Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Ensiklopedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ensiklopedia. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2014

Konservasi Sumber Daya Alam dan Kearifan Lokal


Marilah sejenak kembali ke alam selepas Lebaran ini. Yang seharusnya Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia, sekarang Sumber Daya Alam versus Sumber Daya Manusia. Hopo tumon ?!.
Konservasi alam sudah dirasa begitu pentingnya sampai pemerintahpun perlu menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian integral dan berkesinambungan dalam proses pembangunan di tanah air . Termaktub dalam Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya.
Semua unsur-unsur yang berada di alam merupakan sahabat dekat bagi peradaban manusia. Nilai-nilai kearifan lokal, menempatkan penghargaan terhadap alam juga harmonisasi manusia, alam dan Tuhan.
Sedhulur Sikep, Populasi Samin di Kudus, KKN UNDIP Semarang 2012, Konservasi Sumber Daya Alam
Mbah Wargono, Mbah Niti dan Tim I KKN UNDIP Semarang 2012. Populasi Wong Samin di Dukuh Kaliyoso, Desa Undaan, Kecamatan Undaan, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Sumber Gambar : karangrowoundaan.wordpress.com
 Menurut Orang Samin (Sedhulur Sikep), alam merupakan bagian yang melekat pada manusia. Maka perlakukan alam seperti saudara. Hubungan yang tak dapat dipisahkan. Masih banyak lagi kearifan lokal yang bisa digali di negeri ini yang memperhatikan keseimbangan dan harmonisasi lingkungan hidup. Namun karena didesak kebutuhan (harus dipenuhi, sisi lain selalu bertambah seakan-akan tidak ada habisnya), maka unsur-unsur yang berada di alam mulai mendapat tekanan dan serangan dari manusia. Hubungan manusia dengan alam yang dulunya mesra sekarang mulai bersifat eksploitatif. Pemulihanyapun dibutuhkan waktu yang lama.
by Facebook Comment

Selasa, 30 Juli 2013

Pertautan Study Islam dan Antropologi [ 2 ]


Oleh M. Amin Abdullah

Keynote Speecher, disampaikan dalam Dialog Kebudayaan, LPM Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 15 Januari 2011

Keempat, comparative. Studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya, dan agama – agama. Talal Asad menegaskan lagi disini bahwa, “ What is distinctive about modern anthropology is the comparisions of embedded concepts ( representation ) between societies differently located in time or space. The important thing in this comparative analysis is not their origin ( Wastern and Non-Wastern ), but the form of life that articulate them, the power they release or dissable “ ( Talal Asad. Formations of The Secular : Christianity, Islam, Modernity. Stanford, California : Stanford University Press, h. 17 ).
Setidaknya, Cliffort Geertz pernah memberi contoh bagaimana dia membandingkan kehidupan Islam di Indonesia dan Marokko. Bukan sekedar untuk mencari kesamaan dan perbedaan, tetapi yang terpokok adalah untuk memperkaya perspektif dan memperdalam bobot kajian. Dalam dunia global seperti saat sekarang ini, studi komparatif sangat membantu memberi perspektif baru baik dari kalangan insider maupun outsider ( Fazlur Rahman, 1985. “ Approaches to Islam in Relegious Studies : Review Essay “. Dalam Richard C. Martin [ Ed. ], Approaches to Islam in Relegious Studies. Tucson : The University of Arizona Press, h. 196. Juga Kim Knott. “ Insider Outsider Perspective “ dan John R. Hinnells, 2005. The Routledge Companion to Study of Religion. London and New York : Routledge, h.243-255 ).
by Facebook Comment

Pertautan Study Islam dan Antropologi [ 1 ]


Benarkah Ada Bid'ah Dalam Kebudayaan ? :
Pertautan Dirasat Islamiyyah ( Study Islam ) dan Antropologi

Agama selalu mencakup dua entitas yang tidak dapat dipisahkan tetapi bisa dibedakan. Yaitu normativitas ( teks, ajaran, beliefs, dogma ) dan juga historisitas ( praktik dan pelaksanaan ajaran, teks, beliefs, dogma tersebut dalam kehidupan konkret di lapangan, seperti di lingkungan kehidupan komunitas ( organisasi sosial keagamaan, organisasi profesi ), masyarakat pedesaan ( rural ) atau masyarakat perkotaan ( urban ), situasi konteks politik ( rezim pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi ), jaman yang berbeda ( abad tengah, modern, post modern ), tingkat pendidikan yang berbeda ( Pesantren, MI, MTS, Aliyah, atau SD, SMP, dan SMA dan lebih - lebih S1, 2, dan 3 di perguruan tinggi dan otodidak ), pelatihan atau training ( halaqah, tarbiyah, pengajian majlis taklim ), pendidikan umum dan pendidikan agama, pesantren kilat dan begitu seterusnya. Bahkan sekarang ada yang merasa cukup lewat internet, situs - situs, e book dan begitu seterusnya.
 
