari Mesir. Itulah sebab, ia tiap hari banting tulang untuk mengumpulkan uang dan rela hidup irit. Kini ia sudah kaya, lalu kenapa pula ia tidak pergi ke Mekah ?.
            “ Justru pikiran tentang Mekah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat mengarungi hari – hari yang sama belaka : menghadapi kristal – kristal bisu di rak dan sanggup makan siang dan malam di warung jelek yang itu – itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tidak punya lagi alasan untuk hidup “, demikian jawaban si pedagang.

by Facebook Comment

Minggu, 08 September 2013

Maizena



“ Nasi Putih terhidang di meja, siapakah penanamnya ?!. Panas terik tak dirasa, hujan rintik tak mengapa, … “
Nyanyian dari TVRI tempoe doeloe selalu terngiang, ketika aku melintasi kampungku.
Terpana. Dahulu ketika negeri ini ditarik garis agraris juga maritim, betapa gemah ripah loh jinawi, kondhang klangkung manis. Entah mengapa setiap orang asing yang masuk ke negeri kami, aku selalu ada semacam keterikatan mungkin juga kedekatan batin. Ikatan yang begitu kuat.
Ruang dan waktu telah berubah. Era industrialisasi ini, aku masih terpaku menatap hamparan sawah. Wong – wongan sawah sibuk menghalau burung demi burung. Suara berterbangan. Terngiang lagi lagu dari TVRI. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, masuk lagi telinga kiri. Begitu seterusnya sampai telinga gatal – gatal. Mungkin Kunti akan melahirkan Karna demi Karna lagi, sementara alam tetap perawan dijagai para dewa.
Pada Ladang Jagung Hibrida bisi 2, kulit Jagungnya disebut Klobot. Lintingan klobot dari tangan – tangan perempuan. Dilekatkan liur Roro Mendut. Lintingan Rokok Klobot. Sejarah cinta Roro Mendut dan Pronocitro. Roro Mendut menjadi ikon Rokok Klobot di masa lalu. Ah, bibirnya !. Sekarang menjelma Sales Promotion Girl produk rokok di era industrialisasi. Perempuan tetap saja menjadi objek.
Rambut pirang Jagung. Mengingatkanku pada Bule Amsterdam. Aku selalu penasaran dengan rambut pirangnya, baunya, pigmentasi dan pori – pori kulitnya, yang besar, renggang juga bibirnya. Ya, bibirnya.
by Facebook Comment

17 Agustus Tahun Anu


Manusia – manusia Jawa gemar beritual berupacara sebab hidup adalah
prosesi upacara. Ku buka kalender besar pada dinding ruang tamu yang
kecil, tak ada benar – benar tak ada angka – angka yang disakralkan itu.
Ku bolak – balik kalender agar waktu luwes terhadap sgala perhitungan,
penambahan, penyusutan. Di ruang ini berharap sejarah bertamu, mereka
mengenakan pakaian kebesaran mereka meneriakkan ; “ merdeka ! “
tapi mereka kebingungan, bayangan celingukan seolah angka – angka
hampa tak pernah menautkan “ merdeka “ itu.
Sejarah memang bertamu tapi terasa compang – camping waktu
waktu yang tambal sulam mengelabuhi angka – angka yang kau anggap
mistis itu.
Sejarah memang bertamu tapi slalu kau diamkan saja. Sibuk melipat -
lipat bayangan. Memang orang sudah pandai berhitung pandai berpartai
politik pandai melebih – lebihkan pandai bercerita pandai berkata ;
merdeka ! “.
“ Merdeka ! “ igauan sejarah
“ Merdeka atau mati ! “ igauan tetangga sebelah
“ Merdeka atau mimpi “
seolah kemerdekaan itu fenomena tindihan erep – erepan.
by Facebook Comment

Open House


Bayang – bayang siapa yang kembali dari kesunyian tunas – tunas meranggas,
berkecambah dalam gelap mereka bercakap
“ Akan ku nyalakan bayang – bayang untukmu “
Rumah sederhana ini masih muat menampung gelap dan terang, pikiran tak waras,
was was. Mampir mapirlah tak usah bawa oleh – oleh. Kita hanya perlu berbincang
tentang hidangan Al Maidah tentang rasa damai dipinggir – pinggir piring gelotekan,
dalam meja hidangan seolah mereka menjelma kanak – kanak lucu. Ya, piring – piring
itu. Saling bersuapan waktu waktu membuat segalanya merabun.
“ Akan ku nyalakan bayang – bayang untukmu “
by Facebook Comment

