Social Icons

Senin, 04 Februari 2013

Rebo Pungkasan ; Harmonisasi Budaya, Religi Dan Ekonomi



Tradisi Rebo Pungkasan Di Indonesia

Tradisi Rebo Pungkasan berkembang di daerah Jogja, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Rebo Pungkasan ( Rebo Wekasan, Rebo Kasan ) merujuk pada ritual yang dilaksanakan Hari Rabu terakhir Bulan Sapar ( Syafar ) setiap tahunnya. Dari penelitian literer, Ritual Rebo Pungkasan bersumber dari Kitab Mujarrobat Ad Dairoby Al Kabir karya Ahmad Bin Umar Ad Dairoby ( wafat 1151 H ), Kitab Kanzu An Najah Wa As Surur Fi Al Ad`iyah Allati Tasyrohu As Shudur karya Abdul Hamid Quds, Kitab Al Jawahir Al Koms karya Muhammad Bin Khothiruddin Al Atthar ( wafat 970 H ), Kitab Hasyiyah As Sittin dan sebagainya. Pada intinya menerangkan bahwa, di Hari Rabu terakhir Bulan Syafar akan terjadi banyak malapetaka. Umat Islam diwajibkan untuk berdo`a dan sholat pada hari tersebut sebagai penolak bala. Namun semua anjuran sholat di Hari Rabu terakhir Bulan Syafar, tidak satupun merujuk pada nash Qur`an dan Hadits.

Dalam literatur kuno yang disimpan di PCNU Sidoarjo, KH. Hasyim Asy`ari ( pendiri NU ) pernah berfatwa bahwa Sholat Rebo Pungkasan tidak boleh dilakukan dan disyiarkan. Tidak ada dalam syari`at agama Islam dan sumbernya diragukan validitasnya.
Jikapun sholat tersebut tetap dilakukan, hanya perlu mengganti niatnya saja. Bukan niat Sholat Rebo Pungkasan melainkan niat Sholat sunat biasa ( Sholat Hajat agar terhindar dari malapetaka ). Sholat Sunat Hajat ini bisa dilakukan kapanpun, asalkan sesuai dengan ketentuan sholat sunat.
Senada dengan hal itu, Kepercayaan Jawa ( Petangan Jawa, Primbon ) menempatkan Bulan Suro dan Sapar adalah waktu yang penuh malapetaka. Untuk menghindarkan diri dari marabahaya, manusia harus mengadakan slametan ( berdo'a bersama ). Disamping melakukan pencegahan seperti upaya Mitigasi Bencana. Bulan Suro dan Sapar tahun ini bertepatan dengan Bulan November- Desember, mulai Musim Penghujan. Berhubungan dengan unsur air, angin dan tanah. Malapetaka yang merupakan wabah penyakit bersumber ( dampak ) dari Musim Penghujan.
Tradisi Rebo Wekasan kental dengan asimilasi budaya. Di Jawa terdapat 2 model asimilasi, nilai budaya asing yang mempengaruhi Budaya Jawa dan nilai Budaya Jawa yang mempengaruhi budaya asing. Rebo Pungkasan merupakan Tradisi Jawa yang diwarnai Islam. Sedangkan Kalender Sultan Agung ( Anno Javanico ) merupakan perpaduan Kalender Jawa, Kalender Saka dan Kalender Hijriyah.
Nuansa Islam mengental dalam Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suradadi ( jalur antara Tegal dan Pemalang ), daerah Gresik, Kudus, Cilacap, Pekalongan dan lainnya.
Pada titik inilah, perdebatan panjang tentang agama dan budaya dimulai. Tetapi saya sengaja membatasi cakupan dalam tulisan ini.
Tampaknya kita juga perlu mengingat kembali slogan “ Pribumisasi Islam “ yang diperjuangkan Gus Dur. Tindakan dan mind set.

Tradisi Rebo Pungkasan Di Desa Wonokromo,
Pleret, Bantul, DIY

Kirab Lemper raksasa, Wisata Budaya, Event Budaya Bantul
Kirab Lemper Raksasa
Secara administratif Kecamatan Pleret membawahi 5 Desa ( Wonokromo, Wonolelo, Pleret, Bawuran dan Segoroyoso ). Ritual Rebo Pungkasan rutin diadakan di Desa Wonokromo sejak 1784. Mulai 1990, Tradisi Rebo Pungkasan sudah dikoordinir kepanitian kelurahan. Terdiri dari Perangkat desa dan Karang Taruna Desa Wonokromo.
Tradisi ini merupakan perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan untuk mengenang jasa Kyai Faqih Usman ( Abdullah Faqih, Kyai Welit ), berkat dedikasinya wilayah Wonokromo terhindar dari wabah penyakit. Menurut sejarah ( kemungkinan besar sudah tercampur cerita rakyat ), tradisi ini bersumber dari ;

