Social Icons

Rabu, 19 Desember 2012

Waktu Kesatuan Indonesia


“ Yang menguasai jalan, ia menguasai waktu “
( Konohamaru, karakter dalam Komik Naruto
karya Masashi Kishimoto )


Jam berapa sekarang ?! “ hal itu sering kita tanyakan. Manusia selalu terikat ruang dan waktu. Manusia pula yang mengikat segala benda dan non bendawi, secara sadar ataupun tidak sadar dengan ruang dan waktu itu sendiri.
Kembang Wijaya Kusuma itu mekar di beranda depan rumah Khrisna pukul 24.00 WIB pada Minggu Pon. Dalam Pandom Dina ( Jawa ), Minggu ( 5 ), Pon ( 7 ) mekarnya kembang jam 12 malam --- klop !. Padahal Hari Minggu adalah waktu libur. Harusnya orangpun libur memikirkan sesuatu.
Dari kejadiaan sederhana tersebut juga rumus othak athik gathuk hasil dari budaya iseng, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu mengikat segala benda dan non bendawi dengan ruang dan waktu. Tumbuhan ( Kembang Wijaya Kusuma ) sudah mempunyai sistem, peraturan sendiri mengenai 5 W + 1 H untuk berkembang. Bahkan tanpa campur tangan manusia sekalipun. Wijaya Kusuma tetap berkembang. Pada dasarnya alam menjadi alami, manusia menjadi manusiawi. Pada tahap seperti itulah terjalin relasi simbiosis ( mutualisme, komensialisme dan parasitisme ).
ah !, bahas kembang tidak ada habisnya, karena terus berkembang ( alam, pengetahuan dan teknologi ).
Kadang kala kita merasa, suatu waktu begitu cepat berlalu ataupun begitu lambat dari ukuran biasanya. Tatkala menunggu, Hari Jum`at begitu pendek sedang Malam Minggu begitu panjang. Pikiran dan perasaan. Maka wajarlah jika Hari Jum`at dipergunakan untuk hal – hal yang berkaitan dengan pengurangan. Memotong rambut, merapikan kuku, mengurangi jumlah aktivitas kerja dan lainnya. Akan halnya dengan Malam Minggu yang begitu panjang, karena masih disambung libur di pagi harinya. Permainan pikiran dan perasaan.
Bahkan waktu seolah berhenti pada aktivitas meditasi yang dalam, do`a yang khusyuk dan ritual – ritual berdiam diri lainnya. Pikiran yang tak bergeming menurut Miyamoto Musashi.

WKI, Zona Waktu Indonesia, Konversi Waktu
Gbr. Waktu Kesatuan Indonesia ( WKI )
Antara Tahun Saka, Tahun Jawa Dan Tahun Hijriyah