Selasa, 30 Juli 2013

Hukum Gossen 1 Dalam Bubur Kacang Ijo Madura



Kuliner Khas Nusantara
Berangkat sama malamnya, aku dan bayangan mengitari Yogya. Perut mulai lapar. Ada yang lekas ramai, lalu lintas kota. Diseberang gang agak jauh, polisi tidur lebih dipatuhi pengendara ketimbang rambu – rambu lalu lintas ataupun polisi berseragam sendiri. Malam melewatinya pelan – pelan. Didekat perempatan aku berhenti. Gerobag dorong dengan tenda dan kain penutup Kuning bertulis, “ Sedia Bubur Kacang Ijo Es Kacang Ijo Madura “ membuatku berhenti, bukannya traffic light.
Ada 2 tipe warung Bubur Kacang Ijo ( Burjo ), model gerobag dorong seperti yang kulihat, buka dari jam 17.00 – 23.00 WIB dipinggir jalan dan warung permanen ( semacam Warung Tegal, Warteg ) yang tidak hanya menyediakan Burjo tetapi juga mie rebus, gorengan, makanan dan minuman yang murah meriah khas kota Pelajar. Kalau yang ini, biasanya buka 24 jam. Jika diperhatikan, terdapat kesamaan antara Warung Burjo dan Angkringan.




by Facebook Comment

Tradisi Ramadhan ; Tadarus Al Qur'an


Tradisi Ramadhan 1 ; Tadarus Al Qur'an di Kampungku

Tradisi Ramadhan
Setiap menjelang Ramadhan suasana menjadi marak. Baik dari segi dan dimensi spiritual, sosial kemasyarakatan, seni budaya, ekonomi, politik, kesehatan, kriminalitas. Marak, karena kesemua itu berkorelasi. Walaupun toh, pada waktu - waktu lainnya juga begitu tapi Ramadhan mempunyai nilai beda tersendiri. Meriah secara fisik ( seperti festival ), emosional dan spiritual secara bersamaan.
Harga daging Sapi yang meroket di pasaran hingga berkisar Sembilan Puluh Ribu Rupiah sampai Seratus Sepuluh Ribu Rupiah per kilo gramnya. Entah sengaja " dibuat " untuk menyambut Ramadhan ataupun faktor lainnya. Yang jelas, seharusnya harga - harga kebutuhan pokok dapat diprediksikan dan dikendalikan. Tidak ada " Invisible hands ", melainkan perencanaan ekonomi yang matang dari pemerintah. Akhir – akhir ini memang, Indonesia lebih cenderung bergerak kearah Ekonomi Neo Liberal.
Tapi sudahlah, daripada mengurusi Sapi yang tak habis persoalannya, dapatkah kau dengar itu ?!.
by Facebook Comment

Pertautan Study Islam dan Antropologi [ 2 ]


Oleh M. Amin Abdullah

Keynote Speecher, disampaikan dalam Dialog Kebudayaan, LPM Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 15 Januari 2011

Keempat, comparative. Studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya, dan agama – agama. Talal Asad menegaskan lagi disini bahwa, “ What is distinctive about modern anthropology is the comparisions of embedded concepts ( representation ) between societies differently located in time or space. The important thing in this comparative analysis is not their origin ( Wastern and Non-Wastern ), but the form of life that articulate them, the power they release or dissable “ ( Talal Asad. Formations of The Secular : Christianity, Islam, Modernity. Stanford, California : Stanford University Press, h. 17 ).
Setidaknya, Cliffort Geertz pernah memberi contoh bagaimana dia membandingkan kehidupan Islam di Indonesia dan Marokko. Bukan sekedar untuk mencari kesamaan dan perbedaan, tetapi yang terpokok adalah untuk memperkaya perspektif dan memperdalam bobot kajian. Dalam dunia global seperti saat sekarang ini, studi komparatif sangat membantu memberi perspektif baru baik dari kalangan insider maupun outsider ( Fazlur Rahman, 1985. “ Approaches to Islam in Relegious Studies : Review Essay “. Dalam Richard C. Martin [ Ed. ], Approaches to Islam in Relegious Studies. Tucson : The University of Arizona Press, h. 196. Juga Kim Knott. “ Insider Outsider Perspective “ dan John R. Hinnells, 2005. The Routledge Companion to Study of Religion. London and New York : Routledge, h.243-255 ).
by Facebook Comment

Pertautan Study Islam dan Antropologi [ 1 ]


Benarkah Ada Bid'ah Dalam Kebudayaan ? :
Pertautan Dirasat Islamiyyah ( Study Islam ) dan Antropologi

