Social Icons

Senin, 09 September 2013

Biennale Jogja XII : Perjumpaan Indonesia Dengan Negara – Negara Arab


Interaksi antara Indonesia dengan Negara – negara Arab sudah berlangsung sejak abad ke-7 ketika jalur pelayaran internasional yang ramai melalui Selat Malaka terbentuk. Jalur tersebut menghubungkan kebudayaan – kebudayaan yang berbeda ( antara lain Cina, Sriwijaya dan Bani Ummayah ). Penyebaran Kebudayaan Arab dan Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah persentuhan masyarakat lokal dengan Islam, melalui Kebudayaan Arab pada masa itu, melatari terbentuknya Indonesia – negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia saat ini.
Sekarang, isu – isu hubungan Indonesia dan Negara – negara Arab menjadi semakin penting didiskusikan. Dalam konteks kebudayaan global, perkembangan seni rupa kontemporer di Arab dan Asia Tenggara justru menjadi faktor yang paling menonjol untuk dijadikan sebagai  motif pembangunan hubungan yang lebih erat dan mendalam diantara kedua kawasan tersebut. Kedua kawasan tersebut bukanlah bagian dari wilayah arus utama seni rupa modern yang berpusat di Eropa dan Amerika. Menyusul perubahan – perubahan ekonomi dan politik global, muncul kesadaran baru diantara para pelaku seni wilayah – wilayah non pusat, termasuk Asia Pasifik dan Arab untuk melakukan inisiatif – inisiatif dalam bentuk kegiatan pameran internasional, art fair, dan program – program residensi seniman yang pada akhirnya membentuk topografi baru seni rupa internasional.
Seni rupa kontemporer di Indonesia dan Negara – negara Arab memiliki potensi sebagai suatu kategori baru yang menyela stereotip – misalnya ' Seni Rupa Negara – negara Islam ' – yang selama ini dihasilkan oleh sistem representasi dominan yang berlaku dalam medan seni rupa global.
by Facebook Comment

Fenomena Mudik dan Silaturrohmi Lebaran

 
Dalam perjalanannya untuk mencapai Piramida Mesir, Santiago bocah pengembara itu berjumpa dengan pedagang kristal di Pasar Tangier.
            “ Bapak tidak pernah bermimpi berkelana ? ” tanyanya lugu pada pedagang yang sepanjang harinya hanya menjalani hari – harinya di toko kristalnya. Sebagai Muslim, pedagang itu mengaku punya keinginan sekaligus kewajiban besar untuk pergi ke Mekah, tempat yang digambarkannya pada bocah itu. Jauh lebih bermakna dari Mesir. Itulah sebab, ia tiap hari banting tulang untuk mengumpulkan uang dan rela hidup irit. Kini ia sudah kaya, lalu kenapa pula ia tidak pergi ke Mekah ?.
            “ Justru pikiran tentang Mekah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat mengarungi hari – hari yang sama belaka : menghadapi kristal – kristal bisu di rak dan sanggup makan siang dan malam di warung jelek yang itu – itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tidak punya lagi alasan untuk hidup “, demikian jawaban si pedagang.

by Facebook Comment

Minggu, 08 September 2013

Maizena



“ Nasi Putih terhidang di meja, siapakah penanamnya ?!. Panas terik tak dirasa, hujan rintik tak mengapa, … “
Nyanyian dari TVRI tempoe doeloe selalu terngiang, ketika aku melintasi kampungku.
Terpana. Dahulu ketika negeri ini ditarik garis agraris juga maritim, betapa gemah ripah loh jinawi, kondhang klangkung manis. Entah mengapa setiap orang asing yang masuk ke negeri kami, aku selalu ada semacam keterikatan mungkin juga kedekatan batin. Ikatan yang begitu kuat.
Ruang dan waktu telah berubah. Era industrialisasi ini, aku masih terpaku menatap hamparan sawah. Wong – wongan sawah sibuk menghalau burung demi burung. Suara berterbangan. Terngiang lagi lagu dari TVRI. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, masuk lagi telinga kiri. Begitu seterusnya sampai telinga gatal – gatal. Mungkin Kunti akan melahirkan Karna demi Karna lagi, sementara alam tetap perawan dijagai para dewa.
Pada Ladang Jagung Hibrida bisi 2, kulit Jagungnya disebut Klobot. Lintingan klobot dari tangan – tangan perempuan. Dilekatkan liur Roro Mendut. Lintingan Rokok Klobot. Sejarah cinta Roro Mendut dan Pronocitro. Roro Mendut menjadi ikon Rokok Klobot di masa lalu. Ah, bibirnya !. Sekarang menjelma Sales Promotion Girl produk rokok di era industrialisasi. Perempuan tetap saja menjadi objek.
Rambut pirang Jagung. Mengingatkanku pada Bule Amsterdam. Aku selalu penasaran dengan rambut pirangnya, baunya, pigmentasi dan pori – pori kulitnya, yang besar, renggang juga bibirnya. Ya, bibirnya.
by Facebook Comment

17 Agustus Tahun Anu


Manusia – manusia Jawa gemar beritual berupacara sebab hidup adalah
prosesi upacara. Ku buka kalender besar pada dinding ruang tamu yang
kecil, tak ada benar – benar tak ada angka – angka yang disakralkan itu.
Ku bolak – balik kalender agar waktu luwes terhadap sgala perhitungan,
penambahan, penyusutan. Di ruang ini berharap sejarah bertamu, mereka
mengenakan pakaian kebesaran mereka meneriakkan ; “ merdeka ! “
tapi mereka kebingungan, bayangan celingukan seolah angka – angka
hampa tak pernah menautkan “ merdeka “ itu.
Sejarah memang bertamu tapi terasa compang – camping waktu
waktu yang tambal sulam mengelabuhi angka – angka yang kau anggap
mistis itu.
Sejarah memang bertamu tapi slalu kau diamkan saja. Sibuk melipat -
lipat bayangan. Memang orang sudah pandai berhitung pandai berpartai
politik pandai melebih – lebihkan pandai bercerita pandai berkata ;
merdeka ! “.
“ Merdeka ! “ igauan sejarah
“ Merdeka atau mati ! “ igauan tetangga sebelah
“ Merdeka atau mimpi “
seolah kemerdekaan itu fenomena tindihan erep – erepan.
by Facebook Comment

Open House


Bayang – bayang siapa yang kembali dari kesunyian tunas – tunas meranggas,
berkecambah dalam gelap mereka bercakap
“ Akan ku nyalakan bayang – bayang untukmu “
Rumah sederhana ini masih muat menampung gelap dan terang, pikiran tak waras,
was was. Mampir mapirlah tak usah bawa oleh – oleh. Kita hanya perlu berbincang
tentang hidangan Al Maidah tentang rasa damai dipinggir – pinggir piring gelotekan,
dalam meja hidangan seolah mereka menjelma kanak – kanak lucu. Ya, piring – piring
itu. Saling bersuapan waktu waktu membuat segalanya merabun.
“ Akan ku nyalakan bayang – bayang untukmu “
by Facebook Comment