Social Icons

Kamis, 22 November 2012

Kaos ; Identitas Dan Krisis

Klaim identitas atau status dalam kaos oblong bersifat ambigu, dalam
terminologi Umberto Eco { 1979 } , representasinya selalu bersifat under
coded. Berhubungan secara synecdochical { satu bagian dari kaos mewakili
keseluruhan kepribadian seseorang } dengan pengalaman, relasi sosial,
nilai atau status yang diklaim secara eksplisit maupun implisit oleh pemakainya.
Senada dengan hal itu, Orang Jawa sering menilai kepribadian seseorang dari pakaian yang dikenakan. Tidak serta merta pilihan itu berkorelasi dengan benar atau salah. Lebih pada persoalan penerapan antara pas tidak pas, sesuai dan tidak sesuai. Ketersesuaian dengan waktu, tempat, subjek, objek dan fungsinya. Aturan, norma – norna yang berlaku di masyarakat, kebiasaan, agama turut memperkaya penilaian dan identitas kaos oblong. Mode dan budaya konsumtif.
Mode merupakan satu kecenderungan berperilaku yang sedang mewabah ( nge-trend ) di masyarakat. Menyangkut berbagai hal ; mode fashion, mode kegiatan – kegiatan outdoor, mode rambut, dll. Dalam budaya konsumtif yang berlebihan dan arti yang lebih luas, kita secara sadar dan terus – menerus diseret kedalam arus mode. Seolah mode merupakan salah satu cara mengidentifikasikan diri agar eksisitensinya diakui. Semacam proses yang dinamakan " pencarian jati diri ".
namun hal itu juga yang diharapkan dari para pelaku bisnis. Menjadikan manusia sebagai korban mode. Lebih tepatnya, menjadikan wanita sebagai korban mode ( khususnya fashion ). bukan lagi konsep ada uang ada barang, melainkan berkembang kearah ada ide bisa dijadikan barang dan uang.
Mode adalah gaya dan perilaku, sedangkan perilaku ditentukan oleh pemikiran ( ide, gagasan ) yang akhirnya menjadi kerutinan, kebiasaan yang membudaya. Membudaya, terus berkembang dan dinamis. 
Sejarah Kaos Oblong
Kaos diknal dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakaian dalam tersebut untuk pakaian luar di film – film mereka. Dalam A Street Car Named Desire ( 1951 ), Marlon Brando membuat gadis – gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek. Membiarkan bahunya terbuka. Pada waktu itu adegan tersebut masih " wah " dan " wow " gitu.
James Dean mengenakan kaos oblong sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause ( 1955 ). 
Sementara sejarah kaos oblong masuk Indonesia dibawa Belanda. Walaupun perkembangannya belum pesat, namun kaos mempunyai nilai dan gengsi tinggi. Saat itu pula teknologi pemintalan belum maju. Akibatnya kaos menjadi salah satu barang yang tergolong mahal. Baru sekitar 1970 -an mulai berkembang. Itupun bentuk kaos masih konvensional ; putih, Kain Katun halus tipis, melekat ketat di badan dan hanya untuk kaum lelaki saja.
Kaos dengan Merk Swan, 77, Cabe Rawit dan Kembang Manggis mendominasi pasaran.

