Social Icons

Sabtu, 26 Mei 2012

Wayang Sebagai Komoditas Industri dan Pariwisata


... Gaya hidup ini berakar dalam khasanah kebudayaan yang terhimpun dalam kesusastraan Jawa kuno dan  Wayang ( pertunjukan permainan bayang yang diiringi musik serta seni tari ). Wayang itu mempunyai makna keagamaan. Pertunjukan wayang diadakan pada saat – saat  terpenting dalam kehidupan manusia seperti  kelahiran, perkawinan dan  khitanan juga untuk mengelakkan malapetaka  atau  menghalau penyakit dan  segala pengaruh lain yang bersifat merusak. Pertunjukan wayang ini secara kuno merupakan tontonan suci dimana leluhur yang  telah didewakan muncul diatas pentas...
Kesusastraan klasik menurut  Stutterheim, suatu museum nilai - nilai kehidupan kuno, telah memberi kepada  Rakyat  Jawa pegangan hidup, pelajaran tentang pembentukan watak dan  budi bahasa, pengertian akan jiwa manusia dengan  segala  kebaikan dan keburuknnya. Pertunjukan ini memperkokoh hidup yang benar, memberi juga  jalan keselamatan, mengantar ke dalam rahasia – rahasia  hidup ( DH. Burger ).


Berawal  dari menggubah, mencipta ulang Kitab Ramayana dan  Mahabharata ( India ) oleh sastrawan Jawa, ditransformasikan dalam kultur lokal. Seni budaya pada  dasarnya netral,  bisa diisi dengan  jiwa – jiwa  agama dan  kepentingan. Sejalan dengan  strategi yang tercermin dalam kesusastraan Jawa. Berusaha menyerap unsur  ajaran Tasawuf Islam ditemukan dengan  tradisi Ilmu Kejawen. Islamisasi Wayang, Jawanisasi Islam.
Dewasa ini kita menghadapi kewajiban kembar ;  melestarikan budaya bangsa yang kaya dan  membangun sebuah kebudayaan nasional yang modern. Pelestarian berfungsi menemukan identitas diri serta menjaga budaya asli. Sehingga budaya tesebut dapat terus  dikembangkan tanpa meninggalkan akarnya.
April 2005, UNESCO telah menetapkan Wayang  ( Indonesia ) sebagai  salah satu  budaya milik dunia. Hal itu merupakan momentum yang tepat membangun, mengembangkan kebudayaan nasional  yang merupakan peleburan dan  penjumlahan puncak – puncak  kebudayaan daerah ( lokal ). Kebudayaan nasional menjadi  instrument yang  mengakomodasi masa kini, membuka pintu masa depan. Sedang budaya barat diintegrasikan untuk mendukung dan  mengembangkan.
Indonesia mempunyai  keunggulan lebih untuk mengembangkan kepariwisataan. Keadaan geografis, lokasi yang strategis di dunia dan  multi kultur. Peranan pemerintah, pengusaha dan  pers mutlak diperlukan.
Penghargaan, pengakuan UNESCO disambut baik sekaligus mengkwatirkan.

1. Sebagian besar artefak, dokumen – dokumen  sejarah banyak disimpan dan  menjadi  koleksi museum – museum  luar negeri.

2. Pelestarian dan  perkembangan Wayang itu sendiri di Indonesia.
Hal itu berimbas pada sulitnya menemukan bukti dan  jejak sejarah bangsa sendiri.  Juga minat anak muda terhadap  budaya asli semakin luntur digerus budaya modern.
Menempatkan Wayang sebagai  komoditas industri dan  pariwisata dalam konteks pengembangan dan pelestarian, perlu diambil perspektif dari segala segi. Dirumuskan dalam suatu sistem kerja yang terkait, teratur, menguntungkan dalam bidang industri dan  pariwisata. Titik temu tersebut merupakan landasan perencanaan pelestarian dan  pengembangan budaya asli ditengah modernisasi.
Tetapi perlu disadari, perkembangan dan  penyebaran kebudayaan juga  mempunyai dampak ;

1. Disintegrasi fungsi
Tercerai - berainya fungsi sosial dan  kebudayaan yang orisinil tatkala dikembangkan secara  global.

2. Indeterminasi fungsi.
Kesimpang - siuran batasan – batasan  fungsi sosial dan  kebudayaan ketika memasuki interaksi global.

