Social Icons

Senin, 13 Mei 2013

Doelah Buntut


Doelah Buntut 1

Seorang buruh bangunan, tukang batu, tukang kayu, tukang besi ataupun menjadi tenaga tukangpun dijalaninya. Demi menafkahi keluarga, istrinya dan 2 orang anaknya. Sarwan masuk SMP sedang adiknya Warti sudah kelas 5 SD.
Keluarga itu juga menpunyai sebidang sawah namun diburuhkan. Di kerjakan oleh tetangganya dengan sistem bagi hasil. Mungkin karena malasnya Pak Doelah atau hasil dari pertanian sekarang tidak bisa untuk menghidupi. Kedua anaknya pun tidak mau menggarap sawah dengan alasan masih sekolah. Ketularan anak - anak muda jaman sekarang. Istrinya tidak tahan panas dan gatal. Di rumah saja menjadi ibu rumah tangga dan pengatur keuangan. Memasak, mencuci, dan bersih - bersih.
*

Sabtu sore sekitar pukul 17.00 WIB, Pak Doelah telah laut2 dari ngalajunya ke kota. Setiap Sabtu sore di Jogja masih banyak ditemui, orang - orang bersepeda cepat sekali kearah selatan. Senin – Rabu pagi orang - orang mengayuh sepeda menuju kota dengan cepat. Kamis pagi apalagi sore, kayuhannya sudah mulai loyo.
Pagi tadi dan setiap pagi, istrinya selalu setia membuatkan nasi bungkus untuk bekal suaminya kerja. Lebih ngirit dari pada jajan. Di proyek bangunan tidak ada jatah makan kecuali kerja di bangunan person3. Hanya ada minuman, itupun pekerja harus giliran merebus air.
“ Dari pada harus jajan. Pakne sudah tua,
Tidak pantas jajan seperti anak kecil “ kata istrinya setiap pagi sambil memberikan nasi bungkus.
Selera makan Pak Doelah pun gampang. Nasi liwet yang banyak ditambah sayur dengan santan atau kuah yang banyak juga.
Tidak ada menu masakan spesial di keluarga itu. Kecuali setiap malam Minggu keluarga berkumpul makan bersama. Mie instant dicampur daunan hijau, Kubis, Daun Ubi atau Selada. Mie yang masih terbungkus dipatahkan menjadi 2 kali, secara vertikal dan horizontal, lalu direbus dahulu dengan air panas tanpa bumbu. Daunan hijau dan Lombok yang diiris tipis miring dimasukkan 3 menit setelah direbus. Tidak perlu matang kira - kira 5 menit, ditiriskan. Air rebusan pertama dibuang karena tercampur zat pengawet mie lalu diganti air panas dari termos. Mie akan mengembang saat bumbu dimasukkan. Terlalu lama merebus juga akan menghilangkan sari - sari vitamin dalam daunan hijau. Sering juga ditambah Bumbu Gulai, Bawang Putih, Merah goreng, kecap dan saos. Irisan Wortel juga telor.
Warti paling jago membuat saos dari tomat. 2 bungkus Mie Instant untuk 4 orang. Cara makannya harus memakai sumpit, Pak Doelah meniru juragannya yang Cina. Terang saja makannya lama, karena semuanya belum mahir menggunakannya.
Tel hangat selalu tak ketinggalan.
Didalam kamar, istrinya sedang tidur - tiduran terlentang dialasi beberapa lembar matras merah dan bantal. Pak Doelah masuk dan rebahan disamping istrinya.
Setelah mandi di sumur telanjang, mengguyur tubuhnya. Bau keringat khas pekerja bercampur sabun.
“ Bune, besok Senen aku diajak Babahe4 pergi ke Gunung Kemukus. Berangkat setelah laut5, esoknya prei6 “.
“ Apa pekerja lainnya juga diajak, Pakne?! ”.
“ Banyak “.
“ Kurasa pakne jangan ikut ”
Lha ngopo7 ?! “ beringsut memiringkan badan, memandang istrinya.
Beberapa menit terdiam.
“ Dik Warti tahu Gunung Kemukus ?! “
“ Tidak tahu mas “.
Wah pelajaran IPS kok, punya ATLAS ?! “
Punya, Punya “.
Warti beringsut menuju kamarnya. Sesaat kemudian Warti telah membawa buku ATLAS Indonesia. Kakak beradik itu membuka - buka lembar demi lembar.
“ Ini mas “
Keduanya berpandangan.
Kumparan asap ringan membumbung dari kamar Bu Doelah. Bau Tembakau Kedu yang matang. Kertas - kertas sigaret cap Bocah Nyuling terbakar. Manis dan gurih. Bau khas keringat buruh bangunan.
“ Aku ngerti Bune “.
Bu Doelah tampak lega.
“ Aku tak betah lagi kerja disana, Babahe itu cerewet apalagi istrinya. Apa saja di cacat.
Orang budeg dan bodoh saja yang masih betah “.
“ Lantas nganggur ?! “
Tiba - tiba Warti mengetuk pintu kamar.
“ Ada tamu Pak “
“ Siapa ?! ‘
“ Katanya Pak Sarno dari Colombo “.
“ Ya tunggu sebentar “.
Pak Sarno memandang Warti dari belakang. Dari sela - sela asap yang dihembuskannya, seolah bibirnya tersenyum. Sarwan masih membuka – buka ATLAS Indonesia.

