Social Icons

Kamis, 15 November 2012

Singkong


Sudahkah anda membaca Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong ?!. Biografi salah satu pengusaha yang sukses di Indonesia, yang ( bahkan ) promosi bukunya begitu gencar di Media Massa. Tetapi kali ini bukan bermaksud untuk meresensi buku tersebut. Hanya saja masih menyangkut Singkong.

...  " Orang bilang tanah kita tanah sorga,... " masih ingat Lagu Koes  Plus  ini ?!.
Masih segar dalam ingatanku ketika kelas 5 SD, guruku bercerita tentang Mukibat. Petani sederhana dari Desa Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur yang berhasil meng-okulasi ( peyambungan ) batang Ketela Pohon biasa ( Singkong ) dengan  Ketela Karet. Batang Ketela Pohon biasa dibawah sedang batang Ketela Karet diatas.
" Jangan kebalik " pesan guruku.

Ketela Mukibat, Bahan Pangan Lokal, Gaplek, Ketela Varietas Baru
Ketela Mukibat

Ketela Mukibat varietas baru dari Dunia per-Cassava-an.
Ketela Pohon ( Singkong, Ubi, Cassava, Manihot Esculenta ) berasal dari Amerika Latin. Menyebar luas ke dunia, khususnya negara - negara  beriklim tropika.
Maka Lagu Koes Plus yang kurang lebih berlanjut dengan tongkat ditanam bisa jadi makanan ( untuk menyebut Ketela Pohon ), sebenarnya adalah tumbuhan yang berasal dari luar negeri. 

Sejalan dengan pikiranku ( tentang Cassava ), ternyata kakak sepupuku mencoba membuat mesin untuk produksi untuk mengolah Ketela. Sistem kerjanya manual berdasar putaran dan rolling mata pisau. Modifikasi dari sepeda kayuh. Kayuh dan irisan. Memudahkan mengiris Ubi untuk dijadikan Criping, Keripik Singkong.


... " Gethuk asale soko Telo, tombo ngantuk,... "
Masih tentang Ubi, Singkong atawa Ketela. " Gethuk " diartikan dengan Sistem Otak - Athik Gathuk yang khas Jawa, dapat diartikan  Digeget mathuk ( Dimakan cocok ). Saya masih ingat ketika kecil di dusunku, cara membuat Gethuk Lindri. Masih sederhana sekali, sama dengan teknik putaran manual. Gethuk lebih enak dimakan dengan parutan Kelapa. 
Ketela mengalami zaman keemasannya, ketika bahan mentah itu dikemas, di pasarkan secara modern. Beberapa tahun yang lalu, di Jogja sedang booming - boomingnya " Tela-Tela ". Bahan dasarnya Ubi yang digoreng ( Balok ) diiris kecil - kecil, garing. Aneka rasa ditambah agar renyah dalam kemasan modern. Tetapi entah kenapa ketika sistemnya diubah menjadi  Frenchise, omzetnya malah menurun. Mungkin pengelolanya kurang memahami PP. No. 42 / 2007 tentang Frenchise ( Waralaba ). Atau bisa juga karena resepnya yang terlalu sederhana dan mudah ditiru. Kekhasannya hilang secara cepat.

Saya begitu merindukan suasana dusun yang sederhana, tiap pagi makan Singkong rebus + ngopi bersama pacar atau istri. Makan Ubi Rebus dengan Santen Kanil kala COFFE BREAK ; Hidup Hanya Mampir Ngopi, hmm,... Tampaknya Ubi menjadi solusi sehari tanpa nasi.


Bantul, Agustus 2011.
.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.