Social Icons

Rabu, 30 Januari 2013

Keris


Kami berdua duduk di beranda depan suatu senja. Angin semilir, sesekali membawa warna pada langit. Belum terlalu sore memang, asyik bercakap sesekali kusentuh perutnya.
“ Dik, sudah punya nama untuk anak kita?! “
“ Siapapun namanya yang penting ada unsur Islami “.
“ Bukankah kita Jawa ?! “
“ Ya “
“ Mas “, Suaranya lirih.
Mendekatiku, merebahkan kepalanya dibahuku. Kubelai rambutnya, diusapnya perutnya. Angin sepoi tadi siang membawa panas.
“ Kau ingin lelaki atau perempuan, mas ?! “
“ Super Twins.“
“ Super Twins ?! “
Memang pasangan muda itu belum memeriksakan kandungan. Tak perlu USG biar untuk kejutan dan tebak - tebakan.
“ Kata Bapakku, lelaki atau Perempuan tergantung saat berhubungan “
“ Maksudnya ?!
“ Tergantung kadar asam, basa dalam tubuh “.
Aku masih tak mengerti “
Dulu aku juga begitu “.
Beberapa anak kecil melintas dengan Sepeda Mini. Ada yang dikuncir, dikepang 2 dengan pita warna-warni. Pipinya montok - montok, kulit bersih, ceria, pokoknya anak - anak yang lucu.
Kami mengawasi tingkah polahnya sambil tersenyum.
“ Lelaki atau perempuan bisa ditentukan sebelumnya, tergantung fore play yang cukup, ejakulasi yang tak terlalu cepat atau ditahan dan orgasme berulang - ulang.”
“ After play gimana mas dokter ?! “
Aku tersenyum, kurasa istriku sudah mengerti jawabanku.
Anak - anak kecil itu semakin menggemaskan. Bermain riang. Anak siapa mereka, yang pasti orang tuanya akan bahagia. Senja itu dasternya begitu tipis dan lembut.
*
Mandi di sumur dengan tutup seadanya, maklum belum membersihkan puing - puing reruntuhan bangunan. Pengantin baru hawanya malas – malasan. Tetapi suaminya lebih sibuk mengurusi desa. Mencarikan bantuan, menggerakkan masyarakat dan lobby kesana kemari.
Kuperhatikan setiap inchi tubuhku. Rambut panjang hitam berkilauan, wajah oval, mata yang dalam jernih menyimpan kenangan, hidung sedang ( tak mancung, tak pesek ).
Telinga yang begitu tipis, sudah tak perawan. Karena sudah melahirkan Karna disebelah kanan, terdengar tangisnya di sebelah kiri. Tandanya ada anting - anting di cuping telinganya.
Bibirnya mungil, merah, basah mengembang senyuman berderet gigi putihnya. Gingsul menambah manisnya.
Dagu, pipi dan leher. Dibungkus dalam satu roman muka innocent, sendu tapi bibirnya hangat.
Dihitung dengan rumus Phytagoras, hasilnya mirip Isabel Adjani.
Meletakkan kaca kecilnya lalu mengguyur tubuhnya. Lama ia mengamati payudaranya, teringat perkataan nenek.
Hari itu belum sore benar, orang - orang masih bekerja membersihkan puing bekas reruntuhan. Beberapa orang melintas membawa angkong. Suaminya membersihkan sekitar rumah dengan bapak. Beberapa hari ini dia tidak terlalu sibuk mengurusi bantuan.
Sesekali menatap istrinya yang sedang berjongkok mandi dengan tutup seadanya.
Ia meraba putingnya satu per satu.
“ Aku hamil “ Gumamnya.
Semacam perasaan yang membuat tenang. Begitu tenang, memuaskan, mengasyikkan sekaligus menggelikan. Campur aduk dalam sebuah ember ; bayangan dan kenyataan.
Kami masuk rumah, sebuah rumah Limasan yang hampir jadi. Suara adzan terdengar.
*
Ketika perut itu dipanggil Salzabilla, ia menendang kearah kiri. Panji, menendang kekanan. Haim Prasasti, Kensiwi, Ahmad Al-chudori semakin keras menendang - nendang perutnya ibunya.
“ Suka bola paling mas “
Kami sering membacakan surat Yusuf, Maryam, An-Nissa’ di malam hari dengan penerangan seadanya, walaupun aliran listrik sudah kembali berfungsi normal. Juga mendengarkan music ;