Agama selalu mencakup dua entitas yang tidak dapat dipisahkan tetapi bisa dibedakan. Yaitu normativitas ( teks, ajaran, beliefs, dogma ) dan juga historisitas ( praktik dan pelaksanaan ajaran, teks, beliefs, dogma tersebut dalam kehidupan konkret di lapangan, seperti di lingkungan kehidupan komunitas ( organisasi sosial keagamaan, organisasi profesi ), masyarakat pedesaan ( rural ) atau masyarakat perkotaan ( urban ), situasi konteks politik ( rezim pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi ), jaman yang berbeda ( abad tengah, modern, post modern ), tingkat pendidikan yang berbeda ( Pesantren, MI, MTS, Aliyah, atau SD, SMP, dan SMA dan lebih - lebih S1, 2, dan 3 di perguruan tinggi dan otodidak ), pelatihan atau training ( halaqah, tarbiyah, pengajian majlis taklim ), pendidikan umum dan pendidikan agama, pesantren kilat dan begitu seterusnya. Bahkan sekarang ada yang merasa cukup lewat internet, situs - situs, e book dan begitu seterusnya.
 
Nyadran, Tradisi Menyambut Ramadhan
Studi Agama dan Studi Islam kontemporer perlu memperhatikan dua entitas tersebut dengan cermat, sehingga para dosen, mahasiswa dan peminat studi agama dan studi Islam tidak terkejut - kejut dan tidak perlu kecewa. Apalagi marah - marah meluapkan emosi, jika terjadi dan menjumpai " perbedaan tafsir keagamaan " pada level historisitas, meskipun idealnya memang tidak perlu adanya perpecahan karena bersumber dari sumber ajaran normative yang sama, yaitu teks - teks dan nash - nash Al Qur'an dan Al Sunnah. Realitas seperti ini berlaku untuk semua penganut - penganut agama besar dunia, baik yang Abrahamik ( Yahudi, Kristen, Islam ) maupun agama - agama non Abrahamik ( Hindu, Budha, Konghucu, Sikh, Bahai dan lain - lain ), serta tradisi - tradisi atau agama lokal yang lain selain yang disebut diatas.
by Facebook Comment

Radio MBS : Irama Gangga


Radio MBS Jogja
Program " Irama Gangga " merupakan program dari MBS, sebuah 
radio lokal di Jogja yang mulai mengudara sejak tahun 1980-an dan 
masih eksis sampai sekarang. Program ini tidak melulu membahas 
tentang musik dan film, namun juga Budaya India itu sendiri. Riset 
projek ini membawa kami pada ' sub kultur ' baru atas konsumsi 
budaya populer India di Indonesia. Para penggemar Irama Gangga 
ini tidak sebatas mengonsumsi, bahkan memproduksi pengetahuan 
baru. 
Program ini menjadi semacam pusat study budaya populer India. 
Mereka melakukan pengarsipan data ( koleksi sejarah ), mempelajari 
Bahasa India lewat film hingga menghasilkan kamus, bahkan 
beberapa mengidentifikasikan diri mereka melalui gaya berpakaian 
dan nama alias " India ". Semua dilakukan dengan cara yang unik 
 dan jelas organik.
by Facebook Comment

Minggu, 23 Juni 2013

Film A Beautiful Mind, Simbah dan Triyanto Triwikromo

Film A Beautiful Mind, Simbah dan Triyanto Triwikromo1

Triyanto Triwikromo, Penerbit Kompas, Kumpulan Cerpen
Menautkan tiga bentuk seni ( film, cerita pendek dan puisi ) dalam sebuah tulisan sangat mungkin dilakukan, pendekatan melalui tema salah satunya. Misal dalam bentuk wayang dan film yang merupakan kesenian bermuatan kompleks. Mulai dari dramatisasi, cerita, musik, gambar, tata cahaya, penokohan dan lainnya. Berangkat dari realitas penulis sendiri, saya mencoba menautkan film A Beatiful Mind, cerita pendek “ Cinta Sepasang Kupu - kupu “ dalam kumpulan cerita pendek “ Sayap Anjing “ karya Triyanto Triwikromo dan sebuah puisi “ Ode Untuk Simbah karya Panji Cybersufi untuk dibongkar, dikritisi dan ditulis ulang. Pertautannya dalam tema Schizophrenia.
Schizophrenia adalah gangguan kejiwaan serius, dimana penderita kehilangan kontak dengan realitas, mengalami halusinasi serta keterbatasan emosional, delusi atau mempercayai hal – hal yang sebenarnya keliru, berkurang motivasinya dan tidak dapat bertingkah laku normal dalam kehidupan sehari – hari. Semakin dini usia seseorang terkena Schizophrenia, semakin besar kemungkinan rusaknya kepribadian dan kemampuannya untuk hidup normal. Oleh karena itu penderita Schizophrenia, bisa membahayakan orang lain karena ilusi dan delusi yang tak terkendali. Realitas tersebut melatar belakangi Triyanto menulis cerita,
by Facebook Comment