Baik Tahun Saka, Tahun Jawa Dan Tahun Hijriyah sampai sekarang masih dipergunakan di Indonesia. Tahun ( kalender ) Saka dimulai pada tahun 78 M. Dasar perhitungannya merujuk pada sejarah mendaratnya Aji Saka di Pulau Jawa. Selain menciptakan kalender, ia juga menciptakan Huruf Jawa ( Ha Na Ca Ra Ka ).
kalender saka dimulai 17 Maret 78 M. Dalam sau tahun terdiri dari 12 bulan. Bulan ke-1 Srawana hingga bulan ke-12 Asadha. Sebelum datangnya Kalender saka, Orang Jawa telah mempergunakan Petangan Jawi dengan sistem perhitungan Pranata Mangsa. Pada awalnya Pranata Mangsa hanya 10 masa. Sesudah mangsa ke-10, orang menunggu cukup lama dimulainya lagi mangsa ke-1 ( Kasa atau Kartika ), yang jatuh pada tanggal 22 Juni. Masa menunggu yang lama, akhirnya ditetapkan mangsa ke-11 ( Destha atau Padrawana ) dan mangsa ke-12 ( Saddha atau Asuji ).
dalam perkembangannya, Kalender Saka berjalan beriringan dengan Kalender Pranata Mangsa.
Meskipun Kalender Pranata Mangsa sudah dipergunakan sejak zaman dahulu, pembukuannya baru dilakukan pada masa Susuhunan Paku Buwono VII ( 1855 M ).
Tahun Jawa selain mempergunakan Sistem Pranata Mangsa juga mengadopsi Tahun Saka yang ada. Hal itu merupakan sikap keluwesan, adaptasi yang tinggi dari sifat dasar Masyarakat Jawa. Akulturasi, asimilasi dan sintesa budaya. Karena Orang jawa selalu menganggap bahwa budaya asing adalah tamu.
Terbukti pada masa Sultan Agung Hanyokro Kusuma merubah ( lebih tepatnya me-re-inventing ) Kalender Jawa secara revolusioner. Kalender Saka yang sudah berjalan hingga 1554, secara otomatis sebagai patokan dan diteruskan menjadi tahun 1555. Kalender Saka mempergunakan Sistem Solar ( Syamsiyah atau Matahari ), sedangkan Kalender Jawa mempergunakan Sistem Lunar
( Qomariyah atau Bulan ). Perubahan itu terjadi 1 Sura Tahun Alip 1555, bersamaan 1 Muharram 1043 Hijriyah, Jum`at Legi 8 Juli 1633.
Kebijakan cemerlang sebagai ide raksasa ini tidaklah sederhana, memerlukan kajian yang mendalam dari para ahli falak dan ilmu perbintangan waktu itu. Hingga saat ini kalender itu masih dipergunakan. Secara ilmiah, para ahli diseluruh dunia menamakan Anno Javanico ( AJ ).
Kalender ( Almanak ) Jawa tidak sama dengan Kalender Hijriyah, meskipun keduanya sama – sama menggunakan Sistem Lunar.
  1. Dalam Kalender Jawa terdapat 8 nama – nama tahun yang selalu berbeda setiap tahunnya.
  2. Dalam siklus 8 tahunan tersebut dinamakan Windu.
  3. Mengenal Tahun Wasthu ( pendek ) dan Tahun Wuntu ( panjang ).
  4. Pada Tahun Wasthu jumlah hari pada bulan besar adalah 29 hari, sedangkan Tahun Wuntu 30 hari.
  5. Dalam Siklus Windu terdapat 3 Tahun Wuntu ( panjang ) yaitu Tahun Ehe, Je dan Jimakir.
  6. Terdapat Petangan Jawi yang tidak hanya memuat hari, tanggal, bulan dan tahun tetapi juga memuat Primbon.
Primbon merupakan himpunan ilmu para leluhur yang mencatat pengalaman baik, buruk dan semua kejadian yang berhubungan dengan mikro kosmos dan makro kosmos.
Pada era modern seperti sekarang ini, keberadaan Primbon sudah jauh ditinggalkan bahkan oleh Orang Jawa sendiri. Dianggap klenik, ghaib, syirik juga primitif. Memang Primbon tidak mutlak kebenarannya. Sebab kebenaran itu relatif. Atau sebagai perbandingan ; bagaimana anda mensikapi ramalan cuaca dari BMG ?!.
Primbon hanya merupakan salah satu rujukan hidup menuju keselarasan lahir dan batin. Pengamatan yang intens, mendalam terhadap tanda dan pertanda memunculkan sikap eling lan waspada ( ingat dan waspada ). Sumber kearifan lokal.
Seperti juga kamus, perbendaharaan kata akan selalu bertambah sedangkan maknanya akan terus berkembang seiring ruang, waktu dan ilmu pengetahuan.


Konversi Waktu

Konversi Waktu, Zona Waktu, WKI, Tahun Baru, ASEAN Common Time
Gbr. Konversi Waktu
Dalam artian lain melalui pendekatan bahasa, Waktu Kesatuan Indonesia ( WKI ) bermakna lebih luas. Waktu-- Kesatuan-- Indonesia merupakan keterpisahan sekaligus ikatan. Dewasa ini, fenomena konflik horizontal dan vertikal semakin memprihatinkan. Sangat “ prihatin “ --- pinjam istilahnya Presiden SBY.
WKI atau dalam istilahnya  Bramantyo Prijosusilo menjadi WKE ( Waktu Kesatuan Endonesha ), coba bacalah dengan pelan, dalam lalu ulangi. Saya yakin, kita mempunyai maksud yang sama tanpa harus mengatakannya.



Bantul, Minggu Kliwon, 2 Desenber 2012
( 18 Sura Tahun Jimakir 1946, 18 Muharram 1434 H,
19 Cap Gwee Tahun Liong / Naga 2563 ).

  
Riwayat Tulisan :

Sebenarnya tema dasar dari tulisan ini telah ngendon selama sekitar 4 bulanan dalam otakku. Hanya saja baru bulan ini bisa direalisasikan, karena ada beberapa materi ( khususnya ; Tahun Saka, Tahun Jawa dan Tahun Hijriyah ) belum menemukan referensinya.
Materi tentang Tahun Saka, Tahun Jawa dan Tahun Hijriyah, saya adaptasi dari sumber ; Harian Jogja Express, Rubrik Konsultasi Pawukon oleh KRHT. Mufti Rahardjo, MM edisi Minggu Pon ( 25 November 2012, 11 Sura Tahun Jimakir 1946 Windu Kuntara, Wuku Prangbakat ).
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.