Social Icons

Jumat, 15 Maret 2013

Sinta Ridwan dan Museum Digital


Pada umumnya kata “ museum “ berkonotasi dengan media, tempat penyimpanan data – data dan bukti – bukti yang berharga, sesuatu yang unik, otentik, bernilai sejarah, dan lainnya. Sekarang ini, minat masyarakat untuk mengunjjungi museum semakin menurun. Museum pun telah di-museumkan, menjadi semacam hal yang kuno. Tak banyak lagi yang bisa dipelajari dari sana, salah satunya karena ketidak profesionalan dalam pengelolaan. Mungkin juga ini merupakan kritik sepihak.
Ide untuk mendokumentasikan naskah – naskah kuno Nusantara ( khususnya Sunda ) kedalam media elektronik ( baca ; Museum Digital ) dari Sinta Ridwan pun patut diapresiasi. Mempermudah setiap orang untuk mengakses informasi dan sejarah bangsa Indonesia. Hal ini senada jika diturut dari 3 kurun kultural.
  1. Budaya Siklikal, Pra- Intelektualisme ( Tradisi Lisan )
  2. Budaya Liniar, Intelektualisme ( Kata Tertulis )
  3. Budaya Web, Pasca- Intelektualisme ( Media Elektrik )

Simak lebih lanjut video berikut.

Bantul, 12 Maret 20013.

Catatan AkhirSinta Ridwan dan Museum Digital “ :

1 Pasca- Intelektualisme, Budaya Web ( terjemahan Landung Simatupang ), dicuplik dan diterjemahkan dari Donald N. Wood, Post-Intellectualism and The Decline of Democracy the failure of Reason and Responsibility in Twentieth Century. West Port, Connecticut, London : PRAEGER, 1996, halaman 3 – 8.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.