Social Icons

Senin, 04 Maret 2013

Semiotika Hidung


Semiotika1 Hidung

Manusia bernapas, pertanda masih hidup. Manusia berpikir, berarti masih ada. Ada dengan menandakan eksistensi pemikiran – pemikirannya. Mungkin begitulah dasar Filsafat Eksistensialisme yang dipelopori SK ( Soren Kierkegaard ), Friedrich Wilhelm Nietzche, Jean Paul Satre, Simone De Beauvoir, dll. Tetapi kita tidak ingin berfilsafat ataupun sesuatu yang berat – berat.
Hal sepele, remeh – temeh, yang penting “ hidup “ dulu saja. Agar tetap hidup, kita harus terus bernapas. Tanpa bisa kita lihat ( dengan mata telanjang ), didalam udara yang selalu kita hirup banyak benda – benda yang berbahaya. Ditambah tingkat pencemaran udara yang sudah melampaui ambang batas. Benda – benda membahayakan seperti debu, serbuk bunga, jamur, bakteri dan virus. Untuk itulah hidung memiliki alat khusus yang berfungsi menyaring kotoran – kotoran dalam udara.
Debu dan bakteri di udara akan masuk ke lubang hidung dan akan terperangkap di bulu yang seperti sapu. Bulu hidung merupakan pelindung berjaring pertama. Kalaupun debu dan bakteri beruntung bisa melewati jaring pertama ini, kita tak perlu kuatir karena ada pelindung kedua yang lebih kuat yang sudah menunggu. Yaitu lendir lengket yang menempelkan debu, bakteri, dll seperti perekat. Lendir itu keluar dari Selaput Mukosa sangat tipis yang menutupi bagian dalam hidung. Disinilah ingus yang berisi air, debu, bakteri dan sel kulit mati terbentuk menjadi upil 2.

Dalam terminologi Orang Jawa dalam babahan hawa 9 3 , fungsi hidung sebagai panca indra harus dijaga penggunaannya. Digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan kebaikan. Bukan hanya mengumbar syahwat indera.
Itu pula mengapa dalam berwudhu disunatkan untuk menghirup sebagian air kedalam hidung. Agar hidung menjadi bersih sampai kedalam – dalamnya. Berwudhu merupakan hal yang logis, bagi yang mengetahui tanda – tandanya.
  1. Hidung Sebagai Identitas
Siapa yang belum pernah mendengar kisah Phinoccio, boneka kayu yang dibuat Pak Tua Gebetto. Karena kasih sayang boneka kayupun menjelma menjadi manusia. Tetapi ketika Phinoccio berbohong, hidungnya akan bertambah panjang secara otomatis.
Kasih sayang, pengharapan, rasa jujur, ketidak jujuran, benda tak bernyawa. Benda tak bernyawa sekalipun jika disentuh rasa kasih sayang, maka ia akan bertumbuh dan hidup.
Sebenarnya kayu memiliki ruh – ruh untuk terus tumbuh dan hidup4.
Karena setiap benda memiliki energi. Tak luput, cerita lokal tentang pewayangan pun berkisah tentang hidung.
Lalu bagaimana sikap kita tentang hutan – kumpulan kayu dan tanaman --- tiap tahunnya menipis karena penebangan liar, industrialisasi, kebakaran, dll. Ah !, apakah kau sedang mencium bau gosong didalam hutan ?!, kebakaran hutan, kurasa tidak !. Pak Gebetto dan Phinoccio sedang memanggang Kalkun sambil bercerita ;

Di daerah Gunung Kidul ( Yogya ) dengan topografi dataran tingginya, banyak terdapat jalan panjang yang berliku sebagai jalur lalu lintas. Masyarakat setempat menyebutnya Tikungan Irung Petruk ( Hidung Petruk ).