Merajut Asa Ekonomi Dari Hulu Sampai Hilir
Dalam sejarahnya, Indonesia pernah menjadi Negara Maritim dan Negara Agraris yang seutuhnya. Sistem Pelayaran ( navigasi dan Ilmu perbintangan ), teknologi kapal Pinishi yang akhirnya melahirkan budaya maritim. Ditandai dengan armada laut yang kuat, pelabuhan yang ramai sebagai sumber lalu lintas perdagangan dan pemanfaatan sumber – sumber kekayaan laut. Hal serupa juga terjadi pada sistem agraris. Pertanian yang dijiwai local wisdom, ternyata lebih ramah lingkungan dan memaksimalkan hasil pertanian. Tengoklah Konsep Tri Hita Karana di Bali, ritual – ritual budaya pertanian di Jawa dan segala mitos yang segaja selalu direproduksi untuk tetap menjaga keselarasan hubungan manusia dengan alam. Wajarlah jika alam mengeluarkan berkahnya secara melimpah.
Tetapi itu semua hanya cerita zaman dahulu tentang Negeri Maritim dan Negeri Agraris.
Slogan " Berdikari " ( Berdiri diatas kaki sendiri ) yang selalu digelorakan Bung Karno, seolah ditelan zaman begitu saja. Akibat Neo Imperialisme, Kapitalisme, Liberalisme, kebijakan pemerintah yang ( sungguh ) tidak bijak, penjualan aset – aset negara yang menguasai hajat hidup orang banyak --- akhirnya inilah penjajahan ekonomi !.
Suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya melalui proses panjang, dengan enteng saja mengisi kemerdekaan secara instant. Cara berpikir instan. Kebutuhan dalam negeri tidak mencukupi atau tidak ada, solusinya langsung import. Bukannya berpikir menyiapkan proses produksi suatu barang secara bertahap. Dengan begitu kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi, syukur – syukur bisa ditingkatkan untuk bisa eksport. Tetapi mungkin juga kebijaksanaan ekonomi terbuka. Mungkin bangsa ini sudah amnesia tentang berproses. Berdikari tinggal slogan masa lalu.
Tanaman kapas menghasilkan serat alam yang merupakan bahan baku Industri Tekstile dan Produksi Tekstile ( ITPT ). ITPT berkembang dengan pesat dan terintegrasi dari hulu ( serat )--- Intermediate ( stapel dan filamen, tenun, rajut ) --- produk akhir ( garment dan tekstile ).
kebutuhankain khususnya serat Kapas ( Katun ) 95 % masih disuplai import dari India, China dan Amerika. Hanya 5 % saja produksi Kapas mencukupi kebutuhan nasional. Jika diurai lebih lanjut, banyak penyebab serta akar permasalahannya. Kurang maksimalnya " good will " pemerintah, petani, pelaku bisnis, dll. Kurang ngotot mengaplikasikannya. Pada dasarnya petani akan menanam komoditas pertanian yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Ini alasan klasik !. Tidak terlalu sulit memberdayakan kelompok petani untuk menguasai teknologi pertanian dari hulu sampai hilir. Lagi – lagi " good will " dan kurang ngotot dalam beraplikasi. Walaupun kita juga tidak menutup mata terhadap program – program pemerintah yang telah digalakkan dalam rangka pengembangan Pertanian Kapas. Sebutlah ProgramIntensifikasi Kapas Rakyat ( IKR ) tahun 1978, pola kemitraan pemerintah dengan petani atau pemodal asing, Program AkselerasiPengembangan Kapas ( 2007 ).
Intensifikasi pertanian yang berlebihan menimbulkan dampak lingkungan yang merugikan. Kapas yang terlihat natural sebenarnya paling tidak ramah lingkungan. Secara rutin disemprot pestisida dan bahan kimia lainnya. Efek pestisida mempengaruhi ekosistem karena membunuh banyak tanaman dan hewan – hewan ( mikro organisme ) disekitarnya. Dampak ini menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem.
Secara umum, pertanian di Indonesia masih menggunakan ( mengandalkan ) bahan kimia dalam pengolahannya. Secara sadar, terus – menerus, kita mengkonsumsi hasil – hasil pertanian yang mengandung bahan kimia. Lalu dapatlah kita hitung secara matematis, generasi penerus bangsa yang tercemar bahan kimia. Kesehatan fisik dan rohanipun mulai diragukan.
Pertanian Organik, Pertanian Ekologis, Pertanian Biologis, Pertanian Bio dinamika, Pertanian Alami dan Perma culture akhirnya menjadi pilihan. Jauh sebelum konsep Eco-Fashion ( menjaga hubungan harmonis dengan alam ) digembar – gemborkan Masyarakat Barat, Indonesia telah memulainya dengan local wisdom. Tri Hita Karana di Bali, Hamemayu hayuning Bawana, Mitos Dewi Sri, Nyi Pohaci  di Jawa, proses pembuatan Batik tradisional, Pupuk Kompos, dll. 
Pertanian Organik, Kapas Organik, Eco Fashion, kaos oblong
Skema Pertanian Organik
Akhirnya semua kembali ke alam, temasuk mode. Apakah Padi dan Kapas hanya simbol belaka ?!.
Bantul, 20 November 2012.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.