Social Icons

Minggu, 23 Juni 2013

Film A Beautiful Mind, Simbah dan Triyanto Triwikromo

Film A Beautiful Mind, Simbah dan Triyanto Triwikromo1

Triyanto Triwikromo, Penerbit Kompas, Kumpulan Cerpen
Menautkan tiga bentuk seni ( film, cerita pendek dan puisi ) dalam sebuah tulisan sangat mungkin dilakukan, pendekatan melalui tema salah satunya. Misal dalam bentuk wayang dan film yang merupakan kesenian bermuatan kompleks. Mulai dari dramatisasi, cerita, musik, gambar, tata cahaya, penokohan dan lainnya. Berangkat dari realitas penulis sendiri, saya mencoba menautkan film A Beatiful Mind, cerita pendek “ Cinta Sepasang Kupu - kupu “ dalam kumpulan cerita pendek “ Sayap Anjing “ karya Triyanto Triwikromo dan sebuah puisi “ Ode Untuk Simbah karya Panji Cybersufi untuk dibongkar, dikritisi dan ditulis ulang. Pertautannya dalam tema Schizophrenia.
Schizophrenia adalah gangguan kejiwaan serius, dimana penderita kehilangan kontak dengan realitas, mengalami halusinasi serta keterbatasan emosional, delusi atau mempercayai hal – hal yang sebenarnya keliru, berkurang motivasinya dan tidak dapat bertingkah laku normal dalam kehidupan sehari – hari. Semakin dini usia seseorang terkena Schizophrenia, semakin besar kemungkinan rusaknya kepribadian dan kemampuannya untuk hidup normal. Oleh karena itu penderita Schizophrenia, bisa membahayakan orang lain karena ilusi dan delusi yang tak terkendali. Realitas tersebut melatar belakangi Triyanto menulis cerita,
by Facebook Comment

Sabtu, 22 Juni 2013

Radio ; Antara Imajinasi dan Visualisasi


 
Radio kuno
Radio Transistor
" Banyaklah mendengar ", begitulah pepatah bijak mengatakan. Tahun 80-an sampai dengan awal 90-an merupakan fenomena booming nya sandiwara radio. Maklum tahun tersebut belum banyak stasiun tv swasta yang mengudara, tak pelak TVRI adalah satu - satunya stasiun sebagai hiburan, informasi dan edukasi. Sedangkan radio berada pada masa jayanya dalam mengambil kesempatan sebagai media hiburan, informasi dan edukasi yang merakyat.
Sandiwara radio menjadi primadona acara, disiarkan lebih dari 512 stasiun yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia ( PRSSNI ). Naskah cerita yang ditulis secara apik, keprofesionalan serta kekhasan pengisi suara menimbulkan imajinasi pendengar. Dari bunyi - bunyian yang ditimbulkan, pendengar membangun imajinasi visual masing - masing.
by Facebook Comment

Apresiasi Terhadap Seni Tatoo


Tatoo, Muslim dan tatoo
Arabic Henna Art
Perkembangan Seni Tatoo yang terjadi di masyarakat Barat, jika ditinjau dari akar seni tradisionalnya sebenarnya dipengaruhi oleh tradisi budaya dari Indonesia. Di Mentawai 1 misalnya, masyarakat telah lama mengenal tatoo, karena banyak masyarakat Vietnam hidup disana dan mengenalkan tatoo. Begitu juga di Jawa, tatoo berjenis tribal telah dikenal sebagai seni tradisional yang telah ada pada jaman dahulu.

“ Namun sebagai seni modern yang popular, tatoo banyak dikembangkan di dunia barat, hal ini berkaitan dengan berkembangnya juga dunia industri termasuk dalam Seni Iatoo itu sendiri “, jelas Laine Berman, Phd seorang Arkheolog Amerika yang juga pengamat Budaya Jawa.

Lebih lanjut dikatakan, kalau dilihat dari kaca mata seni, tatoo perlu diapresiasi. Di Amerika sendiri Seni Tatoo sangat dihargai karena memang apresiasi masyarakat disana lebih mengarah pada seni. Masyarakat Amerika tidak berpikiran negatif terhadap Seni Tatoo karena hampir rata – rata masyarakatnya menjadikannya sebagai identitas dirinya, oleh karena itu perkembangan tatoo sangat pesat.
Sementara di negara – negara berkembang termasuk Indonesia, hanya sedikit yang mampu menjadikan tatoo sebagai simbol karakter diri . Situasi seperti ini menempatkan tatoo sebagai unsur negatif 2. Masyarakat Indonesia belum mampu melihat tatoo sebagai sebuah seni. Masyarakat Indonesia jangan terlalu dipaksakan unttuk sebuah hal liberal yang belum tentu masyarakat memahami arti liberal itu sendiri.
by Facebook Comment

NIAS : Potret Sebuah Masyarakat Tradisional III


; Sebuah Peta Kultur Megalitik

Pola Pemukiman, Arsitektur dan Sistem Kepercayaan

Perwujudan nyata dari budaya dan kehidupan Zaman Megalitik di Nias ( terutama di Nias Selatan ) dapat dilihat masih lengkap hingga sekarang ini 10. Sering upacara serupa diselenggarakan dan dilakukan secara bersama – sama yang terdiri dari beberapa banua 11 disebut Ori. Saat itu juga upacara keagamaan berlangsung dengan menceritakan mitos kejadian ( kosmogoni dan etnogoni ), tentang pohon kehidupan, tentang dunia atas dan dunia bawah, tentang roh leluhur. Upacara dipimpin oleh ere, atau imam. Selama upacara berlangsung orang tidak boleh bekerja di ladang, dan perang antar suku ( banua ) atau desa dihentikan.
Kepercayaan kepada roh leluhur merupakan salah satu yang paling sentral dalam kehidupan Masyarakat Nias. Roh ini dipuja dan dihormati, sekaligus ditakuti. Kita dapat temukan begitu banyak patung – patung nenek moyang ( adu zatua ) yang didewakan terbuat dari batu yang monumental disetiap desa tua di Nias yang dipuja dan disembah.
Terdapat rumah tradisional yang besar, omo hada, terutama rumah raja dan struktur banua ( desa ) yang merupakan refleksi dari makro kosmos 12. Rumah dan pilarnya dibuat secara cermat dengan arsitektur yang sangat estetik ( berbentuk perahu ) hingga ke atapnya yang menjulang tinggi hingga 20 meter. Ditengah Desa Bawomatoluo ( Nias Selatan ) terdapat omo gorahua ( balai ) sebagai tempat berbagai upaacara dan ritual keagamaan disertai dengan berbagai bentuk nyanyian dan tarian. Upacara keagamaan seperti Owasa terkait erat dengan pesta peneguhan prestige tingkat sosial dan gelar, “ Feasts of merit “ , untuk itu dibuat bangunan monolitik sebagai batu peringatan bahwa pemiliknya pernah menyelenggarakan pesta tadi.
Di pulau – pulau batu dan Nias Selatan kita bisa lihat kursi mahligai dengan sandaran tangan dan punggung yang diukir berupa manusia dan buaya ( antropomorphi dan zoomorphi ). Juga terdapat lukisan dan pahatan nenek moyang dikedua lapisan belanga.
Desain interior rumah adat di Nias Selatan terdiri dari kamar ( ruang ) untuk bersama ( komunal ), terdapat ruang tidur bagi anak lelaki yang belum menikah, dan kamar bagi yang sudah menikah. Di Nias Utara misalnya di Onolimbu, berbentuk bundar dengan pola pemukiman yang sama dengan Bawomatoluo.
by Facebook Comment