Social Icons

Minggu, 23 Juni 2013

Film A Beautiful Mind, Simbah dan Triyanto Triwikromo

Film A Beautiful Mind, Simbah dan Triyanto Triwikromo1

Triyanto Triwikromo, Penerbit Kompas, Kumpulan Cerpen
Menautkan tiga bentuk seni ( film, cerita pendek dan puisi ) dalam sebuah tulisan sangat mungkin dilakukan, pendekatan melalui tema salah satunya. Misal dalam bentuk wayang dan film yang merupakan kesenian bermuatan kompleks. Mulai dari dramatisasi, cerita, musik, gambar, tata cahaya, penokohan dan lainnya. Berangkat dari realitas penulis sendiri, saya mencoba menautkan film A Beatiful Mind, cerita pendek “ Cinta Sepasang Kupu - kupu “ dalam kumpulan cerita pendek “ Sayap Anjing “ karya Triyanto Triwikromo dan sebuah puisi “ Ode Untuk Simbah karya Panji Cybersufi untuk dibongkar, dikritisi dan ditulis ulang. Pertautannya dalam tema Schizophrenia.
Schizophrenia adalah gangguan kejiwaan serius, dimana penderita kehilangan kontak dengan realitas, mengalami halusinasi serta keterbatasan emosional, delusi atau mempercayai hal – hal yang sebenarnya keliru, berkurang motivasinya dan tidak dapat bertingkah laku normal dalam kehidupan sehari – hari. Semakin dini usia seseorang terkena Schizophrenia, semakin besar kemungkinan rusaknya kepribadian dan kemampuannya untuk hidup normal. Oleh karena itu penderita Schizophrenia, bisa membahayakan orang lain karena ilusi dan delusi yang tak terkendali. Realitas tersebut melatar belakangi Triyanto menulis cerita,
Saya menulis “ Cinta Sepasang Kupu - kupu “ yang menunjukkan fenomena
“ keperkasaan berahi “ seorang nenek, itu karena saya memang dalam satu tahun
terakhir berhadapan dengan nenek saya yang barangkali mengidap Schizophrenia.
Dalam usia yang menginjak 98 tahun dia kerap berperan sebagai pria usia 30 – an,
kadang sebagai perempuan berusia 26 tahun yang pandai nembang, kadang sebagai
bocah kecil seusia Sinchan. Keperkasaan menanggung derita semacam itulah yang
memicu saya melahirkan cerita yang bertolak dari realitas nenek saya.
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h.xiii ).
Secara umum, gejala Schizophrenia dibedakan menjadi 2 macam. Gejala pasif, penderita mengalami halusinasi, delusi dan pola pikir tak teratur. Penderita tidak mampu mengendalikan diri dan pikirannya sendiri. Gejala negatif, dimana penderita menolak mengerjakan aktivitas sehari – hari, tidak mau berkomunikasi dan menarik diri dari lingkungannya.
Triyanto sempat heran dan kaget atas kritikan Nirwan Dewanto terhadap cerpen Cinta Sepasang Kupu – kupu yang dianggap sok realis dan menyarankannya untuk melakukan re-writing2.
Saya kaget, pertama, karena banyak realitas yang saya hadapi ternyata tidak dihadapi
orang lain. Kedua, saya heran karena realitas yang sebenar – benar ( nya )
realitas kerap dimaknai orang lain sebagai realitas semu, surealis, atau malah ada yang
menyebutnya sebagai absurd.
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h.xiv ).