Diam – diam Warti sering memperhatikan bapaknya setiap pagi ketika akan pergi kerja.
Pak Doelah selalu menuntun sepeda lanangnya yang sudah butut dengan cat mulai melepuh, karena selalu diminyaki membuat selalu mengkilat juga Velg dan ruji - rujinya. Dituntun dari rumah setelah sampai jalan raya baru di naikinya. Jaraknya hanya beberapa meter. Pada setangnya tercantel tas kecil yang lusuh. Bekas tas sekolah Sarwan untuk membawa peralatan pertukangan. Juga sebuah spion bundar disebelah kanan dan bel sebelah kiri. Lampunya masih menyala terpasang di depan dan di belakang, semuanya double dynamo. Mungkin sepeda itu telah dimodifikasi Sarwan.
Setelah Bapaknya bersepeda di jalan raya, Warti dan Sarwan berangkat sekolah jalan kaki.
*
Lotere, undian angka, togel
Pak Doelah sering mendapatkan nomer SDSB 8. Ramalannya kerap jitu. Dua bulan lalu dia sudah tidak membeli nomor lagi karena permintaan Warti. Tetapi kebiasaannya kambuh lagi setelah ada model baru.
Sebenarnya Sarwan juga tidak begitu suka dengan pekerjaan sampingan Bapaknya. Hanya saja ia selalu diam.
pun ketika setiap sore Sarwan memergoki bapaknya mengendap - endap menuju kuburan dekat rumah menuju cukup hijau. Dikenal sebagai cikal bakal. Dengan mengendap pula diikutinya dari belakang. Kuburan itu msih rimbun dengan Pohon Duwet yang besar. Sarwan berpikir, jangan - jangan merupakan salah satu syaratnya. Disamping pedoman dasar yang telah dibelinya dan tafsir mimpi ( sanepan, simbolisasi ).
Pak Doelah juga hapal betul Mikrologi Jawa. Anak dan bapak itu jarang sekali bercakap - cakap kecuali masalah Budaya Jawa.
Sebuah gubug pada hamparan sawah yang luas menghijau dan lekas menguning. Kelebihan beban, angin - angin menunduk. Terlihat orang - orngan sawah berjumlah 4. Ada yang aneh, Bulan gentayangan seperti balon raksasa melayang diantara sela Pohon Kelapa. Sarwan berusaha menangkapnya, sementara Ibunya di halaman rumah menanam Kembang Cocor Bebek. Setiap lembar daunnya menumbuhkan tunas - tunas baru.
4 orang – orangan sawah itu berusaha mengusir burung - burung yang lekas terbang. Gerakan dituntun angin. Ringan seperti balon - balon. Sarwan heran melihat Warti jongkok di kali.
Jongkok disitu diam. Sarwan memperhatikan dari balik gerumbulan semak yang lumayan lebat. Tangan kasar itu mulai mencoret - coret di tanah berdebu dekat cungkup itu. Tak jelas tetapi ia tidak berani mendekat.
“ Yen, Yenthe, ngadeheg dhewe Yen, yenthe
Ngadeg dhewe yen, yenthe ngadeg dewe yen,
Yenthe ngadheg dhewe yen …” yang dapat didengar Sarwan
hanya suara itu.
Benar sekali kerap buku pelajannya dan adiknya tidak ada di rak ataupun tas. Rupanya bapak mencoret - coret untuk meramal. Bahkan sering kehilangan Bollpoint juga. Angka - angka, huruf - huruf itu ?!
Diiringi kepalanya yang terus mengalun jarinya terus mencoret - coret di tanah.
Pikir sarwan ; berjudi di bumi Tuhan yang mati. Cikal bakal kematiannya, angka - angka keberuntungan. Modal tetap; tenaga kerja dan tanah. Mengadu angka dan angka, huruf per hurufnya. Satu kesempatan, Tuhan terletak pada satu bilangan. Tak mau berjudi di bumi Tuhan yang telah mati. Senja, menggarisi nasib pada angka - angka, di tanah yang dibentuk cikal bakalnya. Perjudian, keberuntungan, probabilitas dan susunan pasti telah dimulai.
Kemudian sebuah gubug pada hamparan sawah yang luas menghijau dan lekas menguning. Kelebihan beban, angin - angin menunduk.
*
