Social Icons

Senin, 13 Mei 2013

Anjing

Anjing dan Pandawa, Swargarohana Parwa
Pandawa, Drupadi dan Anjing
Seorang gadis kecil kelas 3 Sekolah Dasar disebuah dusun terpencil, berbatu, sedikit berbukit, rimbun, dekat Makam Sewu. Tiga tahun lalu Program Listrik Masuk Desa sudah bisa dinikmati masyarakat. Gadis kecil yang selalu riang. Bermain dan belajar. Sebut saja namanya Pancali, karena suka memelihara Anjing. Memang seperti itu, tak perlu dipertanyakan lagi.
Sebagai anak yang dilahirkan dari kultur Jawa dan Islam, Pancali mengetahui beberapa cerita tentang Anjing.
Anjing yang setia menemani Pandawa dan Drupadi menempuh perjalanan pendakian Himalaya1, Anjing dalam kisah Ashabul Kahfi2, juga ketika ia melintasi Pasar Kabupaten melihat kaos bergambar Scooby Doo. Bahkan ia belum bisa mengeja, melafadzkan “ Scooby Doo “ dengan tepat. Setiap kali ia melewati Pasar Kabupaten sepulang sekolah, Pancali hanya diam menatap kaos.
“ Mengapa kau memelihara Anjing ?! “
Pertanyaan yang terus mengiang, pertanyaan dari temannya yang sedikit bernada mengejek. Namanya juga kanak – kanak. Dalam Islam, Anjing merupakan sesuatu yang najis.
Menurut sejarah, nenek moyang Anjing adalah Srigala. Srigala dengan moncong mulut yang lebih panjang, tubuh ramping tak terlalu besar, dan pandai memanjat pohon.
Keluarga Pancali memelihara sepasang Anjing di rumah. Si Jantan mempunyai kemampuan khusus. Mampu mengendus teroris dan orang yang berniat jahat. Si Betina lain lagi. Kakak perempuannya Pancali menikah gara – gara Anjing Betina tersebut. Seekor Anjing yang memiliki kebiasaan unik. Selalu menyembunyikan sandal, sepatu ataupun alas kaki orang yang bertamu ke rumah itu. Yang paling sering disembunyikan adalah alas kaki laki – laki, tidak tentu apakah orang asing, keluarga ataupun tetangga dekat.
“ Aku adalah Anjing dalam sudut pandang Anjing “
Begitu kira – kira insting Anjing Betina.
Suatu malam Minggu, teman lelaki kakak perempuannya Pancali bertandang. Mereka bercakap mesra di beranda depan. Beranda kecil beratap seng. Si Jantan sudah hapal bau lelaki itu.
“ Kapan kau akan melamarku, mas ?! “
Hening. Malam di dusun terpencil.
“ Ibu selalu bertanya keseriusan hubungan kita “
Tak ada sahutan. Lelaki itu menyulut rokok. Kakaknya Pancali masih menunggu reaksinya.
Memang keduanya sudah cukup umur, apalagi yang lelaki sudah bekerja. Bekerja sebagai buruh bangunan di kota. Yang perempuan sudah lulus Sekolah Menengah Atas. Kebiasaan masyarakat setempat, menikahkan anak perempuannya setelah lulus Sekolah Menengah Atas. Agar dipandang bahwa anak perempuannya laku, dan tidak menjadi perawan kasep. Sampai sekarang pandangan seperti itu masih lekat di batin masyarakat dusun.
Jika seorang lelaki berkunjung ke rumah seorang perempuan apalagi malam, lebih dari tiga kali, pasti langsung ditanyakan oleh orang tua gadis tersebut tentang hubungan mereka. Jika akan menjalin hubungan serius, lekas untuk melamarnya jika hanya ingin bermain – main lebih baik putuskan hubungan dan tak perlu lagi berkunjung ke rumah tanpa alasan yang jelas.
Begitulah peraturan tak tertulis turun – temurun di dusun tersebut.
“ Mas “ seolah meminta penegasan.
Sesekali kedua orang tua si gadis mendengarkan percakapan mereka tanpa sengaja.
“ Sudahlah bu, biarkan mereka dulu “
“ Tapi pak, “ katanya tertahan.
“ Sstt,... “
Di dapur gelotekan sendok dan gelas semakin keras. Entah disengaja atau tidak, Pancali terlalu keras mengaduk minuman teh. Ia tak tahu persis, apa arti cinta antara seorang lelaki dengan wanita. Yang diketahuinya hanya rasa sayang kepada binatang kesayangannya. Si Jantan dan Betina bukan hanya sekedar teman bermain, penjaga setia, tapi bahkan sudah seperti sahabat dekat.
“ Mengapa kau memelihara Anjing ?! “
Ledekan lebih tepatnya dari teman – temannya sudah tak dihiraukan.
Malam merayap pelan, semakin pelan dalam pikiran lelaki itu.