Sabtu, 22 Juni 2013

Radio ; Antara Imajinasi dan Visualisasi


 
Radio kuno
Radio Transistor
" Banyaklah mendengar ", begitulah pepatah bijak mengatakan. Tahun 80-an sampai dengan awal 90-an merupakan fenomena booming nya sandiwara radio. Maklum tahun tersebut belum banyak stasiun tv swasta yang mengudara, tak pelak TVRI adalah satu - satunya stasiun sebagai hiburan, informasi dan edukasi. Sedangkan radio berada pada masa jayanya dalam mengambil kesempatan sebagai media hiburan, informasi dan edukasi yang merakyat.
Sandiwara radio menjadi primadona acara, disiarkan lebih dari 512 stasiun yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia ( PRSSNI ). Naskah cerita yang ditulis secara apik, keprofesionalan serta kekhasan pengisi suara menimbulkan imajinasi pendengar. Dari bunyi - bunyian yang ditimbulkan, pendengar membangun imajinasi visual masing - masing.
by Facebook Comment

Apresiasi Terhadap Seni Tatoo


Tatoo, Muslim dan tatoo
Arabic Henna Art
Perkembangan Seni Tatoo yang terjadi di masyarakat Barat, jika ditinjau dari akar seni tradisionalnya sebenarnya dipengaruhi oleh tradisi budaya dari Indonesia. Di Mentawai 1 misalnya, masyarakat telah lama mengenal tatoo, karena banyak masyarakat Vietnam hidup disana dan mengenalkan tatoo. Begitu juga di Jawa, tatoo berjenis tribal telah dikenal sebagai seni tradisional yang telah ada pada jaman dahulu.

“ Namun sebagai seni modern yang popular, tatoo banyak dikembangkan di dunia barat, hal ini berkaitan dengan berkembangnya juga dunia industri termasuk dalam Seni Iatoo itu sendiri “, jelas Laine Berman, Phd seorang Arkheolog Amerika yang juga pengamat Budaya Jawa.

Lebih lanjut dikatakan, kalau dilihat dari kaca mata seni, tatoo perlu diapresiasi. Di Amerika sendiri Seni Tatoo sangat dihargai karena memang apresiasi masyarakat disana lebih mengarah pada seni. Masyarakat Amerika tidak berpikiran negatif terhadap Seni Tatoo karena hampir rata – rata masyarakatnya menjadikannya sebagai identitas dirinya, oleh karena itu perkembangan tatoo sangat pesat.
Sementara di negara – negara berkembang termasuk Indonesia, hanya sedikit yang mampu menjadikan tatoo sebagai simbol karakter diri . Situasi seperti ini menempatkan tatoo sebagai unsur negatif 2. Masyarakat Indonesia belum mampu melihat tatoo sebagai sebuah seni. Masyarakat Indonesia jangan terlalu dipaksakan unttuk sebuah hal liberal yang belum tentu masyarakat memahami arti liberal itu sendiri.
by Facebook Comment