Tikungan Maut, jalan di Gunung Kidul
Tikungan Irung Petruk
Wayang Kulit, Punakawan
Wayang Petruk Kanthong Bolong Mbel
Geduwel Bel Thong Thongsot Upergen
Petruk merupakan tokoh Punakawan, salah seorang anak Semar yang berhidung panjang dalam pewayangan Jawa. Tokoh rekaan Wali 9 sebagai sarana dakwah agama melalui budaya.
Identitas lokal menandai suatu tempat ( jalan ).
Dalam Wayang, Manga ( baca ; Man-ga atau Mangga, Komik Jepang ), bentuk hidung menjadi ciri khas karakter tokoh.
Bentuk fisik hidung pun menjadi sasaran empuk dalam banyolan. Sule ( OVJ ) yang berhidung pesek, Yati terkenal dalam dunia perlawakan karena kepesekannya ( Yati Pesek ). Apa gaya tertawanya Orang Indonesia masih sebatas mentertawakan hal – hal yang berhubungan dengan fisik ( kekurangan, keanehan ) ?! 5.
Bentuk hidung merupakan salah satu aset terpenting manusia. Semua orang tentu saja mengidamkan kesempurnaan fisik. Hal itu bisa dicapai melalui 2 cara ; mensyukuri yang telah ada, atau merubah bentuk fisik tubuh. Trend operasi plastik menjadi solusi yang digemari masyarakat modern agar penampilan menjadi ( semakin ) good looking. Sebagian pakar mengatakan bahwa nilai kecantikan ( secara fisik ) bisa dihitung dengan Rumus Phytagoras. Salah satu bagian tubuh yang mempengaruhi perhitungan itu adalah Daerah T ( Mata, Hidung dan Mulut ).
Apakah sudah jelas bau gosong – gosong itu ; Kalkun yang gosong, hutan yang kebakar, Kalkun yang dipanggang di hutan, Kalkun yang kepanggang karena hutan kebakar, atau kalian sedang ngupil, atau apa lagi, jangan – jangan kau sedang berbohong Phinoccio ?!.
    1. Hidung Sebagai Ungkapan ( Simbolisasi )
Setiap bangsa kaya akan peribahasa lokal. Budaya lokal mempengaruhi tanda dan pertanda. Kata “ Hidung belang “ lazim digunakan masyarakat Indonesia untuk menyebut lelaki yang kurang ajar, tidak senonoh, tukang selingkuh, dan lainnya.
Badut sering diidentikkan dengan kaum berhidung merah. Kebiasaan Masyarakat Jawa untuk nyandra setiap bagian tubuh merupakan Majas Hiperbolis, Metafora ataupun Simile. Bertujuan mendaftar ciri – ciri ideal bagian tubuh manusia dan sebagai bentuk sanjungan 6
Dalam Buku Questions Are The Answer 7 halaman 118, Allan Pease mengatakan ;

“ Waktu kita berbohong, hidung kita akan semakin sensitif sehingga kita cenderung untuk menyentuhnya “.

Paling tidak hal ini merupakan acuan mengintepretasikan cerita Phinoccio dari segi body language. Walaupun berbagai tanda itu juga masih terikat ruang dan waktu tertentu ( budaya lokal, budaya universal ).
    1. Hidung Sebagai Alat Penciuman ( Panca Indera )
Berbicara masalah manusia, sedikit banyak juga terkait makhluk hidup lainnya. Dunia kemiliteran dan para pemburu binatang melatih Anjing pelacak karena memang daya penciumannya yang tajam. Konon katanya, Anjing juga mempunyai kemampuan mendeteksi kadar gula darah manusia. Pengidap Diabetes atau berkadar gula darah normal.
Pada lain hal, profesi Tester Tembakau menuntut kejelian dalam mengenali mutu Tembakau agar racikannya menghasilkan cita rasa yang khas dan awet rasa dari suatu produk rokok. Hidung seperti ini dihargai mahal, sebanding dengan resiko pekerjaannya.
Masih sering mendengar orang tidur mendengkur, atau jangan – jangan malah disamping anda ?!. Bukannya tanda saking nyenyak tidur, melainkan terjadinya gejala gangguan pernapasan. Kalau dibiarkan, tentu saja dengkurannya tambah keras.