3. Deteritorialisasi fungsi.
Tercabutnya berbagai fungsi sosial dan  kebudayaan dari teritorial asli, mengalir dalam ruang global menciptakn berbagai kontradiksi kultural.
Saat itulah terjadi Histeria Kebudayaan.


Teknologi Komunikasi Sebagai Alat Pelestarian Kebudayaan


Perkembangan dunia komunikasi dan  informasi begitu besar dirasakan peranannya. Segala aktivitas keseharian tanpa melibatkan aspek komunikasi dan  informasi, akan tertinggal jauh dari rangkaian peradaban ( perubahan ) dalam pola hidupnya. Komunikasi dan  informasi akan membuka lebar  jalan menuju pencapaian harkat ,  martabat manusia.
Munculnya kajian- kajian  Komunikasi Bisnis, Komunikasi Politik, Komunikasi Masyarakat, dll merupakan suatu fenomena monumental abad ini. Tak salah sekiranya Alvin Toffler mengungkapkan bahwa abad ini adalah abad gelombang informasi.
Salah satu  ciri manusia abad 21 adalah obsesi akan keabadian ( immortality ) segala hal. Difoto, direkam, dishooting, didownload, dll.
Segala macam dakwah sekarang tidak begitu memerlukan wasilah dukungan kesenian dan  kebudayaan tradisional. Diperlukan penguasaan alat- alat  komunikasi canggih sesuai dengan perkembangan zaman. Bila masih perlu wasilah, hendaknya pesan para seniman ditujukan utk jiwa-jiwa  keagamaan. Keberadaannyapun tak bisa diabaikan.
TV telah menjadi  sebuah " Kotak Jiwa " yang merupakan hasil rekayasa genetika kebudayaan ( kloning kebudayaan ). Wajar jika Walter Benjamin dalam " The Work of Art in The Age of Mechanical Reproduction ", teknik reproduksi akan melenyapkan selamanya aura sebuah obyek-- pancaran rona yg dipancarkan sebuah pohon ketika berteduh dibawahnya  ataupun sedang  menatapnya.
Hal itu menimbulkan ekses emosi yang tak dapat dikendalikan sebagai  Histeria Kebudayaan.
Begitupula aspek kesenian, telah menambah atau  lebih tepatnya menggunakan teknologi komunikasi untuk berinteraksi, sosialisasi.
Pagelaran Wayang kulit mulai merambah Media elektronik. Tak pelak disulap menjadi kegiatan ekonomi, bisnis dan  hiburan. Walaupun masih berkutat pada  pencarian bentuk pengembangannya. Kadangkala kabur ataupun  win – win  solusi antara tradisi, ekonomi, bisnis dan  hiburan.
Kaset  siaran wayang kulit pernah mengalami masa kejayaannya. Lakon – lakon  tertentu direkam, didistribusikan massal. Radio – radio  ( khususnya Jogja ) masih rutin menyiarakan wayang kulit di malam hari. Terlepas animo masyarakat. Tetapi sudah menjadi  semacam klangenan, khususnya bagi orang tua. Di angkringan ( koboinan ), pos ronda,  kita masih bisa mendengarkan suara - suara kuno itu sambil menyeruput Wedhang Jahe  dan  gorengan.

Hanya saja ini terjadi pada golongan tertentu. Artinya wayang masih terus dipublikasikan, dinikmati, menjadi klangenan dan  kerutinan.

Wayang, Budaya Lokal, Wayang Kayu, Pengrajin Wayang
Wayang Sebagai Komoditas Industri dan Pariwisata.
Sebagai  anak muda, sebenarnya hanya perlu sebuah pemikiran untuk  mengemas ulang materi wayang dalam bentuk audio visual juga manegementnya. Tetapi apakah anda rindu wayang yang asli tradisi ?!.


Jurnalisme Budaya ; Membangun Suatu Bentuk

... Dominasi kekuasaan diperjuangkan disamping lewat kekuatan senjata, lewat penerimaan publik ( public concern ) yang diekspresikan lewat mekanisme opini publik ( Gramsci ).