NIAS : Potret Sebuah Masyarakat Tradisional III


; Sebuah Peta Kultur Megalitik

Pola Pemukiman, Arsitektur dan Sistem Kepercayaan

Perwujudan nyata dari budaya dan kehidupan Zaman Megalitik di Nias ( terutama di Nias Selatan ) dapat dilihat masih lengkap hingga sekarang ini 10. Sering upacara serupa diselenggarakan dan dilakukan secara bersama – sama yang terdiri dari beberapa banua 11 disebut Ori. Saat itu juga upacara keagamaan berlangsung dengan menceritakan mitos kejadian ( kosmogoni dan etnogoni ), tentang pohon kehidupan, tentang dunia atas dan dunia bawah, tentang roh leluhur. Upacara dipimpin oleh ere, atau imam. Selama upacara berlangsung orang tidak boleh bekerja di ladang, dan perang antar suku ( banua ) atau desa dihentikan.
Kepercayaan kepada roh leluhur merupakan salah satu yang paling sentral dalam kehidupan Masyarakat Nias. Roh ini dipuja dan dihormati, sekaligus ditakuti. Kita dapat temukan begitu banyak patung – patung nenek moyang ( adu zatua ) yang didewakan terbuat dari batu yang monumental disetiap desa tua di Nias yang dipuja dan disembah.
Terdapat rumah tradisional yang besar, omo hada, terutama rumah raja dan struktur banua ( desa ) yang merupakan refleksi dari makro kosmos 12. Rumah dan pilarnya dibuat secara cermat dengan arsitektur yang sangat estetik ( berbentuk perahu ) hingga ke atapnya yang menjulang tinggi hingga 20 meter. Ditengah Desa Bawomatoluo ( Nias Selatan ) terdapat omo gorahua ( balai ) sebagai tempat berbagai upaacara dan ritual keagamaan disertai dengan berbagai bentuk nyanyian dan tarian. Upacara keagamaan seperti Owasa terkait erat dengan pesta peneguhan prestige tingkat sosial dan gelar, “ Feasts of merit “ , untuk itu dibuat bangunan monolitik sebagai batu peringatan bahwa pemiliknya pernah menyelenggarakan pesta tadi.
Di pulau – pulau batu dan Nias Selatan kita bisa lihat kursi mahligai dengan sandaran tangan dan punggung yang diukir berupa manusia dan buaya ( antropomorphi dan zoomorphi ). Juga terdapat lukisan dan pahatan nenek moyang dikedua lapisan belanga.
Desain interior rumah adat di Nias Selatan terdiri dari kamar ( ruang ) untuk bersama ( komunal ), terdapat ruang tidur bagi anak lelaki yang belum menikah, dan kamar bagi yang sudah menikah. Di Nias Utara misalnya di Onolimbu, berbentuk bundar dengan pola pemukiman yang sama dengan Bawomatoluo.
by Facebook Comment

Senin, 13 Mei 2013

Eyang Subur dan Iklan Klenik


Kasus Eyang Subur dan Adi Bing Slamet terus mendapatkan porsi lebih dalam pemberitaan, baik infotainment maupun pembahasan yang lebih serius. Dikaitkan dengan mistik, klenik, santet, penipuan, poligami bahkan aliran sesat. Media mempunyai peluang besar membuat ' lawakan ' ini menjadi trending topic dan menempati rating tinggi ( perlukah survey ?! ).
Klenik dalam istilah Jawa merupakan sesuatu yang tersembunyi atau hal yang dirahasiakan untuk umum. Sedangkan ilmu klenik adalah pengetahuan yang menjelaskan hal – hal yang ghaib
( Wikipedia ). Dalam definisi lain, klenik juga dapat diartikan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan akan hal – hal yang mengandung rahasia dan tidak masuk akal ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989 : 409 ).
Klenik berbeda dengan mistik. Mistisisme lebih global dan luas mencakup pembahasan tentang hal – hal gaib, sedangkan klenik bagian dari mistisisme. Mistisisme berasal dari Bahasa Yunani “ Meyein “, yang berarti menutup mata. Mistik merupakan sub sistem yang berada dalam hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf, suluk, hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa. Seturut dengan pengertian tersebut, dalam Ensiklopedia Nasional, mistik diartikan sebagai suatu proses yang bertujuan memenuhi keinginan atau hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan bersatunya emosi dengan Tuhan atau kekuatan transenden lainnya.
by Facebook Comment

Lawu dan Jalak Gading


Gunung Lawu, Gunung di Jawa
Seperti ingin mendaki kembali, tetapi dalam nuansa berbeda. Sebagai Homo Symbolicum, Homo Educondum. Teringat masa Sekolah Menengah Atas ( SMA ), kegiatan mendaki gunung diidentikkan dengan Pecinta Alam1 ( baca ; Siswa Pecinta Alam--- Sispala, Pelajar Pecinta Alam--- Papala ). Para remaja yang selalu mencari jati dirinya, masih bersemangat ingin mengukur diri dengan kekuatan alam.
“ Puncak atau mati, keduanya ; ku taklukkan ! “ begitulah kira – kira semangat itu.
Sejak Prof. G.H.R. Von Koenigswald ( Arkheolog Jerman ) menemukan fosil rahang bawah Pithecantropus Erectus, salah satu spesies dalam taxon Homo Erectus2 di Situs Karanganyar, Sangiran ( kaki Gunung Lawu, 17 kilo meter dari Solo ), pencarian mengenai asal – usul manusia menemukan rentetan babak baru. Memperkuat Teori Evolusi Darwin3. Walaupun sampai sekarang terus merangsang perdebatan, khususnya tentang missing link dari teori evolusi tersebut.
by Facebook Comment