Social Icons

Minggu, 08 September 2013

Maizena



“ Nasi Putih terhidang di meja, siapakah penanamnya ?!. Panas terik tak dirasa, hujan rintik tak mengapa, … “
Nyanyian dari TVRI tempoe doeloe selalu terngiang, ketika aku melintasi kampungku.
Terpana. Dahulu ketika negeri ini ditarik garis agraris juga maritim, betapa gemah ripah loh jinawi, kondhang klangkung manis. Entah mengapa setiap orang asing yang masuk ke negeri kami, aku selalu ada semacam keterikatan mungkin juga kedekatan batin. Ikatan yang begitu kuat.
Ruang dan waktu telah berubah. Era industrialisasi ini, aku masih terpaku menatap hamparan sawah. Wong – wongan sawah sibuk menghalau burung demi burung. Suara berterbangan. Terngiang lagi lagu dari TVRI. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, masuk lagi telinga kiri. Begitu seterusnya sampai telinga gatal – gatal. Mungkin Kunti akan melahirkan Karna demi Karna lagi, sementara alam tetap perawan dijagai para dewa.
Pada Ladang Jagung Hibrida bisi 2, kulit Jagungnya disebut Klobot. Lintingan klobot dari tangan – tangan perempuan. Dilekatkan liur Roro Mendut. Lintingan Rokok Klobot. Sejarah cinta Roro Mendut dan Pronocitro. Roro Mendut menjadi ikon Rokok Klobot di masa lalu. Ah, bibirnya !. Sekarang menjelma Sales Promotion Girl produk rokok di era industrialisasi. Perempuan tetap saja menjadi objek.
Rambut pirang Jagung. Mengingatkanku pada Bule Amsterdam. Aku selalu penasaran dengan rambut pirangnya, baunya, pigmentasi dan pori – pori kulitnya, yang besar, renggang juga bibirnya. Ya, bibirnya.


Pada tumpukan Jerami kering disisi Barat, bekas panen Padi tanpa sengaja kita begitu akrab. Bercerita ha-ha-hi-hi di Ladang Jagung. Bule Amsterdam yang suka Film Kungfu. Karena di negeriku, dia bisa dengan mudah menemukan tanaman Bambu.
“ Kungfu ! “ setiap kali ketemu Bambu, sambil menirukan peragaan jurus Kungfu yang sering ditontontannya.
Dengan keterbatasan bahasa, kami tetap ha-ha-hi-hi saja. Homo Neaderthal ketemu Meganthropus Erectus. Tinggal tulang belulang yang dikatakan dekat dengan kekerabatan manusia.
Kami membakar Jagung dengan sedikit Mentega. Aku menyisir rambutnya. Berderet gigi yang putih disela Hitam kekuningan biji – biji terbakar. Telunjukku mengarah giginya. Ia menunjuk Jagung yang mulai hangus. Kami tetap ber ha-ha-hi-hi.
Penduduk sekitar keheranan dan mengeleng kepala ketika melintas Ladang Jagung. Kucuali satu per satu biji Jagung, walaupun terasa panas. Di kampung kami, sering ada orang yang masih buruh nyuili, mengupas, mempreteli biji Jagung. Upahnya dihitung per kilo. Wanita itu heran melihat cara makanku.
“ Dzikir “
Agak susah gadis itu mengucapkannya.
Remember to the god
Mengangguk pelan sambil menirukan cara makanku. Baginya Tuhan merupakan hal yang asing dan juga mungkin tidak terlalu penting.
Tumpukan Jerami kering disebelah Barat kampung telah menjelma a soft natural colour Dutch leather sofa. Kami berburu sebelum Jerami kering itu atau damen, dikumpulkan para peternak. Orang kampung kerap memberi pakan Sapi dengan Damen. Berharap mereka lupa, ini musim panen Jagung bukan Padi. Tapi damen masih tersisa juga kenangan.
“ Maafkan aku melupakan namamu “.
Aku semakin asing dengan dusunku sendiri.



Bantul, Mei 2011.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.