Kupu – kupu dalam judul “ Cinta Sepasang Kupu - kupu “ mengingatkanku pada nenek ( simbah ) yang sering bercerita tentang Kupu – kupu Gajah dan Cacing Gelang.
Seorang renta bercerita padaku tentang Kupu - kupu Gajah dan Cacing Gelang /
Dahulu ( ketika orang berkata, " dahulu " ) / ia bagian dari lampau / Dahulu Baginda
Nabi Sulaiman memberikan sebuah untuk Kupu – kupu / Kalung liontin gemerlapan /
Sebuah untuk cacing / dhodhot yang gagah //
Kupu - kupu dirayu / cacing ingin pertukaran //
O udara, segala hal dilaluinya ! //
( Puisi “ Ode Untuk Simbah “ oleh Panji Cybersufi ).
Berangkat dari realitas yang serupa dengan Triyanto dalam cerpen, sebenarnya fenomena tersebut banyak dialami oleh orang tua di pedusunan. Fenomena lumrah menjelang kematian, setidaknya gejala ini yang saya amati disekitaran Bantul.
Usia 60-an keatas rentan mengalami “ gejala ngomyang, berbicara dengan diri sendiri “ --- demikian orang kampung menyebutnya --- sebelum akhirnya menjemput ajal.
Gejala ini sudah aku rasakan terjadi pada simbah semenjak Lebaran 2012. Setelahnya menjadi semakin parah. Belum ada semacam penelitian ilmiah ( dianggap tidak ada gunanya, barangkali ) disekitaran Bantul, apakah kadar keimanan, tingkat pendidikan, makanan dan minuman ( khususnya nutrisi otak ), keseimbangan emosi, faktor lingkungan dan keluarga mempengaruhi fenomena ngomyang ( yang dikatakan sebagai Schizophrenia ) menjelang kematian.
Halusinasi, delusi, ngomyang oleh sebagian orang yang belum bisa memahami dianggap absurd, dilukiskan Triyanto begitu imajinatif, kadang menjijikkan dan memuakkan dalam beberapa bagian.
Sayang sekali pintu kamar terkunci. Karena itu, kalian pun berebut mengintip dari
lubang kunci. Tak ada yang istimewa bukan ?. Mengapa kau berteriak – teriak dan
menganggap dia berkacak pinggang menyerupai Bima ?. Aku lihat sedikit pun
matanya tak menyala. Tangan kirinya juga tak sedang mengayun – ayunkan gada.
Aduh !, lihatlah !, dia terkulai kuku jempolnya tak mengacak – acak bantal.
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 11 ).
Simbah juga terjangkiti gejala serupa. Ketika kami mengintip ( sengaja atau tidak sengaja ) ataupun mendengar suara – suara aneh keluar dari dalam kamarnya. Teriakan, umpatan – umpatan kasar dalam Bahasa Jawa, berkacak pinggang, ngomyang, menuding – nuding dirinya sendiri, bahkan memukuli cermin besar pada almari dalam kamarnya. Ngomyang dengan bayangannya sendiri.
Suara – suara itu terdengar sampai tetangga sebelah, juga orang yang melintas disekitar rumah. Suasananya diperumit dengan masalah warisan tanah yang mulai diperebutkan antar keluarga. Intrik – intrik semakin kental. Terselubung tapi kentara. Apalagi simbah tidak memiliki anak kandung, hanya sebagai ibu angkat bapakku. Sejak kecil bapakku dirawat simbah. Pada masa tuanya, kelurga kamilah yang gantian merawatnya. Simbah adalah kakak perempuan dari ibu kandung bapakku. Sedangkan warisan tersebut selalu menjadi incaran saudara – saudaranya bapak.
Lalu ruang / waktu / benda / non bendawi rebutan warisan //
( Puisi “ Ode Untuk Simbah “ oleh Panji Cybersufi ).
Sudah menjadi kewajaran pula di pedesaan, warisan selalu menimbulkan permasalahan. Banyak pula yang berujung tercerai berainya sebuah keluarga. Aku memilih menahan diri dan tak mau ikut campur dahulu. Karena aku hanya sebagai cucu.
Tentang suara – suara aneh yang diocehkan simbah, tetangga berpendapat ;
  1. Fenomena ngomyang tersebut hanyalah proses dimana seseorang akan menjemput ajal.
  2. Simbah terkena santet atau sejenisnya karena intrik – intrik warisan yang sudah bukan rahasia lagi bagi warga sekitar.
  3. Keluarga kami dikira memaksa, memarahi simbah ( terlebih jika harus dikaitkan dengan warisan, tidak mau mengurusi orang jompo, dan lainnya ).
Dalam keadaan ngomyang, kondisi simbah masih segar bugar. Tolok ukur kesehatan menurut kami, simbah masih rutin makan 3 kali sehari, terkadang masih sholat, diajak berbincang masih nyambung, ingatannya tentang masa lalu masih kuat, tak sedang mengidap penyakit, tekanan darah dan gula darah normal, masih kuat berjalan dalam jarak dekat walaupun dibantu tongkat kayu, masih suka menyapu pelataran dan obong – obong uwuh.
Bukan hanya warga sekitar yang beranggapan mengenai simbah, melainkan keluarga kami dan keluarga Triyanto ( ibu, Tante Noah, kedua adik perempuannya ).
“ Ya Tuhan !, mengapa dia telanjang dan menari – nari seperti Cleopatra ?. Mengapa
mataku jadi tak waras ?. Mengapa aku seperti melihat tubuh ibu pada saat usia dia masih ranum ?.
Wahai, bahkan payudara dan puting ibu pada usia 15. Iblis sungguh – sungguh telah merasuk
ketubuhnya ! ” kau berteriak – teriak tak karuan.
“ Jangan – jangan iblis akan menganugerahkan moncong Anjing ke mulut nenek, sehingga
ia bisa melolong – lolong membelah kesunyian kampung “, kau mendesis lagi.
“ Ya, jangan – jangan malaikat memberikan lidah api, sehingga saat masuk ke kamar, dia
menyemburkan cahaya paling panas yang menghanguskan tubuh kita yang indah “.
Semburmu sengit.
Lalu, kau memekik hebat justru ketika Nora mendapat giliran mengintip, “ kalian keliru semua.
Nenek tak sedang menari atau mengacak – acak bantal. Dia sedang bermain kelereng dengan entah
siapa. Pandanglah dengan mata nanar, dia sedang berjongkok dan membidikkan kelereng ke kelereng – kelereng lain. Aha, kini dia mirip aku saat mematahkan perlawanan musuh – musuh dalam permainan kelereng masa kanak – kanak di pelataran “.
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 12-13 ).
Tepat !. Siklus kehidupan manusia berawal dari tiada--- ada --- meng-ada --- tiada. Dari mulai pertemuan sperma dengan sel telor ( secara alami ataupun rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi ). Embrio – bayi – kanak – remaja – dewasa – tua - mati. Kadang siklus itu terulang ketika memasuki usia senja, seorang jompo terkadang bersikap kekanakan, seperti bayi tak berdaya, ataupun rapuh dan bijak seperti orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan, atau telah mengalami mati sajroning urip itu sendiri.
Lalu apa arti ketuaan itu ?!, wahai makhluk – makhluk berdaging ?!, wahai kumpulan – kumpulan medan energi ?!.