Sepasang Anjing itu begitu setia dengan tuan kecilnya. Sering menemani Pancali ketika nonton tv. Tampaknya sangat menikmati film Super Dog atau Naruto pas Kakashi mengeluarkan Jurus Kuchiyose Anjing Ninja. Hubungan yang terjalin akibat ikatan kontrak antara manusia dan hewan. Hubungan Simbiosis Mutualisme.
“ Aku adalah Anjing dalam sudut pandang Anjing “
Begitu kira – kira insting Anjing Betina.
Ketiganya pun selalu pergi ke sekolah bersama. Mengantar dan menjemput Pancali. Kadangkala keduanya setia menunggui di depan pintu gerbang sekolahan, persis pengganti Gopala.
Anjing pun memiliki sifat indah yang justru jarang dimiliki olah manusia – manusia beradab. Anjing itu gemar mengosongkan perut, sedikit tidur pada saat malam mendera, tak pernah hengkang dari pintu sang pemilik, zuhud dan bersyukur sekalipun hidup ditempat yang paling hina.
Anjing juga tahan lapar, tak pernah mendendam kepada sang pemilik, rela menyingkir ke tempat lain jika medan kehidupannya direbut makhluk lain, menyenagkan orang yang memberi makan dan kemanapun pergi pantang membawa bekal. Ia benar – benar memasrahkan kehidupannya kepada Allah3.
Sebenarnya Si jantan sudah banyak dilirik orang. Sejak peristiwa yang menghebohkan beberapa tahun lalu. Si Jantan berhasil mengendus sekawanan teroris yang bersembunyi di Pajangan. Akhirnya gerombolan teroris bisa dibekuk.
Anjing itu dihargai tinggi, tetapi Pancali begitu menyayanginya.

Suatu siang yang panas, suara RX King memasuki pekarangan rumah. Deru mesin dan gonggongan berpadu. Dua orang mendekati rumah. Karena sudah ketahuan, bapaknya Pancali sudah tidak bisa lagi bersembunyi. Ia kenal betul kedua lelaki itu. Lebih – lebih yang kekar. Sambil menenagkan Anjing dan mengikatnya pada sebuah pohon di depan rumah, ia mempersilakan tamunya.
“ Sebentar, aku buatkan minuman “
“ Tak usah repot – repot, disini saja “
Lelaki kekar itu mengeluarkan sesuatu dari balik jacket kulit hitamnya. Diletakkan di meja, persis dihadapan bapaknya Pancali. Keterkejutan mulai menggerogoti tiba – tiba.
“ Aku sudah menunggu lama “
“ I-i ya, aku tahu tapi “
“ Tak ada tapi ! “
Melirik kearah 2 ekor Anjing yang diikat pada pohon. Masih terus menyalak tak henti – henti. Dari jarak 300 meter menjelang rumah, kakanya Pancali melihat semua kejadian itu sepulang dari Pasar Kabupaten membantu ibunya berjualan.
“ Hari ini, aku tunggu ! “
Bapaknya Pancali semakin bergetar, bingung, keringat dingn menetes. Atap seng membuat semakin panas. Membayangkan Pancali, membuka Warung Sengsu4. Istrinya akan membantunya dan tak perlu lagi jualan di pasar. Pasti ia dapat memenuhi keinginan kedua lelaki itu dan membayar hutangnya.
Menjualnya ?!, membuka Warung Sengsu ?!.
Pasti laris karena Anjing terkenal, atau banyak yang akan kehilangan, ah katanya Anjing berjasa. Siapa yang bisa membantunya kali ini ?!.
Kabar terbaru yang didengarnya mengatakan bahwa para pejabat dan menteri di negeri nin menggemari Sengsu. Daging Anjing selain enak juga berkhasiat. Terbukti menyembuhkan penyakit kulit ( Exim ).
Ketika SD kelas 1, Pancali mengidap Exim basah yang menahun. Tak satu pun obat yang bisa menyembuhkannya dengan tuntas. Orang – orang tua di dusun menyarankan untuk makan Sengsu sebagai obat. Setelah dikonsumsi, daging Anjing berefek panas di tubuh. Luka – luka Exim basah di kaki Pancali dengan cepat mengering. Sampai sekarang penyakit itu tak pernah kambuh. Mungkin hal itu juga menjadi salah satu mengapa Pancali menyayangi Anjing.
Kakanya Pancali memepercepat langkah menuju rumah.
Mumpung tak perlu modal banyak, tinggal sembelih. Setelah itu bisa menghutang untuk modal tambahan lagi. Menyembelih 2 ekor Anjing cukup untuk sehari.
A-su !5 “ batinya merintih.
Tapi Pancali, sebagai orang tua ia terlalu menyayanginya.
Tidak, Pandawa dan Drupadi bukan mati satu per satu dalam pendakian spiritualnya ke Himalaya. Mereka mati setelah mengeluarkan Anjing dari tubuh manusianya masing – masing. Ya, Anjing – anjing itu.
Tetapi tidak, mereka bukanya mati melainkan hanya tertidur ditunggui anjing – Anjing itu dalam kesetiaan.
A-su !, mengapa aku harus berurusan dangan mereka. Mengapa harus terjebak dalam hutang yang beranak - pinak ?! “
“ Siapa mau menolong kami, pemerintah ?!, apa urusannya ?! “
“ Pancali ?! “
“ Cepat ! “ sambil menggebrak meja.
Dengan cepat mengambil benda diatas meja dan mengarahkannya ke bapaknya Pancali. Seketika lamunannya buyar. Yang didapatnya hanya 2 ekor Anjing.
Kakanya Pancali semakin was – was.