Sistem desentralisasi dan otonomi daerah memberikan kesempatan seluas - luasnya untuk mengembangkan seluruh aspek lokal. Sektor- sektor  lokal yang bertujuan menambah pemasukan daerah. Pendapatan daerah berarti pembangunan. Daerah diharapkan mampu mengelola sumber – sumber  lokalnya. Pemerataan dan  perluasan hasil pembangunan, akan dengan  mudah dipantau, diinformasikan hasilnya secara berkala dan  transparan melalui media publik.
Terlebih peranan media lokal sebagai  pembentuk opini masyarakat. Walaupun pembentukan opini Media massa itu masih debatable. Banyak yang mengatakan, media harus netral.
Tak dapat dipungkiri Media Lokal mempunyai kekhasan dalam hal turut mengangkat masyarakat dan  budaya. Mungkin faktor kedekatan geografis yang mendalam salah satunya. Tetapi Apakah peran media massa sebatas pemberitaan cover both side, all side ?!.
Media lokal cenderung mengangkat kekhasan lokalitas. Budaya lokal merupakan nilai jual. Kekhasan ini yang tidak dimiliki Media Nasional. Bicara masalah budaya, khususnya Wayang mau tak mau harus mencari kembali  bentuk untuk dapat survive dalam seleksi modernitas.
Fenomena perkembangan wayang menjadi alternatif pilihan. Agar Budaya adhiluhung ini tak terlalu jauh dari generasi muda. Upaya – upaya  Indonesiasi Wayang ( Wayang Sandosa ), Bajra Bagaskara ( pernah ditayangkan per  episode di TV swasta ), juga Wayang Pancasila yang fenomenal. Ria Jenaka  ( TVRI ) yang merupakan  alternatif humor wayang ala Punakawan ( Semar cs ) setiap akhir pekan. Walaupun akhirnya menjadi alat politik golongan tertentu. Bahkan sekarang yang sedang digandrungi, Wayang humor ala Opera Van Java ( OVJ, Trans 7 ) juga perkembangan Wayang Beber terbaru yang dipopulerkan Komunitas Wayang Beber Metropolitan ( WBM ).
Bayangkan dengan nasib Wayang China-Jawa ( Wayang Kanthong, Potehi ) yang hampir punah. Koleksi asli  dan  naskah asli disimpan di Jerman, sebuah disimpan di Museum Sonobudoyo, Jogja.
Sponsor Wayang dewasa ini lebih menekankan segi drama  dan  pemanggungan wayang kulit, soal teknis seni ( sabetan, suara dan  pesinden ). Perubahan dari kesusastraan ke tonil yang ramai adalah populernya lakon – lakon  Carangan, khususnya adegan dengan  para 'Butha' , raksasa ( Magnis ). Klop sekarang pemikiran itu.
Jurnalisme budaya memiliki kekhasan. Disamping menginformasikan juga turut serta mengembangkan budaya asli. Menanggapi peristiwa sepanjang napas kebudayaan untuk setidaknya,

1. Mengeksiskan kata 'adhiluhung' menjadi 'kerutinan yg mendarah daging'.
Bersifat keseharian, informatif, pemantauan perkembangan serta dapat dinikamati secara luas ( jarak dan  waktu ).

2. Membuat ruang publik sebagai mediasi.
Contoh ; Jurnalisme Budaya, Jurnalisme Islami, dll.

3. Lembar- lembar  Folklore lokal  yang berhubungan dengan  Kepariwisataan, Industrialisasi. Setidaknya Bangsa yang mengenal budaya, seni, sastra tidak akan menjadi Bangsa yang bar - bar.


Pertunjukan Wayang, Wayang Beber, Wayang Beber metropolitan.
Pertunjukan Wayang Beber.