Keluarga kami pun berbeda pandangan mengenai keadaan simbah, ada yang menganggapnya ngomyang --- Schizophrenia --- itu merupakan proses menjemput ajal karena faktor usia yang renta ( tidak berbeda dengan pendapat masyarakat kampung pada umumnya ), terkena santet, cekelan ( jimat ) simbah yang masih menahan ruh nya dalam tubuh renta, ketakutan seorang manusia menghadapi kematian, mungkin simbah telah merasa ( ku yakin memang iya ) bahwa warisannya akan menimbulkan perkara pasca kematiannya, situasi seperti ini membuatnya bingung campur sedih serta tak rela, keinginanya untuk melihat cucunya ( aku ) yang belum juga menikah membuatnya enggan dan menolak Malaikat Maut , dan berbagai kemungkinan dari segala ketidak pastian.
Simbah berusia 98 tahun waktu itu. Kakek telah meninggal jauh sebelum aku dilahirkan, tak sempat melihat sosoknya bahkan fotonya pun tidak tersisa. Tapi Pohon Rambutan tinggalan kakek di pelataran masih tetap tumbuh dan berbuah.
“ Kakek sudah mati, Sayang. Jangan kau sebut – sebut namanya lagi “.
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 16 ).
Halusinasi dan delusi itu cepat menular pada keluarga kami, khususnya ibu. Saking sering mendengar ngomyang nya simbah, membuat tekanan darahnya naik. Wajar karena sehari – harinya ibu hanya tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga mengurusi kami dan simbah. Kalaupun pergi keluar, hanya sekitar warung, rumah tetangga, mushola dan masjid untuk sholat dan mengaji, tetapi tetap masih dalam lingkungan kampung juga.
Dalam situasi dan kondisi seperti itu, Triyanto menemukan solusi untuk menyembuhkan penderitaan nenek atau mempercepat kematiannya. Tetapi sudah 7 kyai yang diundang untuk mempercepat kematian nenek, belum berhasil juga. Nenek belum mau mati sebelum cucu terkasihnya mendo'akan agar Tuhan segera mencabut nyawanya3.
Keadaan yang serba tak mengenakkan ini diperunyam dengan santet – menyantet dan warisan.
Kebiasaan di kampung jika seseorang menderita penyakit yang parah, menahun, serta keadaan aneh lainnya yang secara medis tak terdeteksi penyakitnya ( dikatakan sehat secara medis ), mereka akan meminta bantuan kyai. Kyai dan warga sekitar akan berkumpul, berdo'a bersama khususnya membaca Surat Yasin. Dengan tujuan meminta kepada Tuhan, jika memang sudah tidak bisa diobati, segeralah diberikan kemudahan dalam menjemput ajal. Surat Yasin yang telah dibacakan sebagai bekal. Sebaliknya melalui perantara do'a, kemungkinan penderita masih bisa diupayakan kesembuhannya.
Schizophrenia sebenarnya merupakan ranah psikologi, dibutuhkan seorang psikiater untuk menanganinya. Kasus ini akan tambah pelik jika penderitanya orang jompo yang tinggal di kampung. Konotasi masyarakat ; psikiater adalah orang yang menangani sakit jiwa, gila ( para koruptor juga termasuk, mungkin ). Tidak mungkin menganggap keluarga sendiri sebagai orang gila. Diperparah lagi dengan keterkaitan ( dikait – kaitkan ) antara Schizophrenia dengan gangguan gaib.
Tulisan ini bukan ingin agar orang mempercayai hal – hal gaib diluar nalar manusia. Orang yang mempercayai hal – hal gaib mungkin dikatakan Schizophrenia, ataupun sebaliknya. Orang dikatakan Schizophrenia, jika tidak mempercayai hal – hal gaib. Mungkin orang – orang yang dapat merasakan, melihat hal – hal gaib mempunyai kadar spiritualitas yang tinggi4.
“ Karena ceritamu akan jadi nonsense( Triyanto Triwikromo, 2003:12 ).
“ Bandel. Kau harus mengonstruksi ulang ceritamu. Jangan sok absurd. Jangan sok
surealis. ( Triyanto Triwikromo, 2003:14 ).
“ Lalu kau ! / ya kau ! / menganggap itu kisah usang //
( Puisi “ Ode Untuk Simbah “ oleh Panji Cybersufi ).
“ Inilah cerita yang kau sangka konyol itu “. ( Triyanto Triwikromo, 2003:14 ).
“ Kali ini aku gemetar ( apakah kau masih menganggap aku mengidap Schizophrenia ? ) “.
( Triyanto Triwikromo, 2003:18 ).
Lalu akhirnya,
“Mereka akan menjadi nonsense dalam ceritamu !, mereka akan jadi konyol !, mereka akan, …
( Triyanto Triwikromo, 2003:20 ).
Saya seorang yang realistis dan rasional, menghadapi keadaan simbah. Lama aku mengamati aktivitas ngomyangnya simbah. Kebiasaan ngomyang simbah, selalu didepan cermin almari di kamarnya. Dia sering mengaku melihat makhluk – makhluk aneh yang ingin mengganggunya, mencuri pakaian dan barang – barangnya, berulangkali mengajaknya pergi, bahkan sampai memaksa dan memakinya, makanya ia selalu membalas dengan teriakan dan umpatan.
Suatu waktu, simbah bingung sendiri mengemasi seluruh pakaian. Menitipkannya ke kamar ibu agar tidak dicuri. Setiap hari simbah ngomyang, sesekali sampai larut malam didepan lemari. Jika sudah kecapaian, ia akan tertidur pulas. Aku sering memperhatikan tanpa kata – kata.
Simbah selalu mengatakan, orang yang kerap mengajaknya pergi adalah kakek dan Mbah Genyeng. Mbah Genyeng adalah teman sepantarannya yang sudah lama meninggal dunia.
Ngomyang pada dasarnya merupakan kebutuhan manusia untuk selalu berkomunikasi, berdialog dengan dirinya sendirinya. Seperti kita sedang bercakap – cakap dengan sedulur bathin. Selanjutnya akan dibahas dalam “ A Beautiful Mind ; Sebuah Film Kehidupan “.
Telinga risih bercampur kasihan, mengapa ajal menyerang otaknya duluan ?!. Mungkin orang perkotaan tak akan repot – repot memperlakukan Manusia Lanjut Usia ( Manula ). Cukup mengirimnya ke Panti Jompo, sesekali membesuk dan memberikan uang. Tindakan ini lebih baik ketimbang membiarkan orang – orang jompo berkeliaran di jalanan. Demikankah perasaan manusia – manusia yang disebut modern, sadar ilmu pengetahuan dan teknologi ?!.
Bukan !, bukan begitu maksudku !, dikotomi antara “ kota “ dan “ desa “ akan terus terjadi dalam berbagai hal.
Memang para Manula merupakan bagian dari keluarga kita, tak akan menuntut imbal jasa atas segala kasih sayang dan perjuangannya agar anak – anaknya tumbuh dan berkembang baik seperti sekarang.
Lalu kau balas orang – orang rapuh itu dengan ' mengasingkannya ' ke Panti Jompo ?!, bukankah orang – orang jompo dipelihara negara ?!.
Ah !, pernahkah sesekali kita mencoba menyelami kesunyian dikala usia memasuki senja, ketika segalanya mulai mengalami penurunan fisik dan mental ?!.
Orang Jompo, lansia
Bukan Nenek ( Simbah )

