Social Icons

Senin, 09 September 2013

Fenomena Mudik dan Silaturrohmi Lebaran

 
Dalam perjalanannya untuk mencapai Piramida Mesir, Santiago bocah pengembara itu berjumpa dengan pedagang kristal di Pasar Tangier.
            “ Bapak tidak pernah bermimpi berkelana ? ” tanyanya lugu pada pedagang yang sepanjang harinya hanya menjalani hari – harinya di toko kristalnya. Sebagai Muslim, pedagang itu mengaku punya keinginan sekaligus kewajiban besar untuk pergi ke Mekah, tempat yang digambarkannya pada bocah itu. Jauh lebih bermakna dari Mesir. Itulah sebab, ia tiap hari banting tulang untuk mengumpulkan uang dan rela hidup irit. Kini ia sudah kaya, lalu kenapa pula ia tidak pergi ke Mekah ?.
            “ Justru pikiran tentang Mekah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat mengarungi hari – hari yang sama belaka : menghadapi kristal – kristal bisu di rak dan sanggup makan siang dan malam di warung jelek yang itu – itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tidak punya lagi alasan untuk hidup “, demikian jawaban si pedagang.



Mungkin perbincangan menarik yang saya petik dari Novel Sang AlKemis karya Paolo Coelho ( Brazil ), bisa dipakai untuk memahami fenomena mudik.
Mudik berasal dari serapan Bahasa Jawa yang berarti “ mulih dhisik “ ( pulang dulu, kembali dulu ). Pertanyaan logis, filosofis pun akan segera muncul ; “ pulang kemana ?! “.

1.      Kembali pada fitrahnya sebagai manusia yang manusiawi ( Idul Fitri ).
2.      Mudik juga dapat diartikan “ mulih ke udik“ ( pulang kampung ), manusia kembali pada asalnya.
3.      Kembali ke tempat dimana ada orang – orang yang memikirkan kita.


Tradisi mudik di Indonesia sudah menjadi kebiasaan, semacam perayaan kolektif  tiap tahunnya. Kita selalu saja menyaksikan kerumunan orang berdesakan, berjejal, antri tiket transportasi umum, semua manusia terhela kesegala arah dalam waktu serentak. Seperti kita ( yang menganggap diri sebagai manusia modern ) sedang berselancar ke dunia maya, dunia ada diujung jari kita. Namun fenomena mudik ini mengingatkan kita kembali, tentang bumi yang bulat dan bumi yang flat. Membandingkan kembali “ Desa Global “ nya Marshall McLuhan dengan fenomena pulang kampung. Mengingat kembali kenangan, kebiasaan – kebiasaan waktu kecil di dusun, sungguh betapapun teknologi telekomunikasi khususnya telah semakin canggih, persentuhan fisik antar manusia masih mempunyai arti yang mendalam. 
Tak jarang juga kita begitu miris ; kecelakaan lalu lintas dalam arus mudik menimbulkan korban, program abadi pemerintah dalam hal perbaikan jalan seolah menjadi THR tahunan, pembangunan di tempat itu – itu juga menyebabkan rawan penyelewengan. THR untuk bancakan para pejabat dan kroninya.
Tetapi tetap, orang – orang rela mrngeluarkan banyak uang, waktu dan energi hanya  untuk pulang kampung. Kerumunan orang di stasiun angkutan umum membuka peluang terjadinya tindak kriminalitas ( pencopet, percaloan, penipuan, dan  lainnya ).
Uang yang dikumpulkan waktu bekerja di kota selama setahun, seolah ingin dihabiskan 1-2 hari Lebaran di kampung halaman. Hal ini bisa juga dipakai sebagai ajang pamer, menunjukkan kesuksesan seorang ketika merantau. Terkadang ada kepuraan, sedikit dipaksakan, tetapi banyak juga yang memang sudah sukses dalam perantauannya. Kadang memang absurd, tetapi itulah rasionalitas fenomena mudik.
Hasrat bertualang, merantau yang dilandasi prinsip dan motif ekonomi, “ memaksa “ orang – orang udik untuk berurbanisasi 1 . Hasrat seperti ini bisa kita katakan sebagai  “ etos “ , seturut Max Weber dalam bukunya “ Die Protestantische Ethik und Der Geist Des Kapitalismus “ ( 1905 ) 2  , ada peranan yang besar bahwa nilai – nilai agama mempengaruhi tindakan ekonomi.
Perilaku konsumtif masyarakat pun terjadi sejak awal Ramadhan sampai Lebaran. Kondisi ini semakin memperjelas, bahwa ritual keagamaan mempengaruhi kegiatan perekonomian. Saling mempengaruhi, lebih tepatnya.


