Social Icons

Minggu, 08 September 2013

17 Agustus Tahun Anu


Manusia – manusia Jawa gemar beritual berupacara sebab hidup adalah
prosesi upacara. Ku buka kalender besar pada dinding ruang tamu yang
kecil, tak ada benar – benar tak ada angka – angka yang disakralkan itu.
Ku bolak – balik kalender agar waktu luwes terhadap sgala perhitungan,
penambahan, penyusutan. Di ruang ini berharap sejarah bertamu, mereka
mengenakan pakaian kebesaran mereka meneriakkan ; “ merdeka ! “
tapi mereka kebingungan, bayangan celingukan seolah angka – angka
hampa tak pernah menautkan “ merdeka “ itu.
Sejarah memang bertamu tapi terasa compang – camping waktu
waktu yang tambal sulam mengelabuhi angka – angka yang kau anggap
mistis itu.
Sejarah memang bertamu tapi slalu kau diamkan saja. Sibuk melipat -
lipat bayangan. Memang orang sudah pandai berhitung pandai berpartai
politik pandai melebih – lebihkan pandai bercerita pandai berkata ;
merdeka ! “.
“ Merdeka ! “ igauan sejarah
“ Merdeka atau mati ! “ igauan tetangga sebelah
“ Merdeka atau mimpi “
seolah kemerdekaan itu fenomena tindihan erep – erepan.


Aku bersama para terpelajar berziarah ke makam pahlawan, kita tak
sedang berdo'a tapi bergumam ; “ para pahlawan tlah mati di negeri ini ! “.
Angka – angka pada kalender seperti selongsong peluru nyasar mengincar
siapapun tidak sipil tidak militer teroris kriminal semua tertembus angka -
angka panas.
Aku akan buat perhitungan, kami akan buat perhitungan
Angka demi angka dikorupsi dimanipulasi bagaimana kami menandai
kalender ?!.
Angka – angka kelaparan huruf – huruf kesakitan, mana yang mana di negeri
ini yang tlah anu, mana yang bagaimana di negeri ini yang sudah anu, siapa
yang mana di negeri ini yang mempunyai anu, mana dimana di negeri ini
yang telah merasakan anu, kapan tepatnya anu itu


Hitung sendiri angka apa kita tak mensyukuri angka – angka
sedang kita memakai logika angka semua tlah diuukur, ditaksir juga mimpi -
mimpi orang tidur, para pemalas waktu, pengemis waktu, koruptor waktu,
para anu, orang – orang yang berteriak “ merdeka ! “, parpol yang teriak -
teriak “ demi rakyat ! “, organisasi – organisasi hak asasi yang gembar -
gembor “ demi kemanusiaan ! “, tapi ada yang membatin saja.
Negeri ini, datang dan pimpinlah kami karna negeri ini belum berhukum
Negeri ini, datang dan pergi
Negeri ini, dipenuhi orang – orang yang pandai bersyukur
Negeri ini, banyak orang tak bernama tak dicatat tak dianggap
Negeri ini, dibangun dari logika angka dan imajinasi huruf – huruf
aksara – aksara lokal yang membentuk cerita sejarah nasional
Negeri ini, mengalami penjajahan baru gara – gara anu
Negeri ini, wilayah rasa teritori fisik yang kita perjuangkan bersama
Ini negeri, hitung lagi pasti ;
17 Agustus tahun entah



Bantul, 30 Agustus 2013 jam entah.
*Pertama kali di ketik dalam hand phone.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.