Bagaimana masih belum jelas bau gosong – gosong tadi ?!.
Namun tak dapat dipungkiri dan disangkal, salah satu kenikmatan yang berhubungan dengan hidung adalah ngupil.


Bantul, 10 Januari 2013.


Catatan Akhir Tulisan Semiotika Hidung ;

1 Konsep semiotika ( Semiologi ) merupakan istilah yang populer dalam Ilmu – Ilmu Humaniora dan sosial. Secara sederhana merupakan ilmu tentang tanda ( “ sesuatu “ menandakan “ sesuatu yang lain “ demikian seterusnya ). Selanjutnya silakan pelajari ;

Barthes, Roland, 1981. Elements of Semiology. New York ; Hill and Wang
Eco, Umberto, 1976. A Theory of Semiotics. Bloomington ; Indiana University Press
Baca juga tulisan saya yang sebelumnya.

Semiotika juga dapat disejajarkan dengan Teori Otak atik gathuk dan Ilmu Titen yang berkembang di Jawa.

2 Yim Sook Yang dan Kim Irang, 2005. Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia. BIP

3 Sembilan lubang yang terdapat pada bagian tubuh manusia ( 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, mulut, dubur atau anus, kelamin ).

4 Komparasikan dengan adat pemakaman di Tana Toraja, bayi yang mati akibat keguguran dalam kandungan akan dimakamkan dalam sebuah rongga pohon. Bertujuan agar bayi yang mati tetap bertumbuh seiring pertumbuhan pohon.

5 Gaya lawakan Indonesia ( sampai sekarang ini ) masih sebatas tawa yang mentertawakan, cenderung tidak cerdas. Thukul dengan mulutnya, Omas dengan giginya, Jojon dengan kumis dan pakaiannya, Gogon dengan model rambutnya, dll. Tanpa mereka melawak pun, orang sudah tertawa karena kekurangan fisik tersebut ataupun “ penampakan “ yang dibuat aneh. Bandingkan dengan gaya komedinya Charlie Chaplin, Mr. Bean ataupun yang lagi naik daun Stand up Comedy ( bersyukur gaya ini memberi angin segar bagi perkembangan lawakan di Indonesia ).
Namun toh pada akhirnya, cara tertawa itupun pilihan ; tertawa cerdas ataupun tertawa tidak cerdas. Tertawa saja kog harus logis dan cerdas.

6 Nyandra masih ditemukan dalam upacara adat pernikahan Jawa, sewaktu kedua mempelai pengantin berjalan memasuki dampar kencana ( pelaminan ). Seorang MC ( Pranoto Hadicoro ) dengan detail akan “ nyandra “ mempelai pengantin.
Sekilas dapat dijumpai pada lirik lagu Anyaman Nyaman ( Sudjiwo Tedjo ) ;

... “ Mantene wus dandan dadi dewa dewi, dewaning asmoro gyo mudhun bumi “

Seorang yang sedang kasmaranpun secara otomatis akan menjadi penyair yang romantis.

Nyandra dalam Kebudayaan Jawa berasal dari kata “ Candra “ yang berarti lukisan. Nyandra berarti melukiskan sesuatu agar lebih hidup. Sesuatu yang dilukiskan dalam Nyandra berupa fisik, perilaku dan musim.
Contoh nyandra berupa fisik ; Irunge ngundup Mlati ( Hidung dibandingkan dengan bentuk Bunga Melati yang masih kuncup ), bathuke nyelo cendani ( dahi dibandingkan dengan Batu Marmer ).

7 Pease, Allan, 2002. Questions are The Answer ( Pertanyaan Merupakan Jawaban ), alih bahasa : Danny Susanto, MA. Jakarta ; Network Twenty One.
Allan Pease juga merupakan pengarang buku terlaris Body Language.

by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.