Tradisi Lebaran Ketupat dan Silaturrohmi


Mobilitas fisik dan non fisik dalam tradisi mudik berlanjut hingga daerah tujuan. Perpaduan rasa dari hasrat bertualang, merantau, hasrat ingin pulang, hasrat ingin bertemu, menemukan bentuk kulturalnya dalam silaturrohmi. Silaturrohmi merupakan hubungan kekerabatan dan saling  berbagi kasih sayang. Saling berkunjung satu dengan lainnya. Orang – orang yang mempunyai status sosial, ekonomi dan politik yang tinggi mengadakan “ Open House “.
House dalam artian “ gedung “ ( building, apartement ), ataupun house sebagai tempat tinggal ( home ). Gedung lebih digunakan sebagai tempat kerja, bersifat formal sedangkan tempat tinggal ( rumah ) lebih bersifat informal, kediaman ataupun sebagai ruang keluarga. Sekarang, konsep gedung dan rumah ini diaplikasikan dalam Konsep Ruko ( Rumah dan Toko ).
Harusnya “ Open House “ menjadi ruang terbuka bagai siapa pun dan kapan pun, yang setiap orang saling berbagi kasih menyambung tali persaudaraan.
Tradisi bersilaturrohmi ketika Lebaran memiliki istilah yang berbeda – beda ; halal bi halal, syawalan, ujung ( Jawa ), dan istilah lokal lainnya.
Antara kumpul bersama dan makan bersama khususnya di Jawa, selalu dimaknai filosofis, kultural dan keagamaan. Orang Jawa begitu menggemari ritual – ritual, upacara, yang oleh para penyebar Islam ( Wali Songo ) diasimilasikan dengan nilai – nilai keagamaan Islam. Akan halnya Tradisi Lebaran Ketupat yang telah menyebar ke pelosok Indonesia. Lebaran Ketupat, Badha Ketupat, Riyaya, Badha asal kata Ba'da ( Arab ; setelah ), Riyaya merupakan kependekan dari Hari Raya.


badha kupatan
Lebaran Ketupat umum diselenggarakan 7 hari setelah Lebaran ( Idul Fitri ). Prosesi disetiap daerah berbeda, namun intinya sama ; do'a bersama, makan bersama juga laku papat.
Ketupat merupakan nasi yang dibungkus Daun Kelapa muda. Tidak hanya merupakan makanan tradisional ataupun sumber makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia yang agraris. Melainkan juga memuat filosofi yang dalam. Ketupat adalah perpaduan budaya lokal, Hindu dan Islam. Filosofinya dikemas kembali oleh Sunan Kalijaga.
Ketupat ( Indonesia )-- Kupat ( Jawa ) – Kafat – Kaffah ( Arab ; sempurna ). Kupat dapat juga dimaknai “ ngaku lepat “ ( mengaku bersalah ), “ laku papat “ ( perbuatan yang 4 ; lebar, lebur, luber, labur ).
Lebar ( Jawa ; telah berlalu, selesai ), Lebaran menandai telah selesainya Kaum Muslimin menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Lebur, melebur dosa, moment saling memaafkan antar sesama dengan saling mengunjungi ( silaturrohmi ). Luber, mempunyai nilai ekonomi, sosial kemasyarakatan dengan saling berbagi Zakat Fitrah ( bahan pangan  pokok ), Zakat Mal, Infaq ( harta ), Shodaqoh, Amal ( berbagi rejeki kepada sesama dalam bentuk harga ataupun barang ).
Labur ( kapur, gamping ) yang biasa digunakan untuk melabur, mengecat rumah, bangunan ataupun dinding. Makna simbolik dari labur adalah dengan kebersihan jiwa karena telah selesai menjalankan semua ibadah di Bulan Ramadhan dan saling bermaafan, akan terpancar dan meluas pada sikapnya untuk menjaga kebersihan lingkungan hidup. Kepedulian terhadap lingkungan hidup. Kebaruan, kecerahan dan kebersihan. Kebersihan sebagian dari iman.
Bungkus ( wadah, cangkang ) Ketupat terbuat dari Daun Kelapa muda ( Janur Kuning ). Janur, sajanjane nur ( nur sejati, cahaya sejati, enlightenment ). Janur Kuning tersebut dianyam dengan model tertentu sebagai wadah Beras Putih, lalu direbus hingga masak. Warna Janur akan kelihatan kecoklatan.  Menurut bapakku, terdapat beragam cara menganyam Janur sebagai wadah Ketupat. Kupat Bata ( berbentuk kubus, batu bata ), Kupat Jago ( segi 4 lancip, kecil ), dan berbagai model lainnya yang terkadang meninggalkan filosofi bentuk segi 4. Tetapi itu hanya masalah wadah, namun wadah, packaging ( Syari'at ) akan menjadi hal yang penting.
Lazimnya cangkang Ketupat berbentuk segi 4 dengan ujung disalah satu sisinya. Melambangkan Kiblat Papat Lima Pancer, arah mata angin, pedoman hidup dan nafsu manusia. Penjabaran tentang Kiblat Papat Lima Pancer dalam Tafsir Kejawen akan sangat beragam. Juga ketika dianalisa menggunakan metode psikologi dan filsafat. Hawa nafsu manusia, unsur – unsur kepribadian manusia ( Id, Ego, Super Ego ) menurut Sigmund Freud, juga psikoanalisanya Carl Gustav Jung.
Anyaman Janur dalam Ketupat merupakan kerumitan hidup. Kerumitan hidup yang terjadi akibat hukum alam yang merupakan Sunatulloh ( siang-malam, gelap-terang, baik-buruk, dll ). Harmonisasi dalam menjalani kehidupan, akan menyeimbangkan Yin Yang. Bukan hanya sebatas menyeimbangkan, tetapi memberi nilai pembeda dalam menjalani kehidupan.
Lebaran kemarin, bapak membeli Janur Kuning di pasar tradisional. Cukup Tiga Ribu Rupiah, dianyam sendiri bisa menghasilkan 30 Kupat Bata. Harga umum cangkang Ketupat di pasar tradisional berkisar Lima Ribu Rupiah mendapatkan 20 buah cangkang Ketupat. Dibelakang rumah kami memang tumbuh Pohon Kelapa, sayang belum ada Janur Kuning melengkung.
Dengan mengetahui filosofi dari makanan tradisional, kita berusaha menikmati dan mencapai “ rasa “ terdalam yang terkandung pada setiap proses tindakan mengkonsumsi, sekaligus sebagai wujud mensyukuri berkah yang diberikan oleh Tuhan melalui alam. Makanan adalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.
Inti dari filosofi Ketupat adalah ketika menikmati, memakannya. Ketupat yang telah masak lalu dibelah cangkangnya, langsung terlihat Nasi Putih.  Putih melambangkan kebersihan jiwa, setelah selama 1 bulan penuh ditempa dalam  ibadah Ramadhan. Nasi untuk Ketupat Lebaran haruslah dari Beras Putih, bukan Beras Merah ataupun Beras Hitam ataupun diganti Beras Ketan apalagi Beras Kencur.
Ketupat bisa dinikmati dengan lauk Opor Ayam, kuah Santan Kelapa, Jangan Tempe dan Krecek, dan lainnya.