“ Berikan aku Gedhang Mas, jika kondisiku sudah parah dan tak bisa apa – apa lagi “
pesan simbah.
Tujuh sampai sepuluh tahun kedepan trend Yogyakarta adalah sebagai kota pensiunan. Artinya Yogyakarta menjadi sebuah tempat yang damai. Tempat yang tepat untuk ' pulang '. Lanjut Usia ( Lansia, umur 60 tahun keatas ) akan menjadi permasalahan sosial yang serius5
Tanggung jawab siapa ; negara, keluarga, dominan yang mana sebaiknya ?!.

Kami mencoba mengalihkan halusinasi simbah dengan selalu menemani, mendengarkan dan mengajaknya bicara ( kita memahami ini sebagai bagian dari kesunyian kala senja ), dan yang terpenting menuntup cermin lemari agar tak membuat ilusi lagi bagi simbah.
Cermin menggandakan bayangan juga perasaan. Seperti Kaca Benggala, ia adalah sarana refleksi. Namun dalam mata wajar sekalipun, bayangan – bayangan kian aneh, selalu ada yang kurang dari diri kita sebagai manusia, siapa lalu memenangkan pertarungan melawan diri sendiri ?!. Seperti cermin dan bayangan.
Selama beberapa minggu, cara itu terbukti efektif. Simbah tak lagi ngomyang. Tapi sekarang ia seperti kesurupan yang telah tertahan lama, dicabik – cabiknya penutup cermin di lemari. Jadilah cerita ini dimulai lagi dari awal mula. Saat ngomyang itu menjadi fenomena.
Nenek memang belum layak mati. Tak akan mati sebelum kau, cucu paling terkasih, bersedia memohon kepada Allah agar Ia segera mencabut nyawanya.
“ Aku sudah berdo'a dari jauh, … “
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 11 ).
“ A-su !, bajingan !, tai ngangsu !, maju kabeh “
“ Politik ! “
“ Wo jan, politik ! “
“ Maju kabeh, bajingan ! “
“ Sret, … brak ! “
Ya, waktu itu aku harus meninggalkan Yogya demi kepentingan pekerjaan di Kudus. Diajak teman untuk membantu Program Sanitasi Perkotaan. Program MDG's yang dikerjakan USAID bekerja sama dengan PDAM dan Bank Syari'ah setempat.
Cerpen “ Cinta Sepasang Kupu – kupu “ memang dipenuhi birahi yang luar biasa liar. Puncak dari rasa cinta adalah hubungan penyatuan seksualitas dalam artian luas dan jernih. Persenggamaan manusia, alam menumbuhkan ladang – ladang penuh kesuburan. Disitu pulalah manusia belajar mengolah raga dan rasa. Cinta dan birahi dalam cerpen ini dilukiskan secara harfiah. Mungkin cinta dan kematian hanyalah ilusi otak manusia.
Jangan kau kutuk cinta yang paling terkutuk sekalipun. Dalam cinta, usia hanyalah angka -
angka yang absurd. Dan tubuh ?, tubuh tak mengenal keriput atau kematian yang mengadang .
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 17 ).
Keblasuk ke Kuburan China dekat Universitas Muria Kudus ( UMK ). Aku seperti takjub, namun bukan ketakjuban seorang Sitor Situmorang yang melihat cahaya rembulan menyinari cungkup, sepulang perjalanannya ke rumah Pramoedya Ananta Toer, tapi tak ketemu. Momen ini yang melatar belakangi Puisi " Malam Lebaran ". Beberapa hari setelah itu, aku bermimpi tentang simbah.