Air yang diberi musik, kristal air, hikmah air
Emoto, Masaru.The True Power of Water, Hikmah Air
Dalam Olah Jiwa. Bandung; MQ Publishing, 2006. Hal 174
Suasana histeria gempa masih kental.
Aku kadang bermimpi melihat 11 bulan, bintang dan Matahari semuanya masuk dalam perut istriku.
*
Hubungan silaturohmi keluarga besar kami terjalin harmonis. Sering melakukan pertemuan. Kadang spontan saja dengan tempat yang berpindah - pindah, sekedar ngobrol, ngerokok ataupun minum teh bersama. Ngobrol sambil mendengarkan kicauan Perkutut.
Kami senang mendengarkan cerita dari nenek istriku.
Walaupun sudah tua, badannya masih sehat. Pendengaran, penglihatan masih bagus walaupun harus disokong kaca mata. Bicaranya lancar dan daya ingatnya sesar. Masih sering puasa Senin Kamis. Keluarga besar kami senang menantikan kelahiran cucu mereka.
Nenek bercerita tentang anak yang masih di perut seorang Ibu. Selalu bersin lalu diberi nama Alatas, Alatas, Al-athos. Terkadang kami tidak mengerti apa yang di ceritakan nenek. Kami sangat menghormatinya.
*
Gempa susulan masih sering terjadi. Warga setempat menyebutnya gempa lokal. Membuat gempa sendiri ketika aku dan istriku masih di tenda bantuan PMI.
Masyarakat masih banyak yang trauma dengan suara dan getaran. Bunyi “ jlegur ” kerap terdengar di tempuran Kali Opak - Oya. Tepatnya di Dusun Sungapan, Imogiri. Pusat Episentrum gempa.
Sudah banyak donator, NGO, LSM dan pemerintah yang telah memberikan bantuan. Banyak masyarakat kagum dan terkesan dengan kinerja PMI dan Bulan Sabit Merah dalam menangani bencana, komplet dan kontinyu. Dahulu hanya menganggap PMI sebatas donor darah saja. Dari bantuan medis pada awal terjadi gempa dengan membuka RS lapangan di lapangan Dwi Windu Bantul dekat Markas PMI. Pemerintah masih lumpuh waktu itu.
Dilanjutkan Program Fisio Therapy gratis dengan layanan antar jemput. Membuka dapur umum untuk masyarakat. Bantuan - bantuan Tanggap Darurat ( Food Parcel, Family Kits, Hygens Kits, terpal, tenda berangka, Tools Kits, School Kits ).
Setelah tanggap darurat selesai, dilanjutkan program Early Recovery. Hunian sementara ( Rumah Limasan bambu tahan gempa ) dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Membentuk Tim panitia warga, bantuan dicairkan melalui rekening panitia. System ini dilakukan jauh sebelum rekonstruksi pemerintah. Recovery Ekonomi, PSP ( Phsyco Social Support Programme ), WATSAN ( Water and Sanitation ), juga ICB ( Integrated Community Base ) dengan memperdayakan masyarakat dan ICBRR ( Integrated Community Base Risk Reduction ).
Semua bantuan dari PMI dan Bulan Sabit Merah bersifat hibah. PMI adalah Lembaga Non Govermental yang bertujuan semata - mata sosial dan kemanusiaan.
*
“ Mas, aku ingin minum air Kelapa Gading “
Bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih “.
“ Ada - ada saja “ bisikku dalam hati.
“ Dicampur dengan Bit Gula atau Gula Aren, Gula Kelapa “
“ Baiklah “.
Kucari Kelapa Gading itu dan harus kupetik dari pohonnya langsung. Kugambari sebisaku pada kulitnya, wayang Kamajaya dan Dewi Ratih. Juga kugoreskan dengan huruf arab “Ana ukhibukha”.
Semoga ia menerimanya”.
Kubawa sejanjang Kelapa Gading yang telah kugambari serta 3 buah cikal Kelapa Gading. Sedikit lecet – lecet dikaki dan tangan.
Malam itu bulan cerah, Malam Selasa Kliwon. Karena hitunganku setiap jam 18.00 hari sudah berganti.
Di pelataran pekarangan telah tertata Kembang Setaman, Kelapa Gading ( kuning langsat, ah! Ratih ! ), beberapa Jeruk Nipis dan deterjen juga Lerak sudah disiapkan bapak. Bapak mengeluarkan benda dari peti kayu berukir ( Keris lurus dan Luk), sebuah tombak dan Payung Mutho. Tanpa berkata kita melakukan tugas masing- masing.
“ Bismillah, niat kami melestarikan Budaya Jawa menghormati, menghargai rasa, cipta, karsa para leluhur yang berwujud benda ; ……..( bapak menyebutkan satu persatu lengkap dengan namanya ) .
Kanthi wilujeng “.
“ Bismillah, niat ingsun nyebar gondo arum”.
Keris, Panji, Luk Keris
Panji dan Keris pinjaman
Kuhunus sebilah keris berluk lalu kutelanjangi keris pada udara malam yang terbuka. Bulan dan bintang transparan. Kupandangi bilahnya yang telanjang kumandikan dalam keadaan bugil dengan air kembang.
Bapak juga sudah mencuci pusaka - pusaka itu dengan deterjen dan lerak. Menghilangkan minyak yang melekatinya. Terasa berat. Jatuh tetes demi tetes dari bilah yang telanjang. Mungkin percik Meteorik.
Aku juga sudah mulai menggosok dengan Jeruk Nipis, menghilangkan karat dan kotoran. Menyebar pamor dimalam itu. . Bulan cerah, malam berbintang.
Melebar gelombang – gelombang elektro magnetic mencipta medan gaya magnetic bumi. Medan gaya itu menyelimuti setiap gerak. Kuusap dengan pinggiran jari.
Bapak mengoleskan campuran beningan air Jeruk Nipis dan Arsenicum. Gelombang elektro magnetic menjalar pada bilah keris. Tanganku dituntun sempurna, meliuk dan menari, meliuk kekiri ( Salzabila ?! ), kekanan ( Panji ?! ), kekanan kekiri ( Salam ), menari ketika satu persatu nama disebutkan.
Bapak menoleh sebentar kearahku tanpa berkata. Pamornya memutih , Besi berubah hitam dan kandungan Baja keabu - abuan.
Keris itu tegak berdiri tanpa ditopang warangka, tanpa ditancapkan dengan ujung dibawah. Keseimbangan Phythagoran, keseimbangan wajah istriku.
Semua campur aduk dalam ember ; Bayangan dan Kenyataan.
Keris yang kuhunus itu berdapur sengkelat, “ Denawa Catur Mlebu Jagad ”.
Cepat Sarungkan ” Kata bapak.
Kumasukkan pusakaku ke kamar Istriku.

Jogja, 28 September 2007.                             
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.