  1. Rebo Pungkasan dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyakra Kusuma ( Mataram ) yang bertahta di Kerta, Pleret ( 1613-1645 )1.
Pada masa itu Mataram sedang mengalami pageblug. Sulatan Agung bertafakur di Masjid Desa Kerta. Dari wangsit yang diterima, wabah penyakit dan pageblug akan sirna dengan tolak bala. Maka diperintahkanlah Kyai Faqih Usman untuk membuat uba rampe penolak bala.

  1. Ketika Wonokromo sedang dilanda wabah penyakit, seorang pandai ( ilmu agama dan pengobatan ) yaitu Kyai faqih Usman atau Kyai Welit berusaha menghentikan penyebaran wabah penyakit. Menggunakan media air putih yang sebelumnya telah dimasukkan rajah. Pasien yang meminum ramuan tersebut akan segera sembuh. Lambat laun jumlah pasien semakin banyak. Kuatir ramuan tersebut tidak mencukupi, atas titah Sultan Agung ramuan itu dituangkan ke Tempuran Kali Opak dan Kali Gajah Wong. Semua masyarakat bisa mengambilnya langsung.
Sebagian sumber lain mengatakan ; pertemuan antara Kyai faqih Usman dengan Sri Sultan Hamengku Buwono I membicarakan solusi pageblug yang terjadi di Wonokromo.

  1. Kepercayaan Jawa menganggap, Suro dan Sapar adalah bulan yang penuh malapetaka.
Untuk itu perlu dilakukan ritual penolak bala.

Dari ketiga versi tersebut terasa sekali hubungan emosional yang kuat antara penguasan dan rakyat dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Pada akhirnya, hubungan yang kuat antara penguasa dan rakyat mengarah pada hubungan terhadap Sang Pencipta ( vertikal ). Sikap kehati – hatian Orang Jawa tercermin dari Ilmu Titen ( memperhatikan tanda ) melalui alam dan manusia itu sendiri.

Seminggu sebelum dan sesudah acara puncak Rebo Pungkasan, digelarlah Pasar Rakyat yang meriah di Lapangan Desa Wonokromo. Acara puncak sendiri merupakan Kirab Lemper Raksasa dari Masjid Al Huda di Karanganom, Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo diikuti pasukan berkuda, prajurit keraton dan Pejabat Pemda Bantul. Dibelakangnya diikuti rombongan Kesenian Sholawatan, Kubrosiswo dan Rodat.
Setelah sampai di Balai Desa Wonokromo, acara do`a bersama dimulai. Lemper akan dibagi – bagikan kepada masyarakat atau lebih lazimnya diperebutkan untuk ngalap berkah.
Pembuatan Lemper raksasa menghabiskan 10 kg Beras Ketan, 10 Butir Kelapa, 2 kg Daging Sapi dan bumbu lainnya. Panjang Lemper 2,5 meter dengan diameter 60 cm.
Lemper seperti sudah menjadi makanan wajib dalam hajatan di Jawa. Atau konon menurut cerita, Sang raja ( Sultan Agung ) memang menggemari Lemper. Atau bisa juga menikmati makanan Lemper sambil mengupas falsafah hidup yang terkandung dalam makanan ini.
Ketika orang ingin memakan Lemper, haruslah dikupas bungkusnya ( Daun Pisang ) lebih dulu. Baru bisa menikmati Ketan dan daging cincang sebagai isinya. Manusia yang ingin memperoleh kebahagiaan ( lahir, batin, dunia dan akhirat ), harus mampu menyingkirkan halangan atau yang tidak perlu baik lahir dan batin ( bungkus Daun Pisang ). Setelah segala rintangan teratasi, manusia akan mampu menikmati Ketan Lemper ( syari`at ), daging cincang sebagai isi Lemper ( Makrifat ).