Kuburan China
Sabtu Pahing ( 15 / 09 / '12 ) menjelang Subuh aku bermimpi, tubuhku mendadak ringan terbang dari Kudus menuju Yogya. Kulihat sendiri diriku keluar dari tubuhku yang sedang berbaring di kamar, lalu melesat. Kulihat simbah di kamar terlentang, tak berdaya. Dia terlihat kaget ketika ku datangi. Seolah lidahnya ingin berkata. Yang kudengar hanya, “ Kerise neng ndi ?! “. “ Digowo Pakdhe “ jawabku cepat. Secepat itu pula tubuh simbah memudar. Segalanya berubah menjadi hutan belantara, suara – suara aneh, makhluk – makhluk aneh. Segalanya adalah alam.
“ Oh begitu cepat. Simbah pamit layon6 “ batinku.
Mimpi adalah cara lain dalam berkomunikasi terhadap sesuatu. Ini bisa terjadi karena faktor kedekatan batin. Dapat pula diartikan ;
  1. Terlalu sering memikirkan
  2. Terlalu mencintainya
  3. Terlalu membenci
  4. Terlalu sering bertemu secara fisik
  5. Hanya bunga tidur
Sungguh memang ter-la-lu !. Dalam khasanah Jawa, diringkas dalam 3 kata ; Titiyoni, Gondoyoni, Puspa tajem.
Ternyata Subuh kian jauh, rapuh tak tersentuh. Karena itu, adakah siksa yang lebih menyakitkan
ketimbang kesunyian menunggu iblis yang abai pada jam kematian perempuan tua yang telah
kehilangan kehijauan sepasang mata undan ?.
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 19 ).
Mereka ( sepasang Kupu – kupu yang tersesat di kegelapan malam ) saling mengejar hanya untuk meyakinkan pada diri sendiri betapa diujung langit masih ada cahaya, kehidupan dan ranting – ranting hijau untuk hinggap dan bermesraan.
Seorang renta teruslah berkisah / Keduanya bertukar / Kupu - kupu terbang rendah /
dodor dhodhotnya / Antara beban dan terbang/ semua mengambang/ O udara, segala hal dilaluinya ! //
( Puisi “ Ode Untuk Simbah “ oleh Panji Cybersufi ).
Entahlah. Yang jelas, sepasang Kupu - kupu telah terbang membentur – benturkan sayap ke nyala bohlam ( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 19 ).
Jam 06.00 WIB, adikku menelpon. Katanya simbah telah meninggal pukul 05.30 WIB, aku harus segera pulang.
Daging - daging tua ini minta disholatkan / kata - kata ini minta dikembalikan
pada asal mula kata / " mantra " / kata Tardji //
Waktu kembali purba / segala memutih / kosong / transparan / terbekukan /
Cerita tentang manusia diawali tangisan / diakhiri tangisan / Lalu dimana kau
letakkan senyuman ?! / pada bibir keriput berkata, " Tuhan "-kah ?! " //
( Puisi “ Ode Untuk Simbah “ oleh Panji Cybersufi ).
Sungguh, hanya kau yang menganggap saat – saat terakhir nenek menjemput ajal sebagai peristiwa yang luar biasa. Kau bilang 98 tahun nenek mengelupas kulit waktu tak semudah mendesiskan nama Allah hingga hitungan butir tasbih ke – 99. Dan, kau tak tahu dengan cara apa Tuhan akan menjagal nenek setelah tubuh rapuh itu teronggok bagai bangkai Kucing disudut kamar.
( Triwikromo, Triyanto. 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h. 10 ).

A Beautiful Mind ; Sebuah Film Kehidupan

Ketika melihat film A Beautiful Mind, serasa mengenang almarhumah simbah. Entah, mungkin karena faktor kedekatan pertautan tema tentang Schizophrenia. Boleh juga dianggap mengada – ada, tetapi ini bersumber dari empirisme yang merupakan pengalaman langsung. Ikut serta, melihat dan menganalisa.
Film A Beautiful Mind diangkat dari kisah nyata kehidupan John Forbes Nash, Jr dipadukan dengan biografinya yang ditulis Sylvia Nasar dalam judul yang sama, A Beautiful Mind7 .
Hal yang luar biasa dari kisah yang berdurasi 2 jam lebih ini terfokus pada perjuangan manusia jenius dalam mengalahkan penyakit jiwa Schizophrenia.
John F Nash, Jr ( Russell Crowe ) adalah seorang Ahli Matematika yang berhasil mendapatkan beasiswa di Universitas Princeton tahun 1947. Di Princeton ia bertemu dengan rekan – rekan seangkatan, yang kemudian mengakuinya sebagai yang paling jenius diantara mereka. Nash beruntung mendapatkan teman sekamar, Charles ( Paul Bettany ) yang banyak membantu masalah pribadinya. Terutama saat dosennya sendiri meragukan kemampuan Nash, setelah sekian lama keberadaannya di Princeton belum menunjukkan kompetensinya. Padahal sejak semula, Nash ingin menciptakan teori yang lain dari yang pernah ada. Ia ingin menunjukkan kompetensinya dengan menciptakan ide yang original. Hal itu baru ditemukan ketika teman – temannya berdebat memperebutkan perhatian seorang gadis. Momen itulah John Nash, Jr mengeluarkan teori yang mematahkan teori Adam Smith Sang Bapak Ekonomi Modern yang kokoh selama 150 tahun. The Game Theory atau Nash Equilibrium.