Pak Doelah sering mendapat nomor, lumayan walaupun jumlahnya tidak terlalu besar. Karena hanya pasang kecil - kecilan. Pernah ia mendapat hadiah uang dari nomor tersebut. Kalau dirata - rata cukup untuk makan seminggu sekeluarga. Jika mendapat nomor, kebiasaan Pak Doelah tidak masuk kerja 2-3 hari. Sekalian istirahat, kerja dibangunan adalah kerja berat. Rezeki sudah ada yang ngatur katanya.
Sarwan dan Warti sebenarnya tidak setuju. .Sesekali melarang bapaknya. Namun kesukan Warti menonton Telenovela Maria Marcedes Si Gadis Penjual Lotere.
“ Kau tahu kang, kabar terbaru Pak Doelah ?! “
“ Apalagi ?! “
“ Ia ditabrak ! “
“ Benarkah, jangan becanda kau ! “
“ Ditabrak ketika mau mangambil hadiah nomernya ?! “
“ Jangan becanda kau, Pak Doelah itu Panutan kita meramal
nomor ! “
“ Kata Surip begitu kang “ seorang menimpali.
“ Mana Surip ?! “
Sarno mampir di warung itu, duduk sambil klempas - klempus. Sesekali seperti menyungging senyuman mendengarkan percakapan mereka.
Pak doelah korban tabrak lari. Ketika ia akan menukarkan hadiah yang lumayan besar. Pikirnya cukup untuk hadiah terindah untuk keluarga, khususnya kedua anaknya. Sarwan lulus SMP, Warti minta dibelikan sepeda .
“ Aku tak yakin “
“ Naas betul nasibnya “
Kita kehilangan panutan meramal “
Hus ! “
Warung kopi semakin ramai. Pak Sarno mendengarkan dengan seksama.
*
Suatu sore Sarwan menuju kuburan dekat rumahnya. Duduk bersimpuh pada sebuah makam dengan kaki telanjang.
“ Pak, aku berhasil. Lihatlah Pak, anakmu berhasil “.
“ Sebentar Pak “.
Berbalik menuju gerumbulan semak yang biasa di gunakannya bersembunyi mengawasi Bapaknya, lalu keluar lagi dengan menuntun sebuah Sepeda Gazelle baru. Distandarkan didekat gundukan baru.
“ Tenaglah Pak, ini sepeda baru untuk Bapak, aku tahu Bapak ingin membelikan sepeda baru untukku dan Dik Warti. Aku sudah memesan sepeda baru untuk Dik Warti di toko kemarin sore.
Sekarang istirahatlah dengan tenang, biar aku,…”
Terdiam, ada yang coba ditahan.
“ A - ku….”
Menarik napas panjang, menghembuskan berulang – ulang. Pohon Duwet semakin membesar, jatuh satu per satu bijinya yang terlalu masak, daun - daun yang menguning turun pelan.
“ A- ku jan- ji, aku janji Pak, akan membiayai sekolah Dik Warti.”
“ Sepeda yang baru kupesan, akan mengantarkan Dik Warti menjadi sarjana wanita pertama di dusun kita. Ini janji anakmu, Sarwan ! “
“ Pak, kami juga akan membuat kolam disawah dan memelihara ikan seperti keinginan Bapak. Ibu memberitaukan itu padaku.”
“ Kami Bangga padamu, Bapakku “.
Menarik napas panjang.
“ Yen, yenthe ngadheg dhewe yen, yenthe ngadheg dhewe yen, yenthe ngadheg dhewe yen,.Yenthe ngadheg dhewe yen ….”.
Kepalanya bergoyang sedang telunjuk kirinya meliuk menari - nari. Sarwan masih duduk bersimpuh. Tanpa disadarinya Warti mengawasinya dari jarak agak jauh.

**

Jogja, 2002 ( Versi II )

Catatan Akhir " Doelah Buntut "
___________________
  1. Bahasa Jawa : Ekor, julukan yang diberikan oleh warga kepada Pak Doelah karena mahir meramal nomor. Contoh : 8707, 2 digit awal - kepala, 2 digit akhir - Ekor ( buntut ).
  2. Pulang Kerja ( Bahasa Buruh Bangunan di Jogja )
  3. Person ( Inggris : orang, seorang ). Buruh bangunan yang bekerja ( biasanya membuat rumah ) pada seseorang ( yang punya rumah ) tetapi bukan proyek besar.
  4. Babahe : juragan Cina, sudah menetap dan beranak - pinak di Indonesia
  5. Laut ( idem point 2 )
  6. Prei ( Bahasa Jawa, libur ).
  7. Bahasa Jawa, “mengapa ?! “kenapa ?! ‘
  8. SDSB ( Sumbangan Dana Sosial Berhadiah ), Loterai nomer, yang marak tahun 80-90 an, togel, Totor dll.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.