Social Icons

Jumat, 01 Agustus 2014

Mutu Sinetron Religi Di Negeri Kita

Mega Carefansa, Serial Ramadhan; Sinetron Religi Indonesia
Kisah 9 Wali---Lara / Rara Santang, Ibu Sunan Gunung Jati (Mega Carefansa)


Shiwa, Sati, Mohit Raina, Mouni Roy, Serial India, Purana
Mahadewa---Shiwa (Mohit Raina) dan Sati (Mouni Roy)

Fenomena "born again moeslim" sedang marak, apalagi Ramadhan tahun ini. Fenomena dan realitas seperti ini mempunyai arti ganda ; menggembirakan sekaligus mengkuatirkan.
Kondisi ini merambah hingga dunia pertelevisian (bahasanya capres : pertelevisian, pertelemisian) dengan maraknya tayangan bernuansa religi (Islam), salah satunya sinema elektronik (sinetron).
Tetapi ketika saya menonton sinetron yang berbau (maklum mulutnya lagi puasa ) religi, yang seharusnya tontonan tersebut bisa menjadi salah satu alternatif tuntunan tetapi malah banyak terjatuh sekadar hiburan. Kurang kaya perspektif Islam yang rahmatan lil 'alamin, kemajemukan Indonesia tidak terekspos dan tergali, kurang menyentuh kehidupan riil masyarakat mayoritas Islam Indonesia yang sesungguhnya tertindas, kurang mampu menghadirkan tantangan agama (Islam) dalam era modern, tantangan serta jawaban, masih seabrek lainnya yang belum dieksplor secara maksimal dari segi cerita.
Sebagai pemirsa, untuk memperoleh kemajemukan dan penghargaan terhadap pularitas, saya harus menyatukan sendiri mozaik-mozaik itu kala menonton Mahabharata, Mahadewa, Kisah 9 Wali, Para Pencari Tuhan, Jodha Akbar, misalnya. Sebagai perbandingan.
Sisi baiknya, sinetron merupakan produk made in dalam negeri. Khas dengan semangat cintailah produk dalam negeri. Sinetron membanjiri (banjir dalam hal ini belum bisa ditanggulangi) pertelevisian kita menjadi konsumsi publik.
Bagaimana dengan mutunya ?!, kualitas berbanding produksi kejar tayang ?! (Lalu siapa yang mengejar, bisnis industri media, uang, kepuasan pemirsa ?!).
Apalagi jika back ground ceritanya diselipi (tapi harus netral dengan konsep perimbangan suara) tentang kepemimpinan, sistem negara yamg adil. Tinggalkan harapan kosong "Ratu Adil, Satrio Piningat" yang datang tiba-tiba, sekonyong-konyong, mak bedunduk, suddenly itu. Sistem yang harus dibangun. Tetapi dari seseorang, sistem tersebut bisa dibangun. Sebagian orang mempercayainya sebagai "Ratu Adil, Satrio Piningat"
Sinetron Religi seharusnya membuka stimulan bagi para pemirsa untuk berpikir. Sinetron yang bersambung itu menyambungkan antara pikiran dan rasa secara terus-menerus. Apa tantangan agama di era modern ini, di Indonesia yang Pancasilais dan multi kultur, bagaimana merespon tantangan tersebut ?!.
Maaf, jawabannya belum bisa saya temukan di sinetron religi made in Indonesia. Mungkin saya keliru bertanya dan terlalu berharap tentang kualitas sinetron religi ketika idealisme vis a vis kebutuhan pasar.
Pemirsalah yang dikorbankan, mencekokinya dengan konten yang kurang beragam dalam sinetron religi. Kalau sudah begini, masih ada yang berpikir bahwa sinetron religi made in Indonesia layak eksport ?!.