Lama Pancali menunggu sepasang Anjing didepan gerbang sekolah. Tak seperti biasanya. Padahal ia hanya ingin memberitahukan lebih awal kepada sahabatnya itu. Besok Minggu, kakanya ingin mengajak Pancali dan kedua sahabatnya piknik ke Bonbin Gembira Loka. Kakaknya juga berjanji akan membelikan kaos Scooby Doo di Pasar kabupaten.
“ Siapa nama Anjingmu ?! “ seorang teman yang sedari tadi memperhatikan Pancali.
“ Mengapa kau memelihara Anjing ?! “ gadis berkuncir menimpali.
Pancali hapal betul bau kedua Anjingnya.


Bantul, ditulis kembali 20 April 2013.


Catatan Akhir “ Anjing “

1 Termuat dalam Swargarohana Parwa, kitab ke-18 bagian akhir dari Mahabharata. Mengisahkan perjalanan ruh yang masuk sorga.
Menurut versi Jawa Kuno disebut kitab Asta Dasa Parwa ( Kitab 18 bagian )

2 Kisah tentang Ashabul Kahfi termuat dalam QS. Al Kahfi ( 18 ) : 9-26 ( Qur'an Surat Al Kahfi, Makkiyah surat ke-18, 110 ayat ).

3 Dikutip dari Triwikromo, Triyanto, 2003. Sayap Anjing. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, halaman 36.
Dari sumber Buku Syekh Muhammad Nawawi Al Jawi berjudul Syahru Kaasyifatus Sajaa 'Alaa Safiinatin Najaa fii Ushuulid Diini wal Fiqhi, di Indonesiakan menjadi 10 Sifat Keteladanan Anjing oleh Drs. Nipan Abdul Hakim.
Dalam sumber yang lain pada buku yang sama ( Syahru Kaasyifatus Sajaa 'Alaa Safiinatin Najaa fii Ushuulid Diini wal Fiqhi ) karangan Imam Nawawi Al Bantani halaman 42, sub pembahasan hikmah.
( “ Belajar 10 Keteladanan ( Nilai Kesalehan ) Dari Seekor Anjing “, sumber : http://baladadunia.blogspot.com ).

4 Sengsu : Tongseng Asu, Tongseng dari daging Anjing.
Tongseng adalah masakan yang terbuat dari daging dicampur dengan kuah gulai, kecap, Kubis.

5 Asu ( bahasa Indonesia : Anjing, umpatan kasar dalam bahasa dan kultur Jawa ).
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.