Menuju Desa Wisata Wukirsari, Imogiri, Bantul, DIY, Indonesia


A. Peranan Pemerintah Dalam Permodalan, Pemasaran, Ketrampilan Teknik Dan  Management.

Usaha Kerajinan Wayang kulit ( tatah sungging ) di Dusun Pucung, Wukirsari, Imogiri, Bantul, DIY sebagian besar merupakan sumber penghasilan pokok ( Munjianto, Skripsi : 2002 ). Besar kecilnya modal tergantung besar kecilnya usaha Home Industry tersebut. Modal sendiri dianggap lebih aman dan tdk menanggung resiko tinggi. Sulitnya persyaratan peminjaman modal menjadi alasan utama. Untuk menghemat, biaya produksi dan penyediaan bahan baku ( Kulit Kerbau, Sapi dan Kambing ) disesuaikan dengan pemesanan. Umumnya donatur  atau  sponsor juga  memperhatikan jumlah produksi, saluran - saluran distribusi masal.
Untunglah, pasca Gempa Yogya 2006 persyaratan peminjaman modal itu menjadi semakin  mudah. Pemerintah memberlakukan Program KUR ( Kredit Usaha Rakyat ). Ditambah kebijakan Pemda Bantul yang membangun Pasar Seni Gabusan ( Jl. Parangtritis ), sebagai tempat interaksi pengrajin dan  pembeli serta display produk kerajinan. Diharapkan mampu menyaingi brand image-nya Pasar Sukowati, Bali.
Tak dapat dipungkiri, produk Kerajinan Tatah Sungging Pucung sudah mampu berkiprah di dalam dan  luar negeri.  Pasar lokal Bali, Bandung, Jakarta juga manca negara. Canada, Jerman, Jepang, Italia dan Suriname. Promosi Pemasaranpun gencar dilakukan, setiap tahunnya di adakan Bantul Expo di Pasar Seni Gabusan. Walaupun belum mmpunyai greget, tetapi patut diapresiasi sebagai  terobosan. Konsep berwisata dan industri akan sangat pas diterapkan. Membidik pasar lokal, nasional sekaligus  internasional. Letak Pasar yang merupakan Jalur stategis Wisata ( Desa Wisata Pandes-- Desa Wisata Tembi--Desa Wisata Manding--Pantai Parangtritis ). Bukan hanya sebagai  ampiran rombongan wisata saja .
Sedangkan untuk Home Industry, sistem keterkaitan bapak angkat dan  Mitra Usaha bertujuan meningkatkan nilai tambah serta  mendorong pembentukn kelompok usaha bersama ( KUBE ) meningkat menjadi  Koperasi ataupun Perseroan yang lebih menguntungkan. Program Berbasis Masyarakat, meningkatkn SDM dalam bidang  kewirausahaan dan  kepariwisataan.
Selanjutnya Home Industry memberi sumbangn lebih besar bagi pertumbuhn ekonomi nasional.

B. Desa Wisata

Pariwisata yang tepat adalah pariwisata yang secara  aktif membantu dalam mnjaga suatu daerah kebudayaan, sejarah dan  alam.
Dapat dilihat sebagai perencanaan dan  pengembangan pariwisata yang menyebar dan  menekankan pengidentifikasian warisan suatu area ( Chenem 1998:8a ).
Desa Wisata dikembangkan berdasar  Konsep Community  Based Tourism ( CBT ). Desa Wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan  fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan  tata cara dan  tradisi yang  berlaku ( Nuryanti, Wiendhu. 1993. Concept, Perspective & Challenges, makalah bagian  dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogya : Gadjah Mada University Press. Hal 2-3 ). Panjang amat bo, atau  Edward Inskeep dalam Tourism Planning  an Integrated and  Suistainable Development Approach, hal. 166.
Village Tourism, Where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and  learn about life and  the local environment.
 Nah dengan begitu kita akan samakan persepsi tentang Desa Wisata.
Desa Wukirsari terletak di sebelah selatan Kota Jogja. Luas 15 km persegi, terdiri 16 dusun dengan  91 RT. Akhir 2007 Jumlah penduduk mencapai 14ribu dengan  kepadatan 1.500 jiwa/km2. Tahun 2009, Desa Wukirsari terus berkembang menjadi  Desa Wisata. Dengan  keunikan produk Home Industry nya ( Wayang, Batik, Bambu, Keris ), Alam ( Sungai Opak ), Situs Sejarah ( Makam Raja Mataram di Pajimatan ), Kuliner ( Tiwul Ayu, Pecel Kembang Turi,Wedhang Uwuh ), Kesehatan ( Teknik Gurah ) layaklah dikembangkan dlm konsep CBT. Tidak hanya melestarikan kebudayaan tradisional tetapi juga memberikan kesejahteraan masyarakat.
Desa Wisata, Pengrajin Tatah Sungging, Pecel Kembang Turi, Menu Lokal, makanan Tradisional.
Pecel Kembang Turi