George Soedarsono Esthu


Televisi itu agen kebudayaan. Kebudayaan kapitalis. Para presenter atau artis dalam televisi adalah para pasien kebudayaan. Jaringan TV Rakyat perlu ada, sebagai panggung apresiasi publik. Kita sudah tidak bisa mengharapkan acara yang bermutu dari televisi yang ada. Mbel thut semuanya.

Panji Cybersufi

Yapz, dalam bahasaku mbelgedhes. Jaringan Tv rakyat yang merupakan panggung apresiasi publik, menarik sekali. Sebenarnya pengelolaan tv lokal yang berjejaring secara profesional (manejerial, teknis, termasuk kualitas konten) perlu dikembangkan. Paling tidak tv lokal harus menjadi alternatif pilihan, setelah itu mampu bersaing dengan tv swasta nasional yg sekular kapitalis itu.
Maksud saya tentang tv swasta nasional adalah stasiun tv swasta yang menasional, disiarkan diseluruh Indonesia. Kebanyakan tidak mengindahkan peraturan Sistem Siaran Jaringan (SSJ). Dalam hal ini, hanya Kompas Tv yang memenuhi persyaratan tersebut.
Tentunya sebagai perimbangan, TVRI sebagai media pemerintah mempunyai peran dan tanggung jawab tersebut. Sudah saatnya TVRI melakukan re-branding, re-building, re-inventing, re-freshing, serta "re & ing" yang lain. Program semacam Film Televisi (FTV) yang diproduksi stasiun daerah yang sudah ditayangkan, patut diapresiasi serta ditingkatkan kualitas dan kuantitas. Merubah image TVRI yamg (jadul jaman dulu) serta alat propaganda Orde Baru (penguasa).

Detail dari jejaring tv lokal dengan kompleksitas serta ciri khas lokalitas bisa dimulai dengan ; jejaring tv lokal Jogja-Jateng-Jatim-Jabar-Sumatra-Bali-Sulawesi-Papua. Program pertukaran acara andalan berciri lokalitas antar jejaring tersebut bisa menjadi pilot project. Contoh acara : film dokumenter ekskavasi di sekitar candi di daerah Jogja, Magelang bisa ditayangkan di tv lokal Papua. Sementara dari Papua menawarkan program bertajuk "Makanan Lokal Sebagai Alternatif Ketahanan Pangan Nasional", misalnya. Program pertukaran acara unggulan bertujuan untuk saling memahami kemajemukan Nusantara.
Lalu bagaimana cost production, teknis, dll?!.
Tentang cost production, tentu konsep "butuh" ini perlu dikembangkan. Ekskavasi candi melibatkan beberapa instansi (Dinas Kepurbakalaan, pariwisata, pendidikan kebudayaan, universitas yang memiliki fakultas arkeologi, pemimpin lokal setempat). Mereka butuh publikasi, sementara itu tv lokal bisa mengambil peran itu. Yah semacam turunan program "National Geographic" menjadi "Local Geographic".
Saya pikir dan rasa, program ini lebih low cost, bernilai edukatif ketimbang produksi sinetron dengan kualitas yang disangsikan untuk saat ini.
Jika program jejaring tv lokal ini belum bisa berjalan maksimal, maka Plan B perlu dipikirkan.
TVRI dengan jaringan TVRI daerah-nya akan menyempurnakannya, juga jejaring tv lokal dengan tv swasta. Tetapi perlu diingat adalah prosentase tayangan antara nasional dan lokal. Lokal yang bisa disiarkan relay secara nasional walaupun katakanlah 1/5 jam saja.
Mindset dalam strategi kebudayaan untuk memperkuat identitas kebangsaan akan terbangun melalui media televisi publik.
Meminjam istilahnya Om Soedarsono sendiri, apakah calon presiden mendatang sudah memahami wilayah Nusantara, wawasan Nusantara dan gagasan Nusantara ?!.
Sudilah kiranya Om Soedarsono berbagai pemikiran tentang yang anda sebut sebagai jaringan tv rakyat itu.
by Facebook Comment

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memperkaya wawasan.