Film peraih Golden Globe, Film kisah nyata
A Beautiful Mind scene
Karena keberhasilannya, beberapa tahun kemudian Nash diberikan kesempatan untuk mengajar di Massachussetts Institute of Technology ( MIT ), bahkan kemudian diminta membantu Departemen Pertahanan Amerika untuk memecahkan sandi rahasia Rusia. Saat itu perang dingin antara Amerika dengan Rusia masih berlangsung. Ditempat ini ia berkenalan dengan William Parcher ( Ed Harris ), yang melibatkannya pada misi – misi selanjutnya.
Dalam kurun waktu yang sama, Nash juga berjumpa dengan Alicia Larde ( Jennifer Connelly ) salah satu mahasiswinya di Massachussetts Institute of Technology ( MIT ). Perkenalan dan hubungan keduanya semakin berkembang. Alicia menyadarkannya, membuatnya memahami tentang unsur terbesar dalam keseimbangan hidup manusia, yaitu cinta.
Momen – momen ( sentimentil ) ini terasakan dalam scene perkencanan, kebersamaan Nash dan Alicia. Pertama kali kala Alicia mengajak sang profesornya untuk makan malam bersama, hmm, … lihatlah reaksi Nash. Juga saat Alicia mengajarinya tentang arti cinta.
Cinta hanyalah perasaan, unsur terbesar dalam keseimbangan hidup manusia agar tak terjebak dalam kecerdasan robotisme. Mungkin juga hanyalah unsur kimiawi, biologi, matematika dan ekonomi 8 . Cinta secara fisik, emosional juga spiritual. Begitulah cinta. Atau bisa pula sebuah perasaan yang dibuat – buat dari serangkaian penelitian ; bahwa cinta itu ada !. Begitulah Nash dan Alicia, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah tahun 1957.
Saat Alicia hamil, barulah ia menyadari bahwa Nash bukan hanya sulit bersosialisasi, melainkan mulai menunjukkan sikap aneh. Ia mulai berbicara tentang orang – orang yang tak pernah dilihat orang lain, paranoid berlebihan.
Kondisi seperti ini juga aku alami ketika masih kecil, belum sekolah, belum bisa baca dan tulis. Tanpa kondisi paranoid yang berlebih, tak punya kesulitan bersosialisasi dengan teman sebaya. Aku sering menciptakan dan berbicara dengan teman – teman yang dianggap fiktif oleh orang lain.
Ada 4 orang Sedhulur Bathin ( sahabat batin, sahabat jiwa ), begitu aku menyebutnya. Retno Dumilah, Bambang Banar Bawana, Nur Kencono Remeng dan Sri Kolem.
Rumah Retno Dumilah disebelah Timur ( Timur = Wetan, kawiwitan ) rumahku, dia awal mula yang kukenal. Kita sering mengaji bersama, bercakap – cakap tentang wujud Tuhan. Maklum kanak – kanak suka berimajinasi. Kesukaanya memakai pakaian serba Putih. Tuturnya menyejukkan seperti air. Sedangkan Bambang Banar Bawana rumahnya agak jauh. Dipinggir Pesisir Selatan. Warna favoritnya Merah, tubuhnya lebih kekar dariku, suaranya keras, pembawaannya berapi – api dan meledak – ledak. Tapi anehnya, simbah lebih suka memanggilku “ Bambang “ daripada namaku sendiri “ Panji “.
Dahulu aku menganggap Nur Kencono Remeng berumah di Kulonprogo tetapi sekarang setiap penjuru Barat ditempatinya. Dia datang dan pergi seperti angin lalu. Semacam kelebatan kekuningan terang, keemasan. Sedhulur batinku selanjutnya, Sri Kolem. Kami jarang bercakap, namun kita saling memahami. Jarang bertemu dan berkomunikasi namun tidak sama sekali membuat relasi menjadi fiktif dan pasif ( tak peduli ). Rambutnya hitam legam, berkilauan. Hitamnya seperti bayangan.
Mereka memiliki kepribadian dan skill masing – masing, aku selalu tahu bagaimana musti berkomunikasi dengan mereka semua. Sangat mengasyikkan berkumpul dengan mereka, segalanya ada.
Jauh sebelum Dunia Barat mencetuskan konsep Ego State, nenek moyang kita khususnya Orang Jawa telah memaksimalkannya melalui bentuk local wisdom. Kakang Kawah Adi Ari - ari, Sedhulur Papat Limo Pancer, bahkan ada yang menyebutnya Sedhulur Songo. Banyak versi penjelasan tentang ini. Kondisi seperti ini bukan termasuk gejala split personality ataupun kepribadian ganda. Ranah psikologi akan tuntas menjelaskannya.
Sampai saat ini, sedhulur batinku masih setia menemani. Saat menulis, aku selalu ditemani Retno Dumilah 9.
Aku berbohong ketika mengatakan kesunyian, sebab sedhulur batin selalu menemaniku. Terkecuali jika orang menganggap mereka hanyalah fiktif. Tapi ada juga yang menyebutnya bukan dengan nama seperti keempat Sedhulur Bathinku tersebut, namun menyebutnya Mar dan Marti. Mungkin hal ini hanya soal nama, perasaan dan pikiran.

Ketika semuanya semakin parah, Alicia terpaksa menyerahkan Nash pada Dr. Rosen ( Christopher Plummer ), seorang dokter ahli jiwa. Nash divonis menderita gangguan jiwa Schizophrenia. Gangguan jiwa yang unik, juga cukup membahayakan karena tidak dapat disembuhkan secara total. Sepanjang hidupnya penderita akan sangat tergantung pada pengobatan khusus. Keberhasilan proses pengobatan ini pun tergantung dari dukungan keluarga dekat.
Tak jelas, apakah penyakit Schizophrenia ini bisa diturunkan. Namun orang tua yang menderita Schizophrenia tidak diobati, kemudian membesarkan anaknya sendiri, ada kemungkinan anak tersebut akan mengalami tekanan mental sejak dini dan berpeluang juga mengalami gangguan kejiwaan.
Proses pengobatan pun dijalani Nash. Konsumsi obat – obatan dan gangguan kejiwaan menjadikannya tidak mampu lagi berkonsentrasi dalam bidang ilmunya.
Dalam masa terkelam inilah sosok Alicia sebagai istri yang setia dan teguh hati, membantu Nash untuk meraih hidupnya kembali. Berjuang melawan Schizophrenia. 

Alicia dan Nash
Wanita mengungkapkan sesuatu melalui apapun. Lihatlah mata Alicia !.
Perjuangan Nash memang luar biasa. Disamping usahanya untuk merebut kembali hidupnya dari gangguan kejiwaan. Tanpa Alicia, Nash tidak mungkin akan bangkit dari keterpurukan akibat Schizophrenia.
Segala perjuangan Nash digambarkan begitu ' hidup ' oleh Russell Crowe, baik dalam keperkasaannya di dunia Matematika ataupun keterpurukannya dalam gangguan kejiwaan yang dideritanya. Bahkan penulis biografi John Nash berkementar, “ A movie with Russell Crowe can reach far more than a book will “ Nasar said.
Tak kalah hebatnya adalah akting Jennifer Connelly memerankan sosok Alicia. Meskipun baru muncul diparuh kedua film, namun ia mampu membawakan mandat sebagai central dalam keseimbangan kehidupan Nash. Lewat tangan cintanya pula yang menuntun Nash menaiki podium untuk menerima penghargaan Nobel Bidang Ekonomi pada masa tuanya ( 1994 ).
Hollywood Foreign Press Association pun memberikan penghargaan tertinggi pada akting pasangan ini. Mengganjarnya dengan penghargaan Golden Globe tahun 2002, masing – masing untuk Best Drama Actor dan Best Drama Supporting Actrees. Tak cukup hanya itu, 3 nominasi lain juga didapatkan. Best Screenplay ( Akiva Goldman ), Best Director ( Ron Howard ) dan Best Drama Motion Picture ( A Beautiful Mind ). Sayang 1 kategori terlepas, saat Ron Howard gagal mendapatkannya. Padahal disamping Akiva Goldman yang menuliskan skenario yang kuat dan menyentuh, Ron Howard begitu brilliant mengejawantahkannya dalam gambar hidup yang memikat.