            Kupat jangane santen
            Kathah lepat nyuwun pangapunten
            ( Ketupat sayurnya santan, mohon maaf banyak kesalahan ) 3 .

Tradisi Ketupat juga berkembang di Malaysia, Brunnei Darussalam, Singapura dan Filipina. Tentunya dengan filosofi dan keragaman yang berbeda.
Banyak generasi muda sekarang yang telah lupa ( sengaja lupa ) pada filosofi yang terkandung dalam Ketupat. Ketupat telah mengalami pergeseran nilai dan hanya dipandang dan dinikmati sebagai makanan tradisional. Jikalau Ketupat harus ditafsir secara modern, harusnya generasi muda sampai pada pemahaman ; mengapa negeri agraris ini gagal berwirasembada Beras, kualitas pertanian di Indonesia, pertanian Kelapa,  dll. Begitu juga kita memaknai Ramadhan dengan tradisi – tradisi yang menyertainya di berbagai daerah. Mungkin bangsa ini sudah semakin jauh dari nilai – nilai budaya dan agama.
Lebaran 2013 bertepatan dengan Bulan Agustus. Bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan yang ke-68 pada 17 Agustus 2013. Janur kuning dalam Ketupat juga dipakai oleh para pejuang sebagai simbol dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Lalu sekarang, apa makna kemenangan, kemerdekaan itu ?!.
Sementara itu masih banyak orang yang sibuk berdebat mengenai konsep negara, yang sekular-lah, Khilafah Islamiyyah-lah, Federal-lah, dan “ Lah-lah” yang lainnya. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 titik habis.

Saling memaafkan, saling  berkunjung ( silaturrohmi ), saling berbagi nilai – nilai positif, seharusnya tidak hanya sempit dikaitkan agama dan budaya. Kesemua itu merupakan hal yang manusiawi.
Aku selalu teringat ketika silaturrohmi dari rumah ke rumah tetangga di kampung, hal yang selalu kukatakan ;

            “ Kepareng matur dumateng bapak kalian ibu, … sepindhah, sowan kulo mriki silaturrohmi,        kaping kaleh, ngaturaken sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten, kaping tigo,             nyuwun tambahing do'a lan pangestu “.