1. Pemberdayaan Penduduk Lokal.




Desa Wisata Wukirsari, Imogiri, Membatik, Batik Tulis.
Desa Wisata Wukirsari
Home stay Desa Wisata Wukirsari, gazebo, home stay.
Home stay Desa Wisata Wukirsari.
 Melalui pelatihan SDM. Desa Wisata berarti masyarakat setempat yang mengkonsep, menjalankan, mempertanggung jawabkan sendiri tentang kepariwisataan. Masyarakat akan terkonsep dalam Sadar Wisata. Masyarakat mengorganisir bersama dalam suatu Koperasi Desa.  Bekerjasama dengan  Biro Wisata untuk mempermudah promosi. Pemda, Departemen Pariwisata hanya sebatas memfasilitasi, promosi dan  pembinaan. Inilah yang disebut Otonomi Lokal tingkat Desa. Rata – rata  di Jogja telah berkembang. Kesemua itu berpedoman  pada Sapta Pesona ( Aman, Tertib, Bersih, Sejuk,
Indah, Ramah, Kenangan ) terbingkai apik di Kabupaten Bantul dalam slogan  Projo Taman Sari.


2. Penataan Kembali, Memperhatikan Demografi Penduduk ( Letak, tanah, komposisi Penduduk dan  sarana pendidikan ).

Akses jalan masuk yang mudah ke Desa Wisata juga angkutan umum yang memadai. Pembenahan fisik dan  non fisik dengan mempertahankan ciri ketradisionalannya. Bentuk rumah Limasan, Kampungan, Joglo. Ditunjang dengan pembangunan Sarana Home stay, Tempat Produksi, Warung dan  fasilitas – fasilitas  pendukung lainnya. Untuk mengakomodir segala sesuatu itu Pemerintah telah menjalankan Program PNPM Pariwisata.
Penguatan kelembagaan secara terus - menerus mutlak diperlukan.


3. Mengintepretasi dan  Mengidentifikasikan Area.

Apa yang akan dijual dari Desa Wisata tersebut ?!.  Life performent menjadi atraksi Budaya yang menarik. Pagelaran Wayang, Sholawatan, Paket latihan Menatah dan  Mewarnai Wayang, Membatik, Nguras Enceh di Makam Pajimatan, dll. Akhirnya dalam Konsep Sadar Wisata-Industri, penduduk mampu memetakan geografis dan  budaya setempat.
Jika anda anak muda yang tidak suka Budaya tradisional, tetapi tunggu dulu. Jika Budaya itu menghasilkan uang, bagaimana ?!.
Kedepan mungkin Desa Wisata Wukirsari masih bisa dikembangkan . Konsep Wisata Konvensi juga pembangunan Museum Wayang.
Bahkan bisa dikatakan mampu diwujudkan. Bagaimana dengan  Desa Wisata Kebonagung  yang notabene masih 1 kecamatan dengan  Desa Wukirsari, sekarang   telah mampu membangun Museum Tani.

Dalam perjalanan panjang menuju Desa Wisata ini, jika kalian masih 1 persepsi dengan  saya tentang wisata juga  wisata hati, mampirlah minum karna hidup hanya mampir minum-- Pepatah Jawa. Mampir Minum Wedhang Uwuh di Makam Raja Mataram, Imogiri.



DIY, 17 Agustus 2011.

Pustaka ;


Artha, Arwan Tuti. Yogykarta Tempo Doeloe, Sepanjang Catatan Pariwisata. BIGRAF : Yogyakarta, 2000.

Marpaung, Happy dan Herman Bahar. Pengantar Pariwisata. Alfabeta : Bandung, 2002.


Munjianto. Skripsi ; Peranan Industri Wayang Kulit Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Pendapatan Bersih Keluarga, Study Kasus di Dusun Pucung, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta ( Tidak dipublikasikan ), 2002.


Ong Hok Ham. Dari Soal Priyayi Sampai Nyi Blorong, Refleksi Historis Nusantara. Buku KOMPAS : Jakarta, 2002.


Piliang, Yasraf Amira. Pos Realitas ; Realitas Kebudayaan Dalam Era Pos Metafisik. Jalasutra : Yogya, 2004.


Simuh. Sufisme Jawa, Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yayasan Bentang Budaya : Yogya, 1999.


by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.