Pengembangan Rebo Pungkasan
Menjadi Desa Expo

Menurut Teori Fungsionalisme Struktural oleh Radcliffe-Brown ; Budaya bukan sebagai pemuas kebutuhan individu melainkan untuk kebutuhan kelompok.
Pengelolaan event budaya secara profesional mutlak diperlukan. Bukan hanya karena event budaya tersebut telah menjadi kerutinan ( Kalender Wisata Budaya ), pelaksanaannya hanya bertujuan menggugurkan “ kewajiban “ untuk diadakan saja. Melainkan diperlukan pengembangan dalam pengemasan event budaya.
Ngalap berkah Rebo Pungkasan, Ritual Budaya
Ngalap Berkah
Analisa SWOT 2 ; Tradisi Rebo Pungkasan Di Desa
Wonokromo, Pleret, Bantul, DIY

I. STRENGHTS ( Kekuatan )

  1. Rebo Pungkasan sebagai Wisata Budaya dan promosi wisata lokal ( Situs Kerta, Gunung Kelir, Sumur Gumuling ).
  2. Rebo Pungkasan merupakan kegiatan rutin tahunan yang telah dimasukkan dalam Kalender Wisata Budaya DIY.
  3. Karena Rebo Pungkasan merupakan kegiatan rutin tahunan, management acara ( organisasi, teknis ) akan semakin optimal sebab terukur dan terpantau.
  4. Ritual Rebo Pungkasan Di Desa Wonokromo mempunyai nilai differensiasi dibandingkan ritual serupa di daerah lain.
Differensiasi dalam kemasan acara ( Kirab Lemper raksasa dan berbagai lomba kesenian untuk memeriahkannya ; Festival Barzanzi, Hadroh, Sholawatan, dll ).
  1. Pemberdayaan SDM Karang Taruna Desa Wonokromo dalam penyelenggaraan Rebo Pungkasan ( panitia kerja ) merupakan salah satu partisipasi aktif generasi muda setempat.
  2. Letak Balai Desa Wonokromo sebagai tempat perhelatan berada pada jalur strategis dan ramai ( seputaran Jalan Imogiri Timur ).
  3. Hiburan rakyat yang murah meriah dalam Pasar Rakyat, tidak ada retribusi masuk bagi pengunjung.
  4. Sistem sewa stand ( kapling ) bagi para pedagang di Pasar Rakyat menambah pemasukan kas desa ( dialokasikan untuk dana kegiatan dan lainnya ).
  5. pengelolaan lahan parkir menambah pemasukan kas desa dan dusun sekitar


II. WEAKNESSES ( Kekurangan, Kelemahan )

  1. Keterbatasan dana penyelenggaraan.
  2. Ruang lingkup Kegiatan Rebo Pungkasan yang hanya tingkat lokal, menyebabkan partisipasi ( kerjasama ) sponsorship dan donatur kurang optimal.
  3. Kegiatan budaya yang dikembangkan kearah profit minded ( ekonomi-bisnis ) akan menghilangkan substansi Tradisi Rebo Pungkasan itu sendiri.
  4. Paket acara budaya yang dikemas belum bervariasi dan optimal.
  5. Promosi acara Rebo Pungkasan kurang intens, sehingga gaungnya nyaris tak terdengar.
  6. SDM Panitia Penyelenggara perlu ditingkatkan.
  7. Pengembangan potensi daerah ( Pleret dan sekitarnya ) sebagai pendukung Tradisi Rebo Pungkasan belum tergali dan tergarap secara maksimal.
  8. Pengelolaan dana penyelenggaraan yang tidak transparan dan profesional, memungkinkan adanya praktek korupsi.
  9. Keterbatasan tempat penyelenggaraan dan fasilitas pendukung.

III. OPPORTUNITIES ( Peluang, Kemungkinan )

  1. Ritual Rebo Pungkasan bisa dikembangkan menjadi Desa Expo.
  2. Pengembangan potensi daerah Kecamatan Pleret sebagai pendukung Tradisi rebo Pungkasan
  • Sentra penghasil Krecek ( makanan tradisional dari Kulit Kerbau atau Sapi ) dan Peternakan Sapi di daerah Segoroyoso.
  • Kuliner Sate Klathak dan Angkringan di sekitaran jalan Imogiri Timur ( dusun Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul ).
  • Pasar Klithikan onderdil kendaraan bermotor di Dusun Kanggotan.
  • Masyarkat Desa Wonokromo adalah masyarakat yang agamais, terdapat banyak Pondok Pesantren Salafiyah dan Semi Modern.
3. Rebo Pungkasan sebagai medium dialog budaya dan lingkungan hidup.
4. Dari uraian no. 1-3, diharapkan akan banyak menarik kerjasama dengan sponsorship dan donatur yang berkesinambungan dan saling menguntungkan.
5. Kerjasama dengan Media Massa ( lokal, nasional ) sebagai promosi wisata.
6. Wisata Budaya Lokal--- Wisata Budaya nasional --- Wisata Budaya Internasional. Banyak menyedot pengunjung dan keuntungan lainnya yang akan didapatkan.
7. Support penuh dari Pemerintah Daerah dari segi ; pembiayaan, promosi, dan pelatihan teknis untuk meningkatkan SDM dalam rangka Management Wisata Budaya, sangatlah dibutuhkan.
8. Partisipasi masyarakat sekitar ( dari pelajar, pengamat, praktisi seni budaya dan akademisi ).
9. Desa Wonokromo berpeluang menjadi Desa Wisata.
10.
11.