Nyadran, Tradisi Menyambut Ramadhan
Studi Agama dan Studi Islam kontemporer perlu memperhatikan dua entitas tersebut dengan cermat, sehingga para dosen, mahasiswa dan peminat studi agama dan studi Islam tidak terkejut - kejut dan tidak perlu kecewa. Apalagi marah - marah meluapkan emosi, jika terjadi dan menjumpai " perbedaan tafsir keagamaan " pada level historisitas, meskipun idealnya memang tidak perlu adanya perpecahan karena bersumber dari sumber ajaran normative yang sama, yaitu teks - teks dan nash - nash Al Qur'an dan Al Sunnah. Realitas seperti ini berlaku untuk semua penganut - penganut agama besar dunia, baik yang Abrahamik ( Yahudi, Kristen, Islam ) maupun agama - agama non Abrahamik ( Hindu, Budha, Konghucu, Sikh, Bahai dan lain - lain ), serta tradisi - tradisi atau agama lokal yang lain selain yang disebut diatas.
by Facebook Comment

Sabtu, 22 Juni 2013

Apresiasi Terhadap Seni Tatoo


Tatoo, Muslim dan tatoo
Arabic Henna Art
Perkembangan Seni Tatoo yang terjadi di masyarakat Barat, jika ditinjau dari akar seni tradisionalnya sebenarnya dipengaruhi oleh tradisi budaya dari Indonesia. Di Mentawai 1 misalnya, masyarakat telah lama mengenal tatoo, karena banyak masyarakat Vietnam hidup disana dan mengenalkan tatoo. Begitu juga di Jawa, tatoo berjenis tribal telah dikenal sebagai seni tradisional yang telah ada pada jaman dahulu.

“ Namun sebagai seni modern yang popular, tatoo banyak dikembangkan di dunia barat, hal ini berkaitan dengan berkembangnya juga dunia industri termasuk dalam Seni Iatoo itu sendiri “, jelas Laine Berman, Phd seorang Arkheolog Amerika yang juga pengamat Budaya Jawa.

Lebih lanjut dikatakan, kalau dilihat dari kaca mata seni, tatoo perlu diapresiasi. Di Amerika sendiri Seni Tatoo sangat dihargai karena memang apresiasi masyarakat disana lebih mengarah pada seni. Masyarakat Amerika tidak berpikiran negatif terhadap Seni Tatoo karena hampir rata – rata masyarakatnya menjadikannya sebagai identitas dirinya, oleh karena itu perkembangan tatoo sangat pesat.
Sementara di negara – negara berkembang termasuk Indonesia, hanya sedikit yang mampu menjadikan tatoo sebagai simbol karakter diri . Situasi seperti ini menempatkan tatoo sebagai unsur negatif 2. Masyarakat Indonesia belum mampu melihat tatoo sebagai sebuah seni. Masyarakat Indonesia jangan terlalu dipaksakan unttuk sebuah hal liberal yang belum tentu masyarakat memahami arti liberal itu sendiri.
by Facebook Comment

NIAS : Potret Sebuah Masyarakat Tradisional III


; Sebuah Peta Kultur Megalitik

Pola Pemukiman, Arsitektur dan Sistem Kepercayaan

Perwujudan nyata dari budaya dan kehidupan Zaman Megalitik di Nias ( terutama di Nias Selatan ) dapat dilihat masih lengkap hingga sekarang ini 10. Sering upacara serupa diselenggarakan dan dilakukan secara bersama – sama yang terdiri dari beberapa banua 11 disebut Ori. Saat itu juga upacara keagamaan berlangsung dengan menceritakan mitos kejadian ( kosmogoni dan etnogoni ), tentang pohon kehidupan, tentang dunia atas dan dunia bawah, tentang roh leluhur. Upacara dipimpin oleh ere, atau imam. Selama upacara berlangsung orang tidak boleh bekerja di ladang, dan perang antar suku ( banua ) atau desa dihentikan.
Kepercayaan kepada roh leluhur merupakan salah satu yang paling sentral dalam kehidupan Masyarakat Nias. Roh ini dipuja dan dihormati, sekaligus ditakuti. Kita dapat temukan begitu banyak patung – patung nenek moyang ( adu zatua ) yang didewakan terbuat dari batu yang monumental disetiap desa tua di Nias yang dipuja dan disembah.
Terdapat rumah tradisional yang besar, omo hada, terutama rumah raja dan struktur banua ( desa ) yang merupakan refleksi dari makro kosmos 12. Rumah dan pilarnya dibuat secara cermat dengan arsitektur yang sangat estetik ( berbentuk perahu ) hingga ke atapnya yang menjulang tinggi hingga 20 meter. Ditengah Desa Bawomatoluo ( Nias Selatan ) terdapat omo gorahua ( balai ) sebagai tempat berbagai upaacara dan ritual keagamaan disertai dengan berbagai bentuk nyanyian dan tarian. Upacara keagamaan seperti Owasa terkait erat dengan pesta peneguhan prestige tingkat sosial dan gelar, “ Feasts of merit “ , untuk itu dibuat bangunan monolitik sebagai batu peringatan bahwa pemiliknya pernah menyelenggarakan pesta tadi.
Di pulau – pulau batu dan Nias Selatan kita bisa lihat kursi mahligai dengan sandaran tangan dan punggung yang diukir berupa manusia dan buaya ( antropomorphi dan zoomorphi ). Juga terdapat lukisan dan pahatan nenek moyang dikedua lapisan belanga.
Desain interior rumah adat di Nias Selatan terdiri dari kamar ( ruang ) untuk bersama ( komunal ), terdapat ruang tidur bagi anak lelaki yang belum menikah, dan kamar bagi yang sudah menikah. Di Nias Utara misalnya di Onolimbu, berbentuk bundar dengan pola pemukiman yang sama dengan Bawomatoluo.
by Facebook Comment