Jika kita belum bisa mendekati makna mudik yang merupakan mobilitas fisik dan non fisik, vertikal dan horisontal, maka pergi, pergilah yang jauh. Pergi, pergilah yang jauh dan lama. Hingga merasa pada akhirnya, setiap manusia memang harus kembali.


            Malam Lebaran

            Bulan diatas kuburan
           
            (  Oleh Sitor Situmorang )



Bantul, 25 Agustus 2013.


Catatan AkhirFenomena Mudik dan Silaturrohmi Lebaran “


1 Kesenjangan berbagai bidang terlebih aspek ekonomi antara kota dan desa di Indonesia masih terlihat mencolok. Salah satu indikasi, bahwa pembangunan belum mencapai pemerataan.
Fenomena Mudik Lebaran akan dibarengi dengan arus balik. Urbanisasi pun akan semakin meningkat menuju kota – kota metropolitan dan megapolitan.
Hasrat untuk merantau, prinsip dan motif ekonomi, hasrat ingin merubah nasib. Fenomena dan realitas urbanisasi ini telah menjadi kajian serius berbagai pihak terkait untuk segera disikapi dan dicarikan solusi bersama.

2 Weber, Max. 1905. Die Protestantische Ethik und Der Geist Des Kapitalismus. Diterjemahkan oleh Talcott Parson. 1959. The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. New York : Charles Schribnersson, diterjemahkan oleh Yusuf Priyasudiarja. 2002. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Surabaya : Pustaka Promethea.

Bandingkan juga dengan ;

Abdullah, Taufik ( Ed ). 1986. Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi. Jakarta : LP3ES, Yayasan Obor dan LEKNAS-LIPI.
Asifudin, Ahmad Janan. 2004. Etos Kerja Islami. Surakarta : Universitas Muhammadiyah.
Nasir, Nanat Fatah. 1999. Etos Kerja Wirausahawan Muslim. Cetakan I. Bandung : Gunung Jati Press.
Kartawiria, Rajendra. 2004. Spiritualitas Bisnis. Cetakan I. Jakarta : Penerbit Hikmah ( PT Mizan Publika ).

3 Terjemahan yang saya lakukan dari Bahasa Jawa kedalam Bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan bentuk rima A-A. Walaupun harus mengubah tatanan kata, tetapi tidak mempengaruhi substansi.
Kathah lepat ( banyak kesalahan, khilaf ), nyuwun pangapunten ( mohon maaf, pengampunan ).
Sebenarnya ada terjemahan tanpa harus merubah susunan kata

            Kupat jangane santen, kathah lepat nyuwun pangapunten

            Ketupat sayurnya santan, segala khilaf mohon pengampunan
            Ketupat sayurnya santan, banyak khilaf mohon dimaafkan

Dengan segala pertimbangan, saya tetap memilih terjemahan ;
           
             Ketupat sayurnya santan, mohon maaf  banyak kesalahan


Menerjemahkan ( mengalih bahasakan ) khususnya sastra memang susah susah gampang. Terkadang memang harus membuat terjemahan bebas, sejauh tidak menyimpang dan mengubah substansinya.
Dalam kasus tersebut diatas ; Bahasa asli ( Jawa Kromo ) diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, kata “ Ketupat “ ( Bahasa Indonesia ) diserap dari “ Kupat “ ( Jawa ).
Jika terjemahan Bahasa Indonesia dalam kasus tersebut dipakai sebagai rujukan untuk menerjemahkan kedalam bahasa lain , kualitas terjemahannya hanya berada pada kategori derajad kedua.

Ø      Bahasa Jawa, Kromo – Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris ~ terjemahan derajad 2.
Ø      Bahasa Jawa, Kromo – Bahasa Indonesia, atau Bahasa Jawa, Kromo – Bahasa Inggris ~ terjemahan derajad 1.

Perhatikan juga konsistensi Panji Cybersufi ( sebagai penulis ) dalam penggunaan Bahasa Jawa, antara ;
Kupat jangane santen
Kathah lepat nyuwun pangapunten
Dengan bagian akhir ini ;
Kepareng matur dumateng bapak utawi ibu, … sepindhah, sowan kulo mriki silaturrohmi, kaping kaleh, ngaturaken sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten, kaping tigo, nyuwun tambahing do'a lan pangestu “.
Dalam kasus yang berbeda saya juga menyertakan beberapa penerjemah dalam satu sumber, agar pembaca bisa membandingkan dan mengechek langsung kualitas terjemahannya ( Lihat Footnote ke-2 ).

by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.