IV. THREATS ( Ancaman )

  1. Pengembangan Rebo Pungkasan menjadi desa Expo, akan menghilangkan substansi Ritual Rebo Pungkasan.
  2. Sponsorship dan donatur yang hanya mengejar profit minded menjadikan Pasar Rakyat juga Rirual Rebo Pungkasan tidak merakyat lagi. Mengejar keuntungan finansial semata dari setiap penyelenggaraannya.
  3. Pengelolaan acara yang ditangani Event Organizer Profesional hanya akan mengurangi partisipasi SDM lokal ( Karang Taruna dan masyarakat setempat ).
  4. Para pedagang dan penyewa stand, kapling di Pasar Rakyat Rebo Pungkasan akan sepi dan berkurang, jika tarif sewa terlalu mahal dan fasilitas kapling tempat yang tidak memadai.
  5. Ketidak tahuan ataupun ketidak pedulian generasi muda untuk melestarikan serta mengembangkan ritual adat ( budaya lokal ), lambat laun akan mengakibatkan kemusnahan budaya lokal. Hal itu berakar pada pola pikir yang menganggap budaya lokal sudah tidak relevan terhadap perkembangan zaman modern.
  6. Kelompok fanatik sempit dan garis keras.

Bantul, 12 Desember 2012 ( Dengan beberapa kali revisi tulisan ).




1 Kraton Kerta sebagai pengganti ibukota Mataran di Kotagedhe dibangun 1614, mulai ditempati 1618. selanjutnya untuk memperkaya wawasan, silakan baca ;

Graaf, HJ De 1986. Puncak Kekuasaan Mataram ; Politik Ekspansi Sultan Agung, Grafitipers, Jakarta.
Graaf, HJ De 1987. Disintegrasi Mataram Dibawah Amangkurat I, Grafitipers, Jakarta.
Graaf, HJ De 1987. Runtuhnya Istana Mataram, Grafitipers, Jakarta.

Teliti lebih jauh lagi mengenai kesimpang siuran sumber yang merupakan landasan pelaksanaan Ritual Rebo Pungkasan khusnya Desa Wonokromo, dengan menyimak sejarah yang terkait sebagai koreksi ; berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pesanggrahan Ambar Ketawang, Sri Sultan Hamengku Buwono I, sampai ekskavasi Situs Kerta dan lainnya.

2 Analisa SWOT ( Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threats ) dicetuskan oleh Albert Humprey pada dasawarsa 1960-an. Merupakan metode analisa paling dasar yang berguna untuk melihat suatu topik atau masalah dari 4 sisi yang berbeda. Memberikan rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan atau keuntungan dari peluang yang ada, mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman.
Luck is matter of preparation meeting opportunity “ ( Oprah Winfrey ).


Riwayat Tulisan Rebo Pungkasan ; Harmonisasi Budaya, Religi dan Ekonomi :

  • Sumber tentang pelaksanaan Tradisi Rebo Pungkasan, saya olah dari berbagai sumber baik lisan dan tulisan.
  • Tulisan ini hanya sebagai pemicu untuk solusi bagaimana me-reinventing budaya lokal agar tetap lestari dan berkembang. Adapun Analisa SWOT yang telah diterapkan belum mengarah pada kesimpulan ( rekomendasi ) yang selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Strategis, karena masih menunggu masukan dari pihak lain. Disinilah fungsi berdiskusi bersama untuk mencari solusi.
  • Sebagai komparasi kasus, perlulah disimak sebagai pembelajaran ;
1. Tradisi Rebo Wekasan di Desa Pongangan, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, mulai tahun 2009 pel aksanaanya dipindahkan ke Desa Suci ( sebelah Barat Pongangan ), karena masyarakat desa Pongangan ingin merubah Rebo Wekasan menjadi Desa Expo.

2. Dalam lingkup yang lebih luas lagi harmonisasi budaya, religi dan ekonomi juga terdapat dalam Sekaten ( Gerebeg Maulud Nabi ), Festival Kesenian Yogyakarta, dll. Perencanan dan pelaksanaannya dapat dijadikan study kasus.

by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.