Rabu, 10 April 2013

NIAS : Potret Sebuah Masyarakat Tradisional II


Dalam tulisan sebelumnya telah diuraikan asal - usul Orang Nias.

Proses Asimilasi dan Akulturasi : Hubungan Antar Etnik

Hanya dengan memahami proses diatas kita dapat meletakkan dasar asal – usul Orang Nias sekarang ini :
  1. Masa Mesolitikum ( Neolitik-Megalitik ) Pulau Nias telah dihuni oleh pendatang migrasi gelombang pertama yang dalam tradisi Hoho disebut sebagai orang yang tinggal dibawah tanah ( aro Dano ). Dengan postur tubuh kecil, warna kulit kehitam – hitaman ( ciri khas Weddid ), rambut ikal hingga keriting. Arkeologis, peninggalan mereka terdapat di gua – gua ( bawah tanah ) yang sekarang merupakan situs arkeologis-historis di Nias. Mereka ini disebut “ orang asing “, “ manusia bawah tanah “ ( ndrawa, aro dano ). Kita temukan peninggalan – peninggalan purbakala seperti peralatan dari batu dan serpihannya ( sebagai alat pukul ), bekas abu pembakaran dan berbagai fragmen tulang dan lain sebagainya. Budaya ini mirip dengan Budaya Paleotikum ( Hoabinh ) di Vietnam dan Thailand 5. Manusia yang tinggal dibawah tanah ( gua ) ini kemudian dalam mitologi dan religi di Nias dikaitkan dengan dewa bawah ( tanah ), yaitu Laturedano.
by Facebook Comment

Minggu, 24 Februari 2013

Kabasaran : Tarian Perang Minahasa



Nusantara memiliki banyak ragam tari keprajuritan. Yang ini berasal dari Minahasa.
Kabasaran adalah sebuah tarian perang yang mencerminkan sifat – sifat kepahlawanan sejati pada Masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Kostum penari umumnya berwarna merah menyala dihiasi berbagai aksesoris bahan alam ; kulit kayu pada baju, mahkota dengan paruh Burung Taon dan bulu – bulu Ayam. Sementara tongkat terbuat dari batang Pohon Tawaang Merah yang dikeramatkan oleh Masyarakat Minahasa. Selain itu, para penari juga memakai kalung dengan bandul tengkorak Monyet. Ini melengkapi gambaran spiritual magis tarian.
by Facebook Comment

Selasa, 29 Januari 2013

NIAS : Potret Sebuah Masyarakat Tradisional



            “ Kegagalan pembangunan di banyak negara berkembang disebabkan oleh ketidak mampuannya menghubungkan masa lalu dengan masa kini secara hermeneutik... “

Menelusuri Jejak Leluhur Orang Nias

Budaya nias, asal usul suku nias Penggalan kalimat pengantar diatas mengingatkan kita semua bahwa kehidupan manusia merupakan suatu kesinambungan, suatu mata rantai yang saling terkait. Dengan demikian tidak ada yang benar – benar baru, yang ada sekarang terpaut dengan yang sebelumnya atau masa lalu.
Mitologi Yunani lebih cerdas memformulasikan keterkaitan itu dengan mengambil sebuah perumpamaan tentang seekor ular yang besar, Hydra, yang jika kepalanya dipotong akan segera tumbuh 2 kepala yang baru, begitu seterusnya. Itulah hukum perkembangan atau pertumbuhan. Artinya, satu penemuan baru akan melahirkan lebih banyak penemuan baru pula.
Untuk “ mengejar “ ketertinggalannya banyak negara berkembang berusaha mengakselerasikan pertumbuhannya dengan jalan short cut. Jalan pintas atau terobosan, dan melupakan jejak sejarahnya. Pada umumnya berujung kegagalan. Di Asia eks negara berkembang, termasuk Jepang dan China memahami dan memanfaatkan secara baik arti “ belajar dari sejarah “. dalam hal ini kultur, tata nilai dan etika dalam sistem religi mereka seperti Bushido ( Jepang ) dan Li ( China ) yang pada dasarnya adalah kode etik dalam berperilaku.
Dalam sejarah umat manusia ( bangsa – bangsa ) tidak ada negara yang brhasil meraih ( mengisi ) cita – cita masa depannya tanpa mengkaitkannya dengan “ semangat “ masa lalu secara kontekstual.
Itulah sebabnya kenapa dalam tulisan ini, masyarakat tradisional Nias ditempatkan pada bagian pertama. Maksudnya ;
by Facebook Comment