Film ini boleh saja didedikasikan untuk John Forbes Nash, Jr dengan mengambil tema yang pekat dalam dunia science, namun justru yang menarik adalah semuanya dijabarkan secara sederhana dan tidak berputar – putar. Howard tak banyak mengumbar adegan yang menguras air mata, ataupun melontarkan berbagai istilah dalam Matematika yang rumit. Sesederhana Nash menemukan The Game Theory-nya, pada akhirnya.
Lewat penuturan kisah nyata, Matematika akan sangat menyenangkan untuk dipelajari 10 .
Adalah tidak mungkin menterjemahkan Biografi A Beautiful Mind yang 400-an halaman itu dalam sebuah film yang hanya berdurasi 2 jam.
“ The story wakes you up to the fact that many types of people suffer for this illness
( Schizophrenia ), and it highlights the fact that people can recover “ kata penulis Biografi
A Beautiful Mind, Sylvia Nasar.
Ya, “ many types of people “ termasuk simbahku juga neneknya Triyanto. Aku tidak tahu harus merasa ; senang, duka, lega, biasa, campur aduk. Kematian jalan terbaik bagi simbah untuk melepaskan diri dari penderitaan. Kematian adalah kepastian. Kepastian yang dirahasiakan. Kerahasiaan itu dapat dirasakan. Al mautu babun, kematian adalah pintu.

Penghujung Mei – 01 Juni 2013 di Jogja dalam kedamaian.
Revisi 1 ( 30 Juli 2013 ).

Catatan Akhir “ Film A Beautiful Mind, Simbah dan Triyanto Triwikromo “
1 Sebuah cerita bisa saja berangkat dari realitas yang serupa dalam rentang waktu yang berbeda. Bisa jadi saling mempengaruhi ataupun tidak sama sekali. Tetapi justru memperkaya perbandingan dalam kesamaan tema.
Cerita yang dianggap absurd oleh orang lain, ternyata menjadi sebenar – benarnya realitas pada orang berbeda pula. Untuk itulah cerita tentang simbahku dan Cerpen Cinta Sepasang Kupu – kupu ( dalam kumpulan cerpen Triyanto Triwikromo, 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, h.10 - 20 ) memiliki korelasi.
2 Triyanto sendiri tidak sepakat dengan kritikan tersebut, demi menghormati kritikannya ia melakukan re-writing besar – besaran. Kritik – kritik Nirwan Dewanto dimasukkannya kedalam teks, sehingga Cerpen Cinta Sepasang Kupu – kupu memiliki struktur yang mengait. Struktur yang berkaitan dengan cerita dan yang berkaitan dengan kritik.
( selanjutnya : Triyanto Triwikromo, ibid. h. xiv – xv ).
3 Bandingkan perlakuan Larung Lanang terhadap neneknya ( Anjani ) yang telah renta dalam Novel ; Ayu Utami, 2001. Larung. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
4 Sebagian orang beranggapan, bahwa agama merupakan gejala neurosis kolektif. Tuhan hanyalah sebuah ilusi, delusi. Pemeluk agama dianggap penderita Schizophrenia.
Sigmund Freud ( 1856-1939 ) pernah mengaitkan agama dengan Oedipus Complex, yaitu pengalaman infantil seorang anak yang tidak berdaya dihadapan kekuatan dan kekuasaan bapaknya. Agama dinilainya sebagai neurosis. Dalam psikoanalisanya tentang unsur kepribadian, dia mengungkapkan hubungan antara ; Id, Ego, Super Ego.
Hasil penelitian Freud berakhir dengan kurang simpatik terhadap realita keberagaman manusia, tetapi temuannya ini cukup memberi peringatan terhadap beberapa kasus keberagaman tertentu yang lebih terkait dengan patologi sosial maupun kejiwaan.
Jika Freud oleh beberapa kalangan dilihat terlalu minor melihat fenomena keberagaman manusia, lain halnya dengan psikoanalisa yang dikemukakan Carl Gustav Jung ( 1875-1961). Menurutnya, ada korelasi yang sangat positif antara agama dan kesehatan mental.

5 Tahun 2020 diperkirakan terjadi ledakan Lanjut Usia ( Lansia ), termasuk di Indonesia. Diperlukan berbagai pemikiran ;
  1. Perlukah dibuat kebijakan khusus Lansia ?!
  2. Kemandirian Lansia, tidak hanya menjadi beban, Lansia yang masih produktif ( bekerja dan berpikir )
  3. Kesehatan Manusia Lanjut Usia ( Manula ), penggalakan Pos Pelayanan Terpadu ( POSYANDU ) Lansia, jaminan kesehatan, dll
Ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan, trend Baby Boomers, penghambat penuaan dini, peremajaan sel – sel tubuh, sistem kekebalan manusia, penundaan kematian, dll.
Penanganan terhadap Lansia juga merupakan amanat pasal 33 UUD 1945. Lansia merupakan salah satu program prioritas nasional sesuai Instruksi Presiden No. 3/2010, bersama dengan anak terlantar, penyandang cacat, komunitas adat terpencil, dan pekerja migran yang bermasalah. Pada dasarnya, Lansia juga terkait masalah kemanusiaan.
Perlu diingat ( kan ) kembali, bahwa DIY merupakan tuan rumah deklarasi kesepakatan pertemuan 11 Menteri Kesehatan anggota World Health Organization Regional Office for South-East Asia ( WHO SEARO ).
Hasil kesepakatan bersama tersebut terkait dengan Lansia yang terangkum dalam Deklarasi Jogja. Mulai dari kebijakan yang baik, program pencegahan penyakit di hari tua sampai pelayanan kesehatan yang ramah Lansia.
Coba sesekali kita berkunjung ke Pantai Jompo, adakah terdapat fasilitas untuk olah raga, ruang baca atau membuat kerajinan, misalnya kaligrafi untuk mengisi waktu ( menghindari kepikunan dengan terus berkarya ataupun sekedar menyalurkan hobby ), program rekreasi bagi Lansia, kegiatan sosial keagamaan, klinik kesehatan yang memadai, dll ?!.
Pelayanan terhadap Lansia di Pantai Jompo pun membuka lowongan kesempatan kerja, pada sisi lainnya.
6 Pamit layon = minta pamit untuk wafat.
7 Penambahan, pengurangan dan penyesuaian cerita dalam film yang berdasar kisah nyata sangat lumrah dilakukan dengan berbagai pertimbangan ( klimaks cerita, durasi, biaya produksi, promosi, lembaga sensor, dll ). Bandingkan Film A Beautiful Mind dengan buku biografinnya dalam ;
Nasar, Sylvia. 1998. A Beautiful Mind. New York : Simon & Schuster
Nasar, Sylvia. 2005. A Beautiful Mind. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 625 halaman.
Biografi yang ditulis Sylvia Nasar tersebut merupakan pemenang National Book Critics Circle Award 1998, dan finalis Pulitzer Prize.
8 Jika menyangkut masa depan, cinta haruslah realistis. Diakui ataupun tidak, status sosial dan ekonomi sangat mempengaruhi relasi antar manusia. Setidaknya orang akan merasa nyaman jika se-level. Kita mungkin sungkan bertanya tentang penghasilan seseorang,
PENGHASILAN ANDA = Penghasilan 5 teman dekat anda : 5
Status sosial dan ekonomi juga menentukan harga diri seseorang. Uang masih dipercayai sebagai alat distribusi dan simbol kemakmuran.
HARGA DIRI
  • Gaji : Rp 4.000.000, 00 / bulan
  • Jumlah hari kerja : 26 hari ( 4 hari libur ). 26 hari X 480 menit = 12.480 menit
  • Jumlah jam kerja : 9 jam ( 1 jam istirahat ) / hari. 8 jam X 60 menit = 480 menit
HARGA DIRI = Rp 4.000.000 / 26 = 153. 846, 15 / 480 = 320,51281 / 60 = 5, 3418801
HARGA DIRI = Rp 5, 3418801 / jam.
Dari rumus sederhana tersebut dapat disimpulkan ;
  1. Faktor lingkungan dan teman akan sangat mempengaruhi penghasilan dan nilai diri seseorang
  2. Relasi hubungan antar manusia menciptakan peluang bisnis ( sistem jaringan dalam berbagai bidang ). Sumber Daya Manusia adalah asset.
  3. Harga diri ( secara materiil ) dalam kasus ini, bekerja selama 9 jam dengan istirahat 1 jam menentukan harga dirinya selama 24 jam ( 1 hari ). Sedangkan waktu yang tersisa selain untuk bekerja ( 15 jam ) masih bisa dimanfaatkan untuk ;
Menambahkan harga diri secara materiil dan atau menambahkan harga diri secara non materiil.
Pada dasarnya manusia itu terbentuk dari nilai materi dan non materi, seperti juga uang dengan nilai instrinsik dan ekstrinsik. Alokasi waktu 15 jam akan menentukan nilai materiil dan non materiil.
  1. Perencanaan alokasi keuangan ( management keuangan ) sangat diperlukan.
Nah, jika orang yang belum punya gaji Rp 4 Juta per bulan seperti saya ini ?!.
Hal paling realistis ketika ingin menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, ditempuh dengan cara ;
  1. Menambahkan harga diri secara material. Waktu dan nilai penyusutan terhadap berbagai hal juga perlu dipertimbangkan pengaruhnya, karena keadaan ceteris paribus itu tidak ada sesungguhnya..
Lalu jika uang, waktu dan kesehatan sudah tidak menjadi masalah, apa yang ingin dilakukan ?!.
  1. Pilih yang bisa memahami keadaan diri, hidup dengan cinta, syukur dan apa adanya --- hal ini klise --- tetapi banyak juga orang yang telah membuktikannya.
Kadang orang memerlukan motivator, alasan diluar dirinya sendiri ( faktor eksternal ) untuk membangkitkan The Giant dalam diri manusia, jika The Power of Kepepet itu masih kurang untuk mngembangkan kapasitas diri. Keterpepetan ( alami, artifisial ) ' memaksa ' setiap orang untuk memilih, terlepas dari berbagai kemungkinan.
Karena cinta itu proses, cepat atau lambat perasaan cinta itu datang bukanlah ukuran tetapi ruang dan waktu mempunyai batasan yaitu otak kita, hati manusia. Proses itu ; eksistensi diri --- bertahan hidup --- berkembang biak ( secara luas ). Sejak dahulu memang begitu, tak terbantahkan !. Sedangkan teknologi hanya mengeksplorasi, mensubtitusi bagian – bagian itu ( eksistensi diri --- bertahan hidup --- berkembang biak ).
9 Saat menulis ini pun, Retno Dumilah selalu setia menemaniku. Ia sering cerewet mengingatkanku tentang ; gagasan atau tujuan, bentuk, gaya, struktur, ketrampilan dan permukaan pada sebuah karya.
10 Sebuah Tv swasta nasional ( Kompas TV ) memberikan inspirasi dengan menayangkan program Scince Is Fun, sebagai pioneer bahwa dunia sains bisa dipelajari dengan sangat menyenangkan.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

1 komentar:

Komentar anda akan